"Sometimes, the heart remembers moments the mind has long forgotten..."
***
-Flashback On-
"Eh, Rey, Ri. Kalian mau ke mana?" tanya seorang anak perempuan kecil.
"Kita mau main sepeda, kenapa emang?" jawab Reyhan.
"Aku mau ikut dong, tapi aku gak punya sepeda," ujar Raisa murung.
Reyhan dan Fahri diam sejenak.
"Emm... yaudah, kalau gitu ayok. Aku boncengin kamu. Kamu naik di belakang sepeda aku ya!" usul Fahri.
Akhirnya, Raisa menuruti perkataan Fahri dan naik sambil berpegangan pada pundaknya.
Sesampainya di taman, Fahri mulai menjahilinya hingga Raisa terjatuh.
"Aduhh..." ringis Raisa. "Fahri, kamu jahat banget sih!"
Fahri hanya tertawa terbahak-bahak, lalu menghampiri Nichole dan Tirta yang sudah menunggu.
"Kamu gak apa-apa? Sini, aku bantu," ucap Reyhan sembari mengulurkan tangan kanannya.
Raisa menjabat tangannya. "Makasih ya, Rey."
-Flashback Off-
Bel istirahat pun berbunyi. Raisa berjalan ke kantin sendirian karena teman-temannya masih asyik bergosip di kelas. Sesampainya di kantin, aroma bakso panas dan gorengan menyambutnya. Ia memesan semangkuk bakso, lalu mencari tempat duduk yang kosong di dekat jendela. Sinar matahari masuk melalui jendela kaca, membuat meja dan kursi kayu terlihat hangat.
Saat Raisa sedang menikmati bakso, tiba-tiba Reyhan menghampiri. Ia membawa nampan sendiri dan duduk di samping Raisa.
"Eh, Rey. Ada apa?" tanya Raisa, sedikit terkejut tapi tersenyum.
"Gak ada apa-apa kok. Emang gue gak boleh duduk di sini ya?" tanya Reyhan sambil tersenyum canggung.
"Boleh kok, santai aja. Eh, gimana kabar lo? Kayaknya kita rumah deketan tapi gak pernah ngobrol kayak gini ya," jawab Raisa sambil mengaduk baksonya.
"Ah, gue baik kok. Lo sendiri?" Reyhan tersenyum malu. "Haha, iya nih, kira-kira kenapa ya, Sa?"
"Gue juga baik. Gak tau deh haha. Sepulang sekolah kita ngobrol di balkon, yuk!" ajak Raisa, matanya bersinar.
"Balkon mana?" tanya Reyhan kebingungan.
"Balkon rumah kita masing-masing lah... eh maksudnya rumah lo sama gue," kata Raisa sambil tertawa kecil.
"Oke, boleh deh. Tapi ada syarat," jawab Reyhan sambil menatap Raisa penuh arti.
Raisa diam sejenak, bingung. Apa ya syarat yang akan diberikan padanya?
Raisa berpikir sejenak, lalu cibir, "Syarat apaan? Kayak ngelamar kerja aja pake syarat-syaratan segala."
"Yaelah, gue cuman minta lo balik bareng gue. Udah itu doang," jawab Reyhan santai.
Belum sempat Raisa mengiyakan, Fahri datang menghampiri. Ia menepuk bahu Reyhan yang sedang asyik mengobrol dengan Raisa.
"Lo gue cari-cari, ternyata di sini. Ngapain sih ngobrol sama si kunyuk ini!" cibir Fahri.
What? Kunyuk? Dia pikir gue apaan coba! batin Raisa.
"Eh, lo apaan sih, jangan kayak gitu. Dia teman kecil kita loh," bela Reyhan.
"Ngebela nih? Lo suka kan sama si Kunyuk?" tanya Fahri dengan senyum menyerigai.
"Eh, yang ada elo tuh yang suka sama Raisa, ngejek mulu. Taunya lo sendiri yang suka, makan tuh!" balas Reyhan.
"Apaan sih lo? Kok jadi gue sih? Lu kali yang suka, gue mah ogah suka sama cewe kayak dia!" sahut Fahri.
Saat mereka berdua sedang beradu mulut, Naomi dan Milea datang menghampiri.
Naomi meminta tolong pada Raisa untuk membantunya mengerjakan tugas Fisika, sementara Milea menghampiri Fahri untuk menanyakan kabar Nichole.
Ngomong-ngomong, Milea saat itu sedang dekat dengan Nichole, sahabat Fahri dan Reyhan. Ia sering mencari informasi tentang Nichole melalui Fahri, dan Fahri dengan senang hati selalu membantunya.
***
Sepulang sekolah, sesuai dengan persyaratan yang diberikan Reyhan, Raisa pulang bareng dengannya. Sesampai di rumah, Raisa cepat-cepat masuk ke kamarnya, lalu menuju balkon untuk mengobrol dengan Reyhan.
Rumah Raisa dan Reyhan bertetangga, sehingga balkon kamar mereka saling berdekatan. Bahkan jika Raisa mau, ia bisa saja memanjat pagar balkon untuk menyeberang ke kamar Reyhan.
"Eh, lo udah nunggu dari tadi?" tanya Reyhan dari balkon samping kamar Raisa.
"Gak kok, Rey. Eh ngomong-ngomong, lo bener Ketua Osis di sekolah?" sahut Raisa membuka percakapan.
"Iya, kenapa emang? Gak percaya gue jadi Ketua Osis?"
"Hahaha, iya gue nggak nyangka. Jadi lo banyak disukain cewek-cewek dong... direbutin gitu kaya di sinetron-sinetron," cibir Raisa sambil tersenyum nakal.
"Ah, apaan sih lo," Reyhan tersenyum sambil mengalihkan pandangannya.
"Lo punya cewek?" tanya Raisa tiba-tiba.
Sekejap, jantung Reyhan berdegup lebih kencang. Entah kenapa pertanyaan itu terasa seperti simbol tertentu... atau mungkin Reyhan yang terlalu baper saja. Ah, lupakan.
"Enggak... kenapa emang? Mau jadi cewek gue?" jawab Reyhan spontan, nada suaranya ringan tapi jujur.
Ucapan Reyhan membuat Raisa tersipu malu. Bisa-bisanya dia membuat Raisa baper seperti ini.
"Ah apaan sih lo, gue nanya doang. Lagian banyak tuh cewek yang ngincer lo. Lo tinggal pilih aja!" cibir Raisa sambil menahan senyum. "Siapa sih yang gak mau sama lo?"
Reyhan menarik napas panjang, menatap Raisa dengan serius. "Sa... denger ya. Gue mah nggak peduli cewek ngantri ke gue. Gue cuman cinta sama satu orang," ucapnya tegas.
Wow... amazing.
Raisa tertegun, hatinya bergetar. Dia bisa merasakan keseriusan Reyhan. Ya, Reyhan memang hanya mencintai satu wanita — yang tahu hanya dia sendiri dan Tuhan.
Haiii cerita ini udah aku edited ya!
Makasih bagi yg udah mau baca ceritaku ini
Vote dan comment dong,tq
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati
RomanceAku tak tau ini benar-benar cinta atau hanya sekedar suka. Apa mungkin ini hanya sekedar ujian? Ujian dari tuhan agar aku tak harus terus menutupi semua perasaan ini. Aku takut ini hanya sekedar perasaan yang singgah sementara, lalu pergi begitu saj...
