DH 28 - Pola Yang Terlihat

21 2 0
                                        

"Sometimes seeing the pattern is the only way to protect the heart."

***

[Scene: Cafe Dekat Apartemen – Sore Hari]

Milea duduk di salah satu meja pojok, minuman kopi hangat di tangan, matanya sesekali melirik ke pintu masuk. Ia masih merasa sedikit ragu, tapi tekadnya bulat—ia ingin curhat langsung ke Tirta.

Beberapa menit kemudian, Tirta masuk, santai tapi langkahnya pasti. Begitu melihat Milea, ia tersenyum tipis.

"Sorry Mil, bikin lo nunggu," Tirta membuka percakapan, menarik kursi di hadapan Milea.

Milea menghela napas panjang, menatap Tirta dengan mata serius. "Gue... pengen curhat soal Nichole, Ta. Gue penasaran, sebenernya Nichole emang sibuk banget gitu, atau ada hal lain yang lo liat?"

Tirta menatap Milea santai, tapi sedikit tersenyum. "Ya... sebenernya ya, Nichole memang sibuk. Tapi kalo maksud lo 'hal lain' itu apa?"

Milea mengerutkan alis, sedikit gelisah. "Lo tau kan... lo dan Nichole itu temenan deket, kadang lo bisa liat hal yang gue nggak liat. Gue cuma pengen tau sebenernya gimana."

Tirta mencondongkan badan, nada lebih serius tapi tetap tenang. "Mil... gue cuma mau bilang satu hal. Lo jangan terlalu sering curhat ke gue atau ke lawan jenis lain. Lo juga pacarnya Nichole. Gue nggak mau ada hal-hal yang bikin salah paham."

Milea terdiam sebentar, sedikit kaget. "Ah... maksud lo...?"

"Ya maksud gue, jangan dikit-dikit curhat soal masalah lo ke orang lain yang bisa bikin salah paham. Gue ngerti lo butuh tempat curhat, tapi inget posisi kita semua," jawab Tirta santai tapi tegas.

Milea menunduk, menatap kopinya. "Maaf, Ta... gue nggak maksud bikin ribet. Cuma kadang... gue butuh tempat curhat yang tenang."

Tirta menatap Milea sebentar, nadanya tetap santai tapi tegas. "Ya kan, Lo punya temen cewek kayak Raisa, Naomi, kenapa nggak curhat ke mereka aja? Mereka kan lebih pas buat dengerin curhat cewek."

Milea terdiam, menunduk sebentar, lalu mengangguk pelan. "Iya sih... gue cuma kebiasaan aja curhat ke lo."

Tirta tersenyum tipis. "Yaudah, santai aja. Tapi inget, jangan kebiasaan ke lawan jenis lain. Semua bisa beres asal kita tahu batasnya."

Milea menatap Tirta sebentar lagi, sedikit lega tapi masih ada rasa segan.

"Oke, gue pamit balik dulu ke apartemen," 

Milea hanya tersenyum tipis, menyaksikan Tirta pergi. Ia menyesap kopinya pelan, masih memikirkan kata-kata Tirta. Meski terasa agak mengekang, tapi ada rasa dihargai dan dimengerti di dalamnya.

Tirta berjalan keluar cafe dengan langkah santai, tapi dalam hati ada rasa lega—masalah kecil sudah jelas, dan semua tetap berada di jalur yang wajar.

[Scene - Apartemen]

Raisa mulai menguap pelan, matanya setengah terpejam. "Ta... gue ngantuk," gumamnya sambil memeluk bantal.

Tirta menoleh, tersenyum lembut. "Yaudah... nginep aja di sini. Gue nanti ngomong ke Fathur, jadi aman."

Raisa mengangguk pelan, senyum tipis muncul. "Nginep di sini, ya...?"

Tirta bangkit, mengambil selimut tambahan, lalu menuntun Raisa ke kamar. Ia menaruh selimut di tubuhnya dan menyalakan lampu tidur yang redup. "Lo mau gue temenin apa gimana?" tanya Tirta lembut.

Raisa mengangguk lagi. "Iya... temenin gue dulu, Ta."

Tirta duduk sebentar di tepi kasur, memastikan Raisa nyaman, lalu menepuk bahunya ringan. "Tidur yang nyenyak, Sa..." bisiknya.

Raisa sudah tertidur lelap di kamar Tirta, selimut melingkar hangat di tubuhnya. Tirta menutup pintu pelan, lalu berjalan ke ruang tamu. Nichole duduk di sofa, menatap Tirta penuh rasa ingin tahu.

"Udah beres nih?" tanya Nichole sambil menatap Tirta.

Tirta mengangguk. "Iya... dia udah tidur."

Nichole mencondongkan badan, nada penasaran. "Lo tadi ngobrol sama Milea ya? Dia curhat apa sih?"

Tirta meneguk kopinya pelan, menatap Nichole serius. "Nic... lo harus hati-hati sama Milea. Dia... agak bahaya."

Nichole menatap Tirta, alis terangkat. "Bahaya gimana maksud lo, Ta?"

Tirta menghela napas panjang, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Gini... waktu itu lo pernah berantem sama Milea, dia nyari pelarian ke Fahri. Gue sebenernya nggak pengen ngomong ini... tapi lo harus tau semuanya, supaya nggak salah paham lagi. Fahri pernah cerita ke gue."

Nichole terdiam, memproses kata-kata Tirta. "Jadi... maksud lo, dia gampang nyari tempat curhat ke cowok lain kalau lagi ada masalah sama gue? Dan Fahri?"

Tirta mengangguk pelan, menatap Nichole serius. "Iya... maksud gue gitu. Fahri cuma jadi salah satu tempatnya dia curhat. Gue nggak bilang ini buat bikin lo cemas, tapi lo harus tau supaya ngerti pola Milea."

Nichole menunduk sebentar, menatap tangan sendiri. "Jadi selama ini... dia nyari pelarian ke orang lain kalau ada masalah sama gue?"

Tirta menegaskan, nada suaranya santai tapi tegas. "Iya. Makanya gue bilang hati-hati. Gue nggak mau lo salah paham atau sakit hati karena hal-hal yang bisa dihindarin."

Nichole menatap Tirta, alisnya sedikit mengerut, mencoba mencerna semuanya. Jadi selama ini... secara nggak langsung Milea selingkuh sama Fahri? batinnya, jantungnya berdetak lebih cepat.

Tirta menepuk bahu Nichole ringan, menatap serius. "Gue saranin besok lo ketemu Milea. Gue nyusul, kita bongkar semuanya di depan dia. Biar semua jelas, nggak ada yang diselubungi lagi."

Nichole menarik napas panjang, menenangkan diri. "Oke... gue bakal siapin diri. Gue pengen semuanya jelas juga."

Tirta mengangguk, sedikit lega. "Bagus. Semua bakal kelihatan terang benderang besok. Lo tenang aja."

Nichole menunduk sebentar, menatap tangan sendiri, merasa campur aduk antara penasaran, marah, dan lega karena Tirta mau ada di sampingnya.

Dari HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang