"Unexpected moments often leave the deepest impressions on the heart."
***
Sore itu, cahaya matahari masuk pelan dari jendela apartemen Tirta. Suasana tenang, karena hari libur dan mereka berdua memutuskan untuk Netflix and chill di ruang tamu.
Raisa duduk di sofa dengan selimut melingkar di pundak, sementara Tirta sibuk menyiapkan cemilan dan minuman dingin. Nichole duduk di sofa lain, mengamati kedekatan mereka dari jauh dengan senyum tipis di wajahnya.
Nichole mencondongkan badan sedikit ke Tirta. "Lo keliatan bahagia banget akhir-akhir ini, Ta... ada apa sih?"
Tirta nyengir, agak kikuk, tapi matanya tetap fokus ke layar TV. "Ah... nggak ada apa-apa, cuma... weekend sama Raisa aja."
Nichole mengangkat alis. "Oh, jadi itu rahasianya ya? Makanya lo akhir-akhir ini senyum-senyum terus."
Tirta cuma tersenyum ringan, menoleh sebentar ke Nichole.
"Seriusan ini film serem banget?" tanya Raisa sambil menutupi sebagian wajahnya dengan bantal.
"Ah, santai aja. Gue di sini kok," jawab Tirta sambil menaruh segelas soda di tangan Raisa. "Eh, mau popcorn ngga?"
Raisa mengangguk, tersenyum. Tirta mengambil semangkuk popcorn, lalu duduk kembali di sampingnya.
Tiba-tiba muncul adegan jumpscare muncul di layar. Raisa spontan menempel ke Tirta, memeluk tubuhnya erat karena takut. Jantung keduanya spontan berdetak lebih cepat.
"Eh sorry...Lo kok ngga kaget sih?" bisik Raisa malu.
"Ya, gue kan udah siap. Lo aja yang gampang kaget," jawab Tirta sambil tersenyum hangat.
Mereka tertawa pelan, masih saling menatap sesekali, menikmati momen hangat dan canggung itu.
Tiba-tiba ponsel Tirta berbunyi, ada notifikasi chat dari Milea.
"Ta... Gue pengen curhat."
Raisa menoleh ke Tirta saat ponselnya berbunyi. Tirta santai ngecek layar, mengetik balasan.
"Ketik aja di chat, Milea. Gue lagi sibuk. Nanti gue baca."
Raisa menoleh, penasaran. "Siapa yang ngechat?"
"Milea, tapi gak penting," jawab Tirta ringan.
Dalam hati Raisa, muncul pertanyaan yang bikin dadanya sedikit berdebar: "Milea? Ngapain dia ngechat Tirta?"
Raisa mencoba menahan rasa penasaran, tapi matanya tetap nyuri-nyuri lihat layar Tirta.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Raisa dan Nichole menoleh, kaget. Tirta berdiri dan membuka pintu. Milea berdiri di depan, tersenyum tipis.
"Lo... ngapain kesini? Tau alamat gue darimana?" Tirta dengan nada heran.
Milea tersenyum tipis, tapi matanya serius. "Gue pengen curhat langsung, Ta. Gue tau alamat lo dari Reyhan."
Tirta menghela napas panjang, sedikit kesal. "Tapi lo ngga seharusnya dateng kesini juga, Mil. Lagian tadi gue udah bilang, di chat aja. Gue lagi sibuk."
Milea menunduk, suaranya pelan tapi jelas terdengar, "Maaf, Ta... gue ngga bisa kalo curhat di chat."
Tirta mengernyit, kesal tapi akhirnya menyerah. "Yaudah, lo tunggu di cafe dekat apartemen aja. Nanti gue nyusul."
Milea menatap Tirta sebentar. "Kenapa nggak di apartemen lo aja?"
Tirta menatapnya dingin tapi santai.
Milea mengangguk pelan, menerima jawaban itu, meski hatinya masih ragu. Ia berbalik pergi mencari cafe terdekat disana, sementara Tirta kembali masuk ke dalam dengan suasana hati yang kesal.
Tirta kembali masuk ke apartemen, menutup pintu pelan. Raisa menoleh, alisnya terangkat.
"Siapa yang dateng?" tanyanya penasaran.
Tirta mengangkat bahu santai, matanya sesaat menatap Nichole. "Milea," jawabnya singkat.
Raisa terdiam, sedikit kaget. Matanya menatap Nichole, heran kenapa Milea—pacarnya Nichole—datang untuk ketemu Tirta.
Tirta menatap Raisa sebentar, lalu menghela napas ringan. "Gue izin keluar sebentar ya, Sa. Nanti balik lagi," ujarnya santai.
Raisa mengangguk, masih merasa aneh dengan situasi itu, tapi memilih diam. Nichole hanya tersenyum tipis, seolah sudah tahu apa yang terjadi, sambil menatap Raisa yang masih penasaran.
"Nic, gue titip Raisa bentar ya." Ujarnya sambil pergi keluar dari apartemen.
Nichole hanya menggangguk pelan.
Raisa menatap Nichole, alisnya sedikit berkerut. "Kenapa Milea dateng ke Tirta? Ada apa?"
Nichole mengangkat bahu santai. "Gue nggak tau juga, Sa. Mungkin cuma mau curhat."
Raisa terdiam sesaat, batinnya mulai berputar cepat. Jadi selama ini, selain gue, Milea juga suka curhat ke Tirta...? Pikirnya, jantungnya sedikit berdebar.
Nichole menatap Raisa, senyum tipis tapi menenangkan. "Eh... cemburu, nih?"
Raisa menunduk, menahan senyum malu. "Enggak... cuma... agak kaget aja."
Nichole menepuk bahu Raisa ringan. "Tenang aja. Tirta nggak bakal macem-macem, dia tahu batas wajar. Lagian Milea juga pacarnya gue, kan? Jadi nggak bakal terjadi apa-apa."
Raisa mengangguk, tapi hatinya tetap terasa aneh—campuran penasaran dan sedikit lega. Ia sadar, kedekatan Tirta dan Milea bukan hal yang perlu ia khawatirkan, tapi tetap saja rasanya bikin dagunya naik sedikit karena deg-degan.
Raisa menatap Nichole penasaran. "Tapi... kenapa lo nggak marah, Nic? Milea kan pacar lo, kenapa dia curhat ke Tirta?"
Nichole nyengir tipis, santai banget. "Ah, itu mah nggak masalah, Sa. Gue tahu batasnya Tirta, dia nggak bakal macem-macem. Milea juga pacar gue, jadi gue percaya dia ngerti aturan main."
Raisa terdiam, batinnya sedikit berputar. Jadi selama ini... Milea juga bisa cerita ke Tirta tentang apa pun, tanpa gue tau... Rasanya aneh.
Raisa menatap Nichole lagi, masih penasaran tapi kali ini lebih ke mencerna semua fakta. "Oh... pantesan dulu gue pernah liat Tirta jemput Milea ke sekolah. Jadi... emang dari dulu dia suka curhat ke Tirta ya, sebelum pacaran sama lo juga?"
Nichole mengangguk santai, nyengir tipis. "Iya, dari dulu mereka emang sering cerita-cerita. Tapi santai aja, Sa. Semua masih wajar, nggak ada yang salah. Tirta ngerti batas, Milea juga ngerti, gue juga ngerti. Jadi semua aman kok."
Raisa mengangguk pelan, masih mencoba menyesuaikan diri dengan fakta baru itu, tapi rasa penasaran dan sedikit kagumnya terhadap Tirta tetap ada.
Hmmmm ada apa ya? Milea tiba-tiba mau curhat ke Tirta, sebelumnya ke Fahri.
Emang suka cari masalah ya.
Terima kasih sudah mau membaca cerita ini, semoga sukaaa ya!
Enjoy!<3
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati
Storie d'amoreAku tak tau ini benar-benar cinta atau hanya sekedar suka. Apa mungkin ini hanya sekedar ujian? Ujian dari tuhan agar aku tak harus terus menutupi semua perasaan ini. Aku takut ini hanya sekedar perasaan yang singgah sementara, lalu pergi begitu saj...
