DH 33 - Kenangan yang kembali

18 1 0
                                        

"Sometimes, love doesn't need to be loud — it just needs to feel safe." 

Begitu sampai di apartemen, Raisa langsung menaruh tasnya di sofa dan merebahkan diri sambil menghela napas panjang.
Tirta yang baru menutup pintu hanya bisa tersenyum melihatnya.

"Capek banget ya, Sayang?" suaranya terdengar hangat, pelan.

Raisa membuka mata setengah, menatap Tirta yang kini melangkah pelan ke arahnya. "Capek mikirin omongan kamu tadi di mobil," jawabnya lirih.

Tirta terkekeh kecil, duduk di ujung sofa dan menatap Raisa yang masih rebahan. "Omongan yang mana nih? Yang bikin kamu senyum-senyum, atau yang bikin kamu diem dari tadi?"

Raisa memalingkan wajahnya ke arah lain, pipinya memerah. "Keduanya."

Tirta menghela napas pelan, lalu berdiri dan berjalan ke dapur kecil, menuangkan dua gelas air. "Kamu tuh, kebanyakan mikir. Padahal aku udah bilang, nggak usah pusingin Milea. Terserah dia mau ngomong apa, yang penting aku sama kamu sekarang."

Raisa bangkit pelan, duduk bersandar sambil menerima gelas dari Tirta. "Tapi, Ta... kalau dia ngerasa disakitin, aku juga nggak enak."

Tirta duduk di sebelahnya, lebih dekat kali ini. "Kamu terlalu baik, Sa." Ia menatap mata Raisa lama, tangannya perlahan menggenggam tangan Raisa yang dingin. "Tapi kali ini, boleh nggak? Sekali aja... kamu mikirin diri kamu sendiri dulu."

Raisa diam, pandangannya turun ke jemari mereka yang saling bertaut. Degup jantungnya makin terasa cepat.

"Aku udah cukup lama mikirin orang lain," lanjut Tirta pelan. "Dulu Milea, Nichole, bahkan Fahri. Tapi tiap kali aku mikirin mereka, aku malah makin jauh dari hal yang aku mau beneran." Ia berhenti sebentar, lalu menatap Raisa lebih dalam. "Dan yang aku mau itu... cuma kamu."

"Ta..." suaranya hampir berbisik, "kamu tuh bahaya tau nggak sih?"

Tirta menaikkan alis, pura-pura bingung. "Bahaya kenapa?"

"Karena setiap kamu ngomong serius kayak gitu..." Raisa menatapnya, matanya lembut, "...aku jadi makin nggak bisa jauh dari kamu."

Tirta tertawa kecil, lalu tanpa banyak kata, mengelus rambut Raisa pelan. "Yaudah, jangan jauh-jauh. Di sini aja. Sama aku."

Raisa tersenyum, akhirnya menaruh kepalanya di bahu Tirta. Cahaya sore menyelimuti mereka, menenangkan dan sederhana — tanpa hujan, tanpa keributan, cuma ada mereka berdua dan keheningan yang terasa cukup.

Pintu apartemen terbuka, suara khas Nichole langsung nyaut dari depan.
"Woy, gue balik! Nih, bawa perbekalan suci buat malam ini," katanya sambil ngibrit ke dalam bawa kantong plastik isi ciki, minuman kaleng, dan roti.

Tirta yang lagi selonjor di sofa langsung nengok, senyum santai. Raisa juga ikut nyengir kecil, tapi buru-buru duduk lebih tegak biar gak keliatan baru nyender.

Nichole memicingkan mata, "Wah, pemandangan yang manis banget nih. Tiap kali gue balik, kalian makin keliatan kayak couple drama Korea aja."

Tirta ngakak kecil. "Lo aja yang lebay. Kita cuma ngobrol doang."

Raisa ikut ketawa, "Iya, Nic. Santai aja."

Nichole menjatuhkan diri ke sofa sambil membuka bungkus ciki. "Ya gue santai kok. Gue malah seneng liat kalian kayak gini. Gak perlu sembunyi-sembunyi juga. Lagian, semua orang juga bakal tau cepat atau lambat."

Raisa tersenyum lembut. "Iya, cuma belum saatnya aja. Gue gak mau bikin suasana aneh di sekolah."

Nichole mengangguk, lalu nada suaranya agak melunak. "Ngomong-ngomong, Milea ngechat gue tadi."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 28, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dari HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang