DH 3 - Basecamp

34 10 3
                                        

Handphone Reyhan berbunyi. Ia mengecek notifikasi dan melihat beberapa pesan dari Fahri.

Fahri Argantara:
Lo di mana?
Ke basecamp buruan!

Dengan santai, Reyhan membalas singkat.
"Iya, tar gue kesana."

Ia menyimpan ponselnya ke dalam saku. Raisa yang memperhatikan gerak-gerik Reyhan merasa aneh—dia terlihat terburu-buru.

"Kenapa, Rey? Ada urusan ya?" tanya Raisa heran.

Reyhan hanya diam. Bagaimana Raisa bisa tahu kalau dia ada urusan? Padahal ia masih ingin mengobrol lebih lama.

Tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepala Reyhan.
Gue ajak aja kali ya Raisa ngumpul bareng anak-anak di basecamp.

Raisa masih menatap Reyhan bingung. Apa maksudnya semua ini? Rasanya aneh.

"Emm, Sa... ikut gue yuk!" ajak Reyhan antusias.

"Hah? Kemana?" tanya Raisa, masih bingung.

"Udah ikut aja, gue tunggu di bawah ya! See you!" ujar Reyhan cepat, lalu masuk ke kamarnya.

Raisa bersiap-siap untuk pergi, padahal belum memutuskan sepenuhnya. Namun Reyhan terlihat yakin ia akan ikut.

Saat menuruni anak tangga, Fathur menghadang di depan pintu. Wajahnya menatap Raisa penuh keheranan.

"Mau kemana lo?" tanya Fathur.

"Gu... gue mau pergi kak, bentar kok," jawab Raisa sedikit gemetaran.

"Sama siapa?"

Raisa bingung harus menjawab apa. Abangnya ini posesif, pasti melarang jika tahu Raisa pergi dengan teman cowok.

Di luar pagar, Reyhan memanggil namanya, terlihat seperti orang menyapa.

Fathur membuka pintu dan berjalan menghampiri Reyhan. Raisa mengikuti dari belakang.

"Cari siapa, Rey?" tanya Fathur dingin.

"Gue mau jemput Raisa, bang. Mau ajak dia pergi, boleh?" jawab Reyhan sopan.

Fathur menatap Raisa sebentar, lalu tersenyum kepada Reyhan.
"Lo boleh pergi sama Raisa. Jaga dia baik-baik, bro!" ucapnya sambil menepuk pundak Reyhan.

What the... Kak Fathur akrab banget sama dia, batin Raisa.

Sesampai di basecamp, Raisa terdiam sejenak, menatap sekeliling. Tempat itu cukup luas, dengan bangunan-bangunan kayu dan halaman yang dikelilingi pepohonan. Lampu-lampu temaram menambah kesan hangat, tapi Raisa tetap merasa canggung.

Untuk apa Reyhan ngajak gue ke tempat beginian? Jangan-jangan dia mau macam-macam... pikirnya khawatir.

"Ayo, masuk!" ajak Reyhan sambil menarik lengan Raisa.
"Jangan ngelamun terus, tar kesamber!" lanjutnya setengahnya bercanda.

Di dalam, teman-teman Reyhan sudah berkumpul, menyetel musik yang agak keras sambil menikmati cemilan. Suasana hangat namun riuh, membuat Raisa sedikit lega.

Fahri yang melihat Raisa langsung membulatkan matanya. "Lo ngapain bawa Raisa ke sini?" tanyanya sinis, sementara teman-temannya hanya menatap dingin.

"Kebetulan tadi gue lagi sama dia, yaudah gue ajak. No problem kan?" jawab Reyhan santai.

"Oke, no problem, Han," ucap salah satu temannya.

Nichole, dengan hati-hati, bertanya, "Lo sahabatnya Milea kan?"
Raisa hanya mengangguk pelan, masih merasa canggung.

"Udah, jangan takut. Mereka semua baik, temen kecil kita kok," bisik Reyhan menenangkan.

Tirta menyela, "Pacar lo, Han?"
Raisa menelan ludah, Bisa-bisanya gue disebut pacarnya, emang keliatannya cocok ya? pikirnya.

"Bukan, she's my little best friend. You remember her?" jawab Reyhan sambil tersenyum.

Fahri nyengir nakal, "Mantan gebetan lo ya, Ta?"
Tirta hanya menatapnya sekilas, mengingat bahwa itu memang masa lalu.

Suasana pun menjadi hangat. Mereka berbincang, tertawa, dan menceritakan kisah masing-masing. Raisa ikut tertawa, menikmati kebersamaan itu, sampai matahari tergantikan bulan.

Malam sudah larut, namun mereka masih betah bercengkrama. Raisa diam, sesekali mengecek handphonenya, khawatir Fathur akan menghubunginya.

"Kenapa, Sa? Mau pulang?" tanya Reyhan, memperhatikan.
Raisa hanya menggeleng pelan.

"Emm... guys, gue balik duluan ya," ucap Reyhan memutuskan untuk pamit.

"Iya deh, iya... lo bawa cemewew asek ah!" sindir Nichole, membuat Raisa tersenyum malu.

"Ke mana, Rey?" tanya Raisa penasaran.
"Ikut aja dulu, yuk!" ajaknya penuh antusias.

Raisa dan Reyhan pun bergegas pergi. Sementara Fahri dan teman-temannya melanjutkan obrolan. Namun, tatapan Tirta berubah panas saat melihat kedekatan Reyhan dan Raisa.






Ada yang panas nih dari masa lalu wkwkwk
Tunggu next partnya ya!
Jangan lupa Vomment yaaa, tengkyuu
See u:)

Dari HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang