DH 22 - Yang Tak Bisa Dijelaskan

13 2 0
                                        

"Sometimes, silence carries the weight of everything we can't put into words."

***

Fahri masih duduk di ruang tamu setelah Milea pamit pulang. Suara pintu tertutup perlahan, tapi gema keheningannya masih terasa di dada. Ia menyandarkan punggung ke sofa, menatap kosong ke arah pintu yang baru saja ditutup perempuan itu.

Tangannya refleks menyentuh pipinya — titik kecil yang tadi disentuh Milea terasa seperti membakar diam-diam. Bukan karena romantis... tapi karena bingung. Ada sesuatu yang menekan dadanya, antara iba dan canggung yang tak bisa dijelaskan.

"Kenapa lo lakuin itu, Le..." gumamnya pelan.

Ia mengusap wajahnya, mencoba menata napas. Dalam pikirannya, Milea masih terlihat — mata merah, suara gemetar, dan senyum tipis yang dipaksakan sebelum pergi. Fahri tahu, itu bukan ciuman yang penuh makna cinta... tapi pelarian dari perasaan yang terlalu berat.

Namun, tetap saja, ada rasa tak tenang yang menempel di dadanya.

Fahri berdiri, berjalan ke jendela. Di luar, langit sore mulai memudar. Ia menatap langit itu lama, seolah mencari jawaban di antara warna oranye yang mulai memudar jadi abu.

"Kalau Nichole tahu, pasti dia bakal salah paham..." katanya lirih, lalu tersenyum miris.

Ia tahu harusnya ia menolak tadi — atau setidaknya mundur. Tapi detik itu, melihat Milea sehancur itu, lidahnya kelu. Ia cuma bisa diam dan membiarkan waktu lewat.

Kini, diam itu berubah jadi beban.

Fahri menatap ponselnya yang tergeletak di meja. Ada chat dari Nichole masuk beberapa jam lalu, belum sempat dibalas. Ia menghela napas panjang.

"Gue harus gimana sekarang..." bisiknya.

Ia menatap layar itu lama, jari-jarinya menggantung di atas papan ketik — tapi tak satu pun kata keluar.

Keheningan kembali turun, tapi kali ini tak lagi menenangkan. Ada sesuatu yang berubah, dan Fahri tahu... mulai saat ini, dia gak akan bisa ngelihat Milea dan Nichole dengan cara yang sama lagi.


[Scene: Apartemen Nichole – Malam Hari]

Hujan baru saja berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang samar masuk lewat jendela yang sedikit terbuka. Lampu apartemen menyala redup, hanya menyisakan cahaya hangat dari sudut ruang tamu.

Nichole duduk di sofa, bersandar dengan wajah letih. Di depannya, Tirta baru datang, masih mengenakan jaket hitamnya. Ia meletakkan tas kecil di lantai dan menatap Nichole dengan pandangan tenang.

"Kenapa lo? Kusut banget tuh muka" tanya Tirta sambil duduk di seberang.

Nichole menghela napas berat, menatap kosong ke arah meja. "Gue... lagi ribut sama Milea."

Tirta mengangkat alis sedikit. "Ribut? Kenapa emang?"

"Awalnya sepele," ucap Nichole pelan. "Gue sibuk banget belakangan. Ada deadline, ada event, Banyak tugas sekolah juga. Dia ngeluh gue jarang ngabarin, jarang nyamperin... terus lama-lama jadi dingin."

Tirta mencondongkan tubuhnya, nada suaranya lembut. "Terus lo marah?"

Nichole tersenyum miris. "Gue nggak marah, cuma capek aja, Ta. Gue ngerasa... kayak semua yang gue lakuin nggak pernah cukup. Padahal gue cuma pengen bagi waktu. Tapi buat dia, itu kayak gue udah berubah."

Tirta diam sejenak, menatapnya dalam. "Kadang orang yang deket sama kita nggak butuh penjelasan panjang, Nich. Mereka cuma pengen ngerasa diprioritaskan."

Dari HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang