"Friendship isn't just about laughter and fun... Sometimes it's about sharing the quiet moments, the secrets, and the little chaos of life together."
***
Sore itu, suasana di basecamp terasa santai. Reyhan duduk di sofa, sesekali menatap catatan kegiatan yang harus disiapkan untuk camping minggu depan. Di sekelilingnya, Tirta, Fahri, dan Nichole tampak asik bercanda sambil menata beberapa peralatan dan cemilan di meja.
"Rey, serius amat ngecek catatan terus. Santai dikit lah," goda Fahri sambil menaruh joystick di meja.
Reyhan menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. "Ya, gue cuma pengen semua rapi aja. Besok kan ada kegiatan, harus siap semua."
Tirta yang duduk di sampingnya menepuk pundaknya, "Bener juga, tapi jangan lupa sesekali santai, Han. Kita juga di sini buat senang-senang, kan?"
Fahri tersenyum kecil, menatap Reyhan dan Tirta, "Iya, jangan terlalu serius terus nanti cepet tua."
Nichole mencondongkan tubuh, menatap Reyhan serius.
"Rey... ngomong-ngomong, lo sama Raisa gimana sekarang? Masih dingin-dingin-an di sekolah?"
Reyhan menghela napas panjang, menatap langit sore yang mulai jingga, "Iya, di sekolah gue memang agak menjauh, kadang gue sengaja cuekin dia."
Di dalam hatinya, Reyhan berbisik pelan, "Sebenarnya... gue cemburu waktu liat Fahri ada di kamar Raisa berduaan. Tapi gue gak mau ngomong apa-apa, takut persahabatan kita rusak. Jadi gue cuma diem, menjauh... padahal gue pengen deket lagi sama Raisa."
Tirta menepuk pundak Reyhan, nadanya tenang tapi hangat.
"Kadang orang yang peduli tapi bingung cara nunjukinnya, jadinya kayak menjauh. Lo nggak sendirian, Han."
Reyhan menatap Tirta, lalu lanjut bercerita dengan nada lebih berat.
"Terus pas kemarin gue jemput Naomi dari rumah Raisa, gue masih... ya, cuekin Raisa juga. Padahal Raisa lagi di situ. Gue pikir dia bakal ngerti, tapi ternyata keterlaluan juga sih. Naomi sampai negur gue, bilang kenapa gue nggak peka sama Raisa. Gue... gue jadi mikir, kenapa gue harus ngelakuin itu? Padahal maksud gue cuma... bingung gimana mulai lagi."
Fahri mengangguk, memahami sepenuhnya.
"Jadi, lo sendiri juga nyesel, ya?"
Reyhan menunduk, menepuk dagunya.
"Iya... bener. Gue nyadar, kadang gue terlalu keras sama diri sendiri. Tapi... gue cuma takut salah langkah lagi sama Raisa, takut bikin dia salah paham. Gue pengen semuanya normal lagi, tapi gue nggak tau harus mulai dari mana."
Tirta tersenyum samar, menepuk bahu Reyhan lagi.
"Ya, langkah pertama tuh dengerin dulu. Lo bisa pelan-pelan deketin dia, jangan terlalu dipaksain. Gue yakin Raisa juga masih peduli, cuma dia bingung sama sikap lo."
Reyhan menatap Tirta, seolah menemukan ketenangan.
"Gue harap begitu... gue nggak mau kehilangan kesempatan lagi."
"Ngomongin soal hubungan nih... Milea akhirnya sama gue, Han," ujarnya sambil menyandarkan diri di dinding basecamp.
Fahri menatap Nichole terkejut, "Serius? Jadi kalian udah jadian beneran?"
Nichole mengangguk, matanya berbinar.
"Iya, akhirnya dia mau nerima gue juga. Gue nembak dia di rumah Raisa kemarin. Hujan gerimis, suasana hening... dan Milea bilang iya."
Nichole tersenyum tipis. "Ya... akhirnya gue bisa move on dari Valeri. Awalnya berat, tapi sekarang gue fokus sama Milea. Soal Valeri... ya udah lah, biar dia sama urusannya sendiri."
Tirta menatap Nichole sambil mengangguk. "Gue inget Milea pernah cerita ke gue, kalo dia kemarin di-labrak sama Valeri di sekolah. Kayaknya Valeri masih suka bikin drama kalau ada yang deket sama lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati
RomanceAku tak tau ini benar-benar cinta atau hanya sekedar suka. Apa mungkin ini hanya sekedar ujian? Ujian dari tuhan agar aku tak harus terus menutupi semua perasaan ini. Aku takut ini hanya sekedar perasaan yang singgah sementara, lalu pergi begitu saj...
