DH 18- Di Antara Jalan Pulang

26 3 1
                                        

"Sometimes, silence speaks louder than every word you've been waiting to hear."

***

Bus perlahan meninggalkan area perkemahan, melaju di jalan berliku yang dibasahi gerimis. Di dalamnya, suasana hening — beberapa siswa tertidur, beberapa hanya menatap keluar jendela sambil mendengarkan musik dari earphone.

Raisa duduk di sisi jendela, sedangkan Tirta di sebelahnya. Sejak keberangkatan tadi, keduanya lebih banyak diam. Sesekali, Tirta menoleh sekadar memastikan Raisa nyaman, tapi tak berani membuka obrolan lebih jauh.

Raisa menatap ke luar, melihat titik-titik air yang menempel di kaca. "Hujan lagi..." gumamnya pelan.

Tirta ikut menatap arah yang sama. "Kayaknya hujan emang suka ngikutin kita."
Raisa menoleh sedikit, tersenyum tipis. "Atau mungkin kita yang suka nyamperin hujan."

Keduanya tertawa kecil. Sekilas, keheningan di antara mereka berubah jadi hangat.
"Capek?" tanya Tirta pelan.
"Lumayan. Tapi kayaknya belum mau tidur."
Tirta tersenyum samar. "Tidur aja, nanti gue bangunin kalau udah sampai."

Raisa menggeleng pelan. "Enggak. Gue mau liat pemandangan. Tenang banget."
Tirta menatapnya sebentar, lalu kembali menghadap ke depan. "Tenang kadang gak perlu tempat baru. Kadang cuma butuh orang yang gak banyak nanya."

Raisa menoleh cepat, seolah kata-kata itu nyentuh sesuatu di hatinya. Ia ingin jawab sesuatu, tapi suaranya hilang di tengah suara hujan.

Beberapa baris di belakang, Reyhan duduk dengan pandangan kosong. Olivia di sampingnya tertidur, kepala bersandar di kaca. Tapi mata Reyhan terus saja memandangi ke arah depan bus — tepat ke kursi di mana Raisa duduk.

Ia memperhatikan sekilas cara Tirta memayungi ruang hening itu dengan tenang. Ada rasa aneh yang Reyhan sendiri gak ngerti — bukan marah, bukan juga cemburu yang jelas. Lebih seperti perasaan kehilangan sesuatu yang belum sempat diperbaiki.

Reyhan menghela napas pelan, lalu menatap ke luar jendela. Di luar sana, jalan basah berkilau di bawah rintik hujan, sama seperti pikirannya yang tak kunjung jernih.

Sementara itu, Tirta menoleh sekali lagi. Melihat Raisa perlahan memejamkan mata di sampingnya. Ia hanya menatap sebentar, lalu tersenyum kecil, memastikan selimut di pangkuan Raisa tidak jatuh.

Bus terus melaju dalam sunyi.
Di dalamnya, tiga hati duduk berdekatan — tapi terpisah oleh jarak yang tak kasat mata.

Bus akhirnya berhenti di halaman sekolah menjelang sore. Langit masih mendung, tapi gerimis sudah reda. Satu per satu siswa turun dengan wajah lelah tapi puas setelah dua hari berkemah.

Raisa turun terakhir, menenteng tas ranselnya. Dari kejauhan, Fathur sudah terlihat menunggunya di pinggir gerbang dengan payung di tangan.
"Sa, sini," panggilnya lembut.

Raisa menoleh, tersenyum pelan, lalu berjalan menghampiri. Tapi sebelum sempat jauh melangkah, Tirta yang masih di dekat bus memanggil pelan,
"Raisa..."

Raisa menoleh.
"Jaga diri, ya. Jangan kebanyakan mikir."
Raisa menatapnya sejenak, lalu mengangguk kecil. "Iya. Makasih... buat semuanya."

Tirta hanya membalas dengan senyum tipis. Ia tahu, ada banyak hal yang belum bisa ia ucapkan — dan mungkin belum waktunya.


Dari arah lain, Reyhan berdiri di dekat tiang parkir, ransel di punggung, memperhatikan tanpa suara. Ia melihat bagaimana Raisa berbicara dengan Tirta sebentar, lalu berlari kecil ke arah kakaknya. Ada sesuatu di dada Reyhan yang terasa sesak, tapi ia memilih diam.

Olivia menepuk bahunya ringan. "Yuk, Han. Kita jalan."
Reyhan menoleh sekilas dan tersenyum tipis. "Iya, bentar."

Ia menatap satu kali lagi — ke arah punggung Raisa yang makin menjauh, dan ke Tirta yang berdiri memandangi hujan yang hampir berhenti.
Entah kenapa, Reyhan merasa seperti penonton dari kisah yang seharusnya ia tulis sendiri, tapi kehilangan halaman pertamanya.

Langit sore tampak pucat, seolah menyembunyikan sesuatu yang belum selesai.

Di dalam mobil, Raisa bersandar di kursi, menatap langit sore yang cerah. "Kak... aku capek banget hari ini," gumamnya.

Fathur tersenyum sambil menyetir. "Iya, perjalanan panjang. Tapi senang ya lihat lo senang di camping?"

Raisa mengangguk, memejamkan mata sebentar. "Iya... semuanya menyenangkan... tapi ada beberapa hal yang bikin aku masih mikir."

Fathur menoleh, tapi Raisa hanya tersenyum tipis, menenangkan diri. Ia memilih menikmati sisa perjalanan pulang dengan tenang, meski pikirannya sesekali melayang ke Tirta dan Reyhan.

Sesampainya di depan rumah, Fathur menepikan mobil. Raisa menatap rumahnya, rasa lega dan tenang sedikit kembali. Ia membuka pintu mobil dan melangkah masuk, masih membawa tasnya.

Di dalam rumah, udara sepi menyambutnya. Raisa menaruh tas, menarik napas panjang, lalu bersandar di pintu sebentar, membiarkan tubuhnya rileks setelah hari yang panjang. Ia tersenyum tipis, mengenang momen-momen camping dan semua teman yang membuatnya senang.

Meski hati masih ada sedikit keruwetan karena Reyhan dan Tirta, Raisa memutuskan untuk menikmati sisa sore itu sendiri, menenangkan diri, dan bersiap untuk hari-hari berikutnya.








Halloo ketemu lagi sama author nih hehe

Gimana pendapat kalian tentang cerita aku?
Tolong kasih masukan ya, dan jangan lupa Vote dan Comment.
Thankyouuuu!<3

Dari HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang