DH 15 - Hangat di Antara Dingin

17 3 0
                                        

"Sometimes, being close doesn't always mean being together."

***

[Scene: Pagi Hari – Depan Sekolah]
Udara masih dingin saat Raisa turun dari mobil. Fathur, kakaknya, ikut menurunkan tas besar berisi perlengkapan camping.
"Yakin udah siap semua?" tanya Fathur sambil menatap adiknya penuh khawatir.
Raisa mengangguk sambil tersenyum kecil. "Iya, Kak. Makasih ya udah nganterin."
"Kalau sakit, langsung kabarin gue. Jangan maksa ikut kegiatan kalau badan lo belum fit," pesannya lembut.
Raisa mengangguk lagi, kali ini sedikit malu karena tahu semalam ia kehujanan.

Beberapa bus sudah terparkir di halaman sekolah. Suasana riuh oleh suara siswa dari dua sekolah yang bergabung untuk kegiatan camping ini. Ada yang sibuk menata barang, ada yang foto-foto bareng.

Dari kejauhan, Tirta melambaikan tangan. "Sa!"
Raisa menoleh dan tersenyum samar. "Ta!"
Mereka saling menghampiri, dan Fathur sempat melirik sekilas sebelum menepuk bahu Tirta pelan.
"Titip adik gue ya," ucap Fathur dengan nada tenang tapi bermakna.
Tirta mengangguk. "Siap, Kak."

Begitu Fathur pergi, Raisa menarik napas panjang. "Kayaknya Kak Fathur nganggep lo kayak bodyguard gue deh."
Tirta tertawa kecil. "Nggak apa-apa, berarti dia percaya sama gue."


[Scene: Dalam Bus – Beberapa Menit Kemudian]
Bus mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman sekolah. Di dalam, para siswa sudah duduk berpasangan.
Raisa duduk di sisi jendela, menatap pemandangan luar. Di sebelahnya, Tirta membuka earphone lalu menawarkannya.
"Mau denger musik?"
Raisa mengangguk, dan lagu lembut mulai mengalun di antara mereka.

Di kursi depan, Milea bersandar ke bahu Nichole sambil sesekali tertawa pelan, sementara di sisi lain Fahri sibuk menggoda Naomi yang justru kesal setengah mati.
Sedangkan di baris agak belakang, Reyhan duduk bersebelahan dengan Olivia. Awalnya mereka saling bicara tentang acara di tempat camping nanti, tapi mata Reyhan sesekali melirik ke arah depan — ke kursi Raisa dan Tirta.

Olivia yang menyadari itu langsung menatapnya tajam. "Lo ngeliatin siapa sih, Han?"
Reyhan terdiam, lalu berdeham. "Nggak. Nggak siapa-siapa."
"Ck... Nggak usah bohong."
Reyhan nggak menjawab. Pandangannya kembali ke jendela, berusaha mengalihkan perhatian tapi pikirannya tetap mengambang ke satu arah — Raisa.

Sementara itu, Tirta melirik ke arah Raisa yang sejak tadi menatap ke luar jendela tanpa suara.
"Lo kelihatan capek," ucapnya pelan sambil mencondongkan badan sedikit.
Raisa tersenyum tipis, tapi matanya masih fokus pada pemandangan luar. "Nggak, cuma... lagi mikir aja."
"Mikir apa?"
"Entah. Rasanya aneh aja, Ta. Kayak semua orang berubah dalam waktu singkat."
Tirta terdiam sejenak, lalu tersenyum lembut. "Kadang bukan mereka yang berubah, Sa. Cuma cara kita ngeliat mereka yang udah beda."

Raisa menoleh perlahan, menatap Tirta. "Kok lo bisa ngomong setenang itu, sih?"
Tirta tertawa kecil. "Karena kalau panik, yang rugi diri sendiri."
Raisa ikut tertawa kecil, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin bus. "Lo tuh... selalu punya cara bikin suasana adem."
"Berarti gue berhasil," jawab Tirta sambil tersenyum lebar.

Bus terus melaju, melewati pepohonan di tepi jalan. Di tengah riuhnya suara teman-teman mereka, dua orang di kursi itu justru tenggelam dalam keheningan yang hangat.

Beberapa jam kemudian, bus berhenti di area camping menjelang sore. Udara segar khas pegunungan langsung menyambut saat pintu bus terbuka. Langit biru terang, suara burung bercampur dengan angin lembut yang berhembus di antara pepohonan pinus. Semua peserta sibuk menurunkan tas dan peralatan tenda.

"Lo tenda sama gue, kan?" tanya Fahri sambil menenteng dua sleeping bag.
Tirta mengangguk. "Iya, udah gue ambil spot deket pohon itu."

Setelah tenda berdiri, mereka duduk santai di depan, menikmati suasana yang tenang. Anak-anak lain masih sibuk berfoto, ada yang bantu masak air, ada juga yang pasang lampu kecil di sekitar area.

Fahri menatap Tirta dari samping. "Eh, gue mau nanya sesuatu."
Tirta mengalihkan pandangan. "Apaan?"
"Semalem lo beneran nggak nganter Raisa pulang?"
Tirta menghela napas pendek. "Dia ketiduran, Ri. Gue udah nelpon Fathur buat jemput. Lagian gue nggak tega bangunin dia."
Fahri mengangguk-angguk. "Wah, lo tuh perhatian banget.  Bilang aja kalo masih peduli."
"Bukan gitu," Tirta menepis cepat. "Gue cuma... khawatir. Besoknya kan camping, takut dia malah sakit gara-gara kehujanan kemarin."

Fahri sempat diam, lalu melanjutkan, "Oh iya, pagi tadi gue sempet nanya ke Raisa."
Tirta langsung menoleh. "Nanya apaan?"
"Ya soal semalem. Gue kira dia kenapa bisa kehujanan gitu. Tapi dia cuma senyum, bilang 'gak papa, cuma pengen jalan aja.'" Fahri menirukan dengan nada heran. "Lo tau nggak? senyumannya itu kayak orang yang nyembunyiin sesuatu."

Tirta terdiam. Pandangannya jatuh ke tanah, jemarinya mengusap batu kecil di sebelahnya. "Dia nggak cerita apa-apa lagi?"
"Enggak. Cuma gitu doang. Tapi dari matanya sih... gue rasa dia lagi berat banget mikir sesuatu."

Tirta mengangguk pelan, suaranya nyaris seperti gumaman. "Iya, gue juga ngerasa gitu."

Beberapa detik hening. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan daun kering.
Fahri menepuk bahunya. "Kalau lo masih punya perasaan, jangan terlalu ditahan, Ta. Kadang hal kecil kayak gitu justru yang paling keliatan tulus."

Tirta cuma menatap jauh ke arah tenda para cewek yang mulai dinyalakan lampu kecilnya. Di sana, Raisa terlihat sibuk tertawa bareng yang lain. Entah kenapa, pemandangan sederhana itu bikin dadanya terasa hangat — sekaligus nyesek sedikit.







Tirta kenapa sih kuat banget nahan perasaannya:( huhu
Reyhan juga gak jelas jadi laki, gak gentle >.<
Yeayyyyyy, terimakasih bagi kalian yg udah mau baca sampe sini.
Thank you somuchhhhh😘
See you next partt

Dari HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang