DH 10 - Hari Libur yang Berisik

20 4 0
                                        

"A calm morning doesn't always mean a calm heart."

Sinar matahari pagi menembus celah tirai kamar Raisa. Gadis itu masih terlelap, wajahnya tenang di balik selimut tebal. Namun, beberapa saat kemudian, ketenangan itu mendadak sirna ketika suara gaduh dari ruang tamu terdengar.

"Raisa! Bangun, hei!"
Suara Naomi menggema, diikuti tawa Milea yang sudah duduk santai di kursi.

Dengan rambut acak-acakan dan mata setengah terbuka, Raisa keluar dari kamar. "Kalian tuh ya... libur malah ganggu orang tidur," gerutunya sambil menguap.

Naomi nyengir. "Makanya jangan tidur terus, nanti dikira galau. Udah siang juga."

Milea menyenggol Naomi pelan. "Eh, ngomong-ngomong... gimana kabar lo sama Reyhan?" tanyanya hati-hati.

Raisa menghela napas, duduk di sofa. "Gak tahu. Terakhir ketemu juga dia cuek banget. Kayak gak kenal."

Naomi menatap Raisa, lalu memalingkan wajahnya seolah sedang menyusun kata. Tapi Milea justru menyela, "Gue kemarin liat Reyhan, Sa. Di kafe deket sekolah. Dia bareng sekretarisnya, Olivia, kalau gak salah."

Seketika ruangan itu terasa lebih dingin.
Raisa diam. Hanya tangannya yang memainkan ujung selimut di pangkuannya. Dada terasa sesak, tapi bibirnya berusaha tersenyum. "Oh... iya? Mungkin lagi bahas kerjaan."

Namun Naomi tahu, dari cara Raisa menghindari tatapan, cemburu itu nyata.
Dan tentu saja, Naomi — yang tidak bisa diam — justru mengambil ponselnya dan berkata, "Kalau gitu sekalian aja gue tanya dia."

"Naomi, jangan—" Raisa belum sempat menahan, panggilan sudah tersambung.
"Reyhan! Lo bisa jemput gue gak? Di rumah Raisa," kata Naomi dengan nada ceria.

Raisa langsung menoleh tajam. "NAOMI!"

Di seberang sana, suara Reyhan terdengar datar.
"Rumah Raisa? Ngapain lo di sana?"
"Main aja. Sekalian, jemput gue dong,"
Reyhan mendengus. "Ya udah, gue kesana. Tapi cuma karena lo temen sekolah gue dan kebetulan gue lagi berbaik hati aja."

Klik. Telepon terputus.
Raisa memeluk bantal, menutupi wajahnya. "Ya ampun, Naomi... kenapa sih lo panggil dia ke sini?"

"Biar tahu aja, Raisa. Lagian dia sering jemput gue kok, biasa aja," jawab Naomi santai.

Raisa terdiam. Sering dijemput? hatinya makin gak karuan.

Beberapa menit kemudian, suara motor berhenti di depan pagar. Reyhan turun, wajahnya datar seperti biasa. Ia melangkah masuk ke ruang tamu tanpa banyak basa-basi.

"Naomi, yuk," katanya singkat.

Raisa yang duduk di sofa langsung berdiri refleks. Reyhan sempat menatapnya sekilas — tanpa senyum, tanpa sapa — lalu kembali memalingkan wajah.

"Udah? Pulang sekarang aja, biar gak kesorean," katanya tenang.

Naomi menoleh sebentar ke Raisa, lalu tersenyum canggung. "Raisa, gue balik dulu ya."
Raisa hanya mengangguk pelan, menahan sesuatu di dadanya yang terasa sesak.

Begitu Reyhan dan Naomi keluar, Milea langsung menatap Raisa.
"Reyhan tuh...kenapa sih peka dikit kek," gumamnya sambil geleng kepala.


[Scene: Di jalan – di atas motor Reyhan]

Naomi menatap punggung Reyhan, lalu bersuara dengan nada jengkel.
"Lo sadar gak barusan Raisa keliatan sedih banget?"
Reyhan mengerutkan dahi. "Sedih? Kenapa?"
"Ya karena lo dingin banget! Masa liat dia aja gak nyapa? Gak ada senyum, gak ada apa."

Reyhan diam sejenak. Angin sore menerpa wajahnya.
"Gue cuma... gak tau harus bersikap gimana," ujarnya pelan.
Naomi menatapnya dari kaca spion, lalu menghela napas. "Lo aneh, Han. Lo yang menjauh, tapi lo juga yang keliatan gak tenang."

Kata-kata itu menancap dalam. Reyhan cuma menunduk sedikit, membiarkan pikirannya tenggelam. Iya juga, kenapa gue harus sejauh itu dari Raisa?


Hari semakin sore, Milea berdiri lalu menatap Raisa yang masih diam di sofa.
"Nic, lo bisa jemput gue gak? Gue di rumah Raisa. Sekalian ajak Tirta deh, biar Raisa gak sendirian," katanya lewat telepon.

"Okay, bentar lagi gue kesana," jawab Nichole di seberang sana.

Begitu telepon ditutup, Nichole menatap bayangannya di cermin, jantungnya berdebar kencang.
Dia tersenyum kecil dan berbisik,
"Mungkin... ini waktu yang tepat buat gue ngomong semuanya ke Milea."

Raisa duduk di sofa sambil memainkan ujung bantal, sementara Milea sibuk men-scroll ponselnya. Suasana hening, hanya terdengar suara jam dinding.
Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah.

Milea melongok ke jendela, "Eh, kayaknya Nichole deh!"
Raisa mengerutkan kening, "Nichole? Ngapain dia kesini?"

Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari arah teras. Pintu diketuk pelan. Milea berlari kecil untuk membuka, lalu membelalak kaget.
"Nichole?! Lo beneran dateng—" ucap Milea senang, namun kalimatnya terpotong ketika sosok di belakang Nichole muncul.

"Eh... Tirta?" seru Raisa refleks, setengah berdiri dari sofa.
Tatapan mereka bertemu sepersekian detik—hening. Ada rasa terkejut yang tak bisa dijelaskan.

Tirta tersenyum tipis, mengangkat tangannya pelan. "Hai, Sa."
"Eh iya, hai juga... tumben banget lo dateng ke rumah gue," ucap Raisa kikuk.

Nichole menambahkan cepat, "Tadi Milea minta gue jemput, jadi sekalian gue ajak Tirta biar gak sendirian."
"Oh... gitu, yaudah mari masuk," jawab Raisa pelan, kembali duduk.

Nichole sibuk ngobrol kecil sama Milea, sementara Raisa cuma duduk diam sambil memainkan gelang di pergelangan tangannya.
Tirta yang duduk di ujung sofa menatap Raisa sesekali, merasa suasananya agak aneh.

"Eh, Sa," Tirta akhirnya buka suara, "tadi gue denger dari Milea... katanya Reyhan sempet ke sini?"

Raisa menoleh pelan. "Iya... tadi dia sempet dateng."
Tirta mengernyit sedikit. "Ngapain?"
Milea yang menjawab, "Ngejemput Naomi, Ta. Cuman... ya gitu, suasananya agak aneh."

Raisa menghela napas berat, matanya kosong menatap meja. "Dia dateng aja gue udah kaget. Tapi pas liat gue... dia cuma lewat gitu aja. Gak nyapa, gak ngomong apa-apa. Kayak gue orang asing."

Tirta menatapnya prihatin. "Reyhan tuh emang gitu, susah ditebak. Tapi... kayaknya dia cuma salah paham deh."

Tirta yang duduk di samping Raisa melanjutkan bicaranya, nadanya tenang tapi dalam.
"Kalau dia menjauh, bukan berarti dia gak peduli, Sa. Kadang orang menjauh karena bingung harus mulai dari mana lagi."

Raisa menatap Tirta lama. Ada sesuatu di mata Tirta yang membuatnya tenang. "Lo selalu punya kata-kata yang pas, Ta."
Tirta tersenyum samar. "Bukan kata-kata yang pas, mungkin karena gue ngerti rasanya kehilangan arah."











AAAAAA REYHAN SIALAN YA BISA BIKIN RAISA SE-GALAU INI T_T

Jangan lupa tinggalin jejak ya! Makasih buat kalian yg udah mau baca

See u next part yaa!<3

Dari HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang