"Sometimes the quietest moments are the loudest in your heart."
***
Pintu apartemen terbuka dengan bunyi klik pelan. Udara hangat menyambut mereka, kontras dengan hawa dingin yang masih menempel di tubuh Raisa. Rambutnya basah, jaket Tirta melingkup di bahunya, dan langkahnya terdengar berat ketika memasuki ruang tamu yang temaram.
Fahri yang sedang menonton TV spontan menoleh. "Lah, Ta, itu..." katanya, kening berkerut melihat sosok Raisa di belakangnya yang kuyup.
Nichole yang duduk di sofa sebelahnya ikut menatap dengan heran. "Kalian abis kehujanan? Kok—"
Tirta hanya memberi isyarat cepat — telunjuk di depan bibir, tatapan tegas. "Nanti aja, Ri," ucapnya singkat, lalu menuntun Raisa pelan ke arah kamar tamu.
Raisa diam saja, hanya menunduk. Bajunya meneteskan air ke lantai, membentuk jejak yang mengikuti langkahnya. Tirta mengambil handuk bersih dari lemari dan menyerahkannya tanpa banyak bicara.
"Lo mandi dulu, Sa. Nanti lo bisa pakai baju gue dulu sementara," katanya lembut tapi tegas.
Raisa menerima handuk itu perlahan, tanpa berani menatap matanya. "Makasih..." suaranya lirih, hampir tenggelam di antara gemuruh hujan di luar jendela.
Begitu Raisa masuk ke kamar mandi, Fahri langsung mendekat. "Ta, itu... Raisa kan? Lo abis dari mana? Kok—"
Tirta hanya menghela napas panjang, melepaskan jaketnya yang basah. "Nanti gue ceritain, Ri," ucapnya pelan sambil menatap pintu kamar mandi yang tertutup. "Sekarang... biarin dia tenang dulu."
Nichole saling pandang dengan Fahri, keduanya memilih diam. Suasana ruang tamu jadi hening, hanya suara hujan di luar dan tetesan air dari jaket Tirta yang jatuh ke lantai.
Tirta menatap kosong ke arah jendela, pikirannya masih tertinggal di jalan tadi — di tatapan kosong Raisa yang seolah membawa seluruh langit bersamanya.
[Scene : Kamar Tamu]
Raisa keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah kering, mengenakan hoodie abu-abu longgar milik Tirta. Bau sabun dan kehangatan ruangan sedikit menetralkan dingin di tubuhnya, tapi hatinya masih terasa sesak.
Tirta berdiri di dapur kecil, menuangkan air panas ke dua cangkir. Begitu mendengar langkah Raisa, ia menoleh dan tersenyum samar.
"Gue bikinin teh. Biar anget."
Raisa mendekat pelan, menerima cangkir itu dengan kedua tangan. "Makasih," ucapnya singkat.
Hening. Hanya suara hujan dari luar dan hembusan AC yang menemani mereka.
"Lo kenapa bisa kehujanan sendirian?" tanya Tirta lembut, menatapnya dengan khawatir. "Gue liat lo tadi jalan kayak gak sadar arah."
Raisa menatap teh di tangannya, uapnya naik menutupi pandangan sesaat. "Gue cuma... pengen jalan aja. Pengen tenang, gitu."
"Tenang dari apa?"
Raisa menghela napas. "Gue gak tahu. Kadang gue cuma ngerasa... kosong."
Tirta tak langsung menimpali. Ia hanya duduk di seberang Raisa, matanya lembut tapi dalam. "Kalau lagi kosong, jangan jalan sendirian, Sa. Dunia tuh kadang lebih dingin dari yang lo pikir."
Raisa menatap Tirta. Ada sesuatu di tatapan itu yang terasa aneh — seperti hangat yang dikenalnya tapi gak tahu dari mana. "Lo selalu kayak gini, ya?"
"Kayak gimana?"
"Tenang. Nyaman."
Tirta tersenyum kecil. "Mungkin karena gue udah sering liat orang bingung sama dirinya sendiri. Lo gak sendirian, kok."
Raisa ikut tersenyum samar, tapi cepat-cepat mengalihkan pandangan. "Gue gak tahu kenapa... tapi tiap lo ngomong, gue ngerasa lebih tenang."
Tirta hanya menjawab dengan senyum tipis, tak berani berkata apa-apa lagi. Ia tahu Raisa gak ingat, tapi entah kenapa, duduk di ruangan yang sama dengannya selalu terasa seperti pulang.
Raisa masih menatap ke luar jendela, mendengarkan sisa hujan yang menetes pelan di balkon. Tirta memperhatikan dari meja, nadanya lembut tapi agak menegur.
"Lo tahu kan, besok lo ikut camping. Kenapa malah hujan-hujanan gitu? Nanti sakit gimana?"
Raisa diam sebentar, menunduk. "Gue cuma... lagi jalan aja. Gak mikir bakal kehujanan."
"Ya tapi tetep aja, lo harus jaga diri," ujar Tirta pelan, menuang lagi teh hangat ke cangkirnya. "Gue gak mau lo malah demam pas acara besok."
Raisa tersenyum tipis. "Lo perhatian banget, ya."
Tirta menatapnya, sedikit salah tingkah tapi tetap tenang. "Bukan perhatian, cuma... gak enak aja kalau lo kenapa-napa."
Hening lagi. Raisa menggigit bibirnya pelan, menatap ke arah Tirta yang sedang merapikan cangkir.
"Ta," panggilnya pelan.
Tirta menoleh. "Hm?"
"Besok pas camping... duduknya sama gue aja, ya?"
Tirta sempat terdiam, tak menyangka Raisa akan bilang begitu. "Kenapa emang?"
Raisa mengangkat bahu, matanya jujur tapi malu. "Gak tahu. Soalnya kalau deket lo, gue ngerasa tenang aja. Kayak gak perlu pura-pura kuat."
Tirta menatapnya lama, ada senyum kecil yang muncul tanpa sadar. "Oke. Kalau itu bikin lo nyaman, gue bakal duduk di sebelah lo."
Raisa menunduk, wajahnya memerah pelan. "Makasih, Tirta."
"Hmm?"
"Udah nolongin gue... dan gak banyak nanya."
Tirta mengangguk pelan. "Kadang gak semua hal harus dijelasin. Ada yang cukup dimengerti aja."
Raisa tersenyum kecil, lalu menyandarkan kepala di sandaran kasur. "Gue capek."
"Tidur aja," ujar Tirta lembut. "Gue ambilin selimut."
Ia berdiri, mengambil selimut dari kamar, lalu menutupkannya perlahan ke tubuh Raisa yang sudah mulai terlelap. Nafas Raisa teratur, matanya tertutup, wajahnya tenang sekali — berbeda jauh dari sebelumnya yang penuh resah.
Tirta berdiri di sisi sofa beberapa detik, menatapnya dengan raut campur aduk.
Perlahan ia mengambil ponsel dari saku, menggulir kontak, lalu menekan nama "Fathur".
Beberapa dering kemudian suara berat di ujung sana menjawab.
"Halo, Tirta?"
"Malem, Thur. Sorry ganggu... Raisa barusan gue temuin kehujanan di jalan. Sekarang dia lagi tidur di tempat gue. Kayaknya kecapekan banget."
Di ujung telepon terdengar Fathur menghela napas lega. "Astaga, syukurlah lo nemuin dia. Gue dari tadi ngehubungin dia gak aktif. Gue ke sana sekarang, ya?"
"Oke, dia lagi tidur nyenyak. Gue gak tega bangunin."
"Siap. Lo kirim aja lokasinya."
"Oke."
Setelah menutup telepon, Tirta menatap Raisa sekali lagi. Ia tersenyum samar, kemudian duduk di kursi seberang, membiarkan suasana hening menemani mereka.
"Tidur yang nyenyak, Sa," bisiknya pelan. "Nanti kakak lo yang jemput."
Beberapa belas menit kemudian, terdengar ketukan lembut di pintu. Fathur datang membawa jaket dan payung. Tirta membukakan pintu dan memberi isyarat agar tidak berisik.
"Dia di kamar tamu," ujar Tirta pelan.
Fathur menatap adiknya yang tertidur lelap, lalu menatap Tirta dengan penuh terima kasih.
"Makasih, Ta. Kalau bukan lo, entah dia udah gimana."
Tirta hanya tersenyum kecil. "Gue kebetulan lewat aja."
Fathur mengangguk pelan, lalu menggendong Raisa dengan hati-hati keluar dari apartemen. Tirta berdiri di depan pintu, memandangi mereka sampai menghilang di balik lorong.
"Hati-hati ya, Sa," gumamnya pelan, sebelum menutup pintu dan menatap kosong ke arah sofa yang baru saja ditinggalkan Raisa.
Ya ampun Tirta idaman banget gak si????
Bener-bener se tenang itu :)
Btw, terimakasih bagi kalian yg udah mau baca sampe sini
Jangan lupa Vote dan Comment nya yaaa
Tengkyuuu:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati
RomansaAku tak tau ini benar-benar cinta atau hanya sekedar suka. Apa mungkin ini hanya sekedar ujian? Ujian dari tuhan agar aku tak harus terus menutupi semua perasaan ini. Aku takut ini hanya sekedar perasaan yang singgah sementara, lalu pergi begitu saj...
