"Sometimes, the simplest glance says what words cannot."
***
[Scene: Sekolah – Siang Hari]
Reyhan sibuk di ruang OSIS, duduk bersama Olivia, sekretarisnya, mengatur daftar barang dan jadwal untuk kegiatan camping yang akan diadakan besok. Tumpukan dokumen, daftar peserta, dan proposal berserakan di meja.
"Rey, lo yakin daftar barang ini lengkap semua?" tanya Olivia sambil memeriksa daftar belanja.
"Iya, udah gue cek berkali-kali. Tapi kalo lo mau, bisa kita cross-check lagi nanti sebelum berangkat," jawab Reyhan sambil menunduk, tapi matanya sesekali menoleh ke arah jendela. Dari sana, Raisa terlihat lewat lorong sekolah.
Tatapan Reyhan tertuju padanya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Olivia memperhatikan, alisnya sedikit mengernyit. "Rey... lo lagi ngapain? Kok kayak... terus-terusan liat ke arah sana?"
Reyhan tersadar dan cepat menunduk. "Ah... nggak apa-apa, cuma ngecek kalo semua lancar buat camping nanti."
Sementara itu, Raisa yang berjalan melewati ruang OSIS sempat melihat Reyhan bersama Olivia. Ia menatap sebentar, berusaha menahan diri untuk tidak terlalu peduli, tapi hatinya tetap bergetar saat menyadari Reyhan menatapnya.
[Scene: Supermarket – Sore Hari]
Rak-rak supermarket dipenuhi aneka makanan dan minuman, aroma roti hangat dan kopi menyebar tipis di udara. Reyhan dan Olivia sibuk memilih bahan-bahan untuk bekal camping, mulai dari snack, roti, air mineral, hingga buah-buahan.
"Rey, lo yakin semua ini cukup buat persediaan?" tanya Olivia sambil menaruh beberapa roti ke keranjang belanja.
"Iya, kita hitung-hitung aja nanti. Yang penting nggak ada yang ketinggalan," jawab Reyhan, matanya sesekali menatap sekeliling.
Di tengah kesibukan, Reyhan melihat sosok yang tak disangka: Raisa sedang meneliti rak buah, tampak fokus dan tenang, meski rambutnya sedikit berantakan tertiup AC supermarket. Jantung Reyhan berdegup lebih kencang.
Ia menarik napas, menatap Olivia. "Oliv... gue izin bentar ya, gue ke sana dulu," katanya sambil menunjuk arah lain.
Olivia mengangkat alis, sedikit heran. "Hah? Kemana?"
"Tenang, bentar doang," jawab Reyhan cepat.
Reyhan melangkah mendekati Raisa. Raisa menoleh, sedikit terkejut, bibirnya membentuk senyum canggung. "Eh... Reyhan? Lo... ngapain di sini?"
Reyhan tersenyum samar. "Eh... gue nggak sengaja liat lo di sini. Gue lagi cari buah juga buat bekal camping," jawabnya, mencoba terdengar santai.
Raisa menunduk sebentar, hati berdebar. "Oh... okey..."
"Gimana kabar lo? udah siap buat besok?" Tanya Reyhan hati-hati.
Raisa tersenyum kikuk. "Baik kok Rey, udah siap semuanya tinggal perbekalan doang."
Mereka berdiri berdampingan, sesekali membicarakan pilihan buah dan snack. Suasana terasa hening tapi nyaman, hanya suara orang lain yang berlalu lalang di lorong supermarket.
Tiba-tiba, Olivia muncul dari arah rak minuman, wajahnya tampak sedikit kesal. "Reyhan! Lo kemana aja?! Katanya sebentar."
Raisa menatap Olivia sebentar, dada terasa panas dan canggung. Ia menelan ludah, matanya menatap Reyhan yang terlihat sedikit kaget.
Dengan napas berat dan perasaan campur aduk, Raisa memutuskan untuk mundur pelan-pelan. "Ah... gue... gue duluan ya ," gumamnya, sambil menyingkir ke lorong lain, meninggalkan Reyhan dan Olivia yang saling menatap sesaat.
Reyhan menunduk, napasnya tersendat, tapi tidak mengejar. Ia sadar, kadang perasaan itu perlu waktu untuk dicerna—dan Raisa butuh ruangnya sendiri.
[Scene: Jalan Kota – Sore Menjelang Malam]
Langit mendung menggantung berat. Gerimis pertama mulai turun, memercik di trotoar yang basah. Raisa berjalan tanpa arah, kantung belanja di tangannya sudah setengah basah, langkahnya pelan tapi berat.
Pikirannya masih kacau — bayangan Reyhan dan Olivia di supermarket terus berputar di kepalanya. Ia menunduk, berusaha menahan sesak di dada yang semakin menumpuk bersama dinginnya hujan.
"Kenapa sih... semuanya harus kayak gini," gumamnya pelan, suaranya nyaris tertelan derasnya hujan yang mulai turun semakin deras.
Ia tidak peduli. Tidak peduli pada tubuhnya yang mulai menggigil, tidak peduli pada tatapan orang-orang yang lewat. Ia hanya terus berjalan, seolah hujan bisa menghapus segalanya.
Dari kejauhan, lampu mobil menyala menembus tirai hujan. Mobil itu perlahan berhenti di tepi jalan. Dari dalam, Tirta menatap sosok Raisa yang berjalan tanpa arah. Matanya langsung melebar.
Tanpa pikir panjang, ia meraih payung dari jok belakang, membuka pintu, lalu bergegas keluar di bawah derasnya hujan. Langkahnya cepat, menembus genangan air.
Sesampainya di dekat Raisa, Tirta langsung mengangkat payungnya di atas kepala gadis itu.
Raisa sempat tersentak kaget, menoleh pelan—dan terdiam begitu melihat siapa yang berdiri di sampingnya.
Tirta menatapnya lembut. "Lo... kenapa hujan-hujanan gini? Lo tahu ini dingin banget, kan?" suaranya tenang tapi penuh khawatir.
Raisa tidak menjawab. Air hujan terus menetes di wajahnya, entah mana yang air mata, mana yang hujan.
Tirta hanya menarik napas panjang, lalu tanpa banyak bicara, menyampirkan jaketnya di bahu Raisa.
"Ayo," ucapnya pelan, menuntunnya ke arah mobil.
Raisa menatap Tirta sesaat, lalu mengikuti langkahnya dalam diam, hanya bunyi hujan dan deru napas yang tersisa di antara mereka.
[Scene: Dalam Mobil ]
Suara hujan menabrak kaca mobil dengan ritme yang pelan namun menusuk. Raisa duduk diam di kursi penumpang, jaket Tirta masih melekat di pundaknya. Tangannya saling menggenggam di pangkuan, dingin dan gemetar.
Tirta melirik sekilas ke arahnya, tapi tidak bicara apa-apa. Ia hanya menyalakan penghangat mobil, lalu melanjutkan menyetir pelan melewati jalan basah.
"Lo mau langsung pulang?" akhirnya Tirta bersuara pelan.
Raisa menggeleng tanpa menoleh. "Enggak. Gue... nggak mau pulang dulu."
Tirta mengangguk paham, tanpa banyak tanya. "Oke, ke apartemen gue aja ya. Lo bisa ganti baju, biar gak masuk angin."
Raisa diam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Makasih, Ta..."
Kasian banget ya Raisa:( untung ada Tirta yang selalu ada dimana pun
Ditunggu ya kelanjutannya, stay stune!<3
Jangan lupa Vomment, Thank youuuu.
Kalo kalian suka tolong tambahin ke perpustakaan kalian!
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati
RomanceAku tak tau ini benar-benar cinta atau hanya sekedar suka. Apa mungkin ini hanya sekedar ujian? Ujian dari tuhan agar aku tak harus terus menutupi semua perasaan ini. Aku takut ini hanya sekedar perasaan yang singgah sementara, lalu pergi begitu saj...
