"Falling for you was like breathing — I didn't even notice when it started."
***
"Cieee ada yang balikan nih," goda Nichole sambil nyengir lebar, menatap Tirta yang dari tadi gak lepas dari HP-nya.
"Apaan sih, lu berisik banget. Gak bisa ya liat sahabat lu ini bahagia?" sahut Tirta setengah malas, tapi senyum di bibirnya gak bisa disembunyiin.
Nichole melipat tangan di dada, pura-pura manyun. "Bahagia sih boleh, tapi dari tadi senyum-senyum sendiri tuh nyebar vibes bucin ke seluruh kelas. Jijik tau gak."
Tirta meliriknya sekilas, lalu tertawa kecil. "Lu iri aja gak ada yang ngabarin 'jangan lupa makan siang, ya'."
"Yaelah Ta, baru juga balikan dua hari udah kayak pasangan drama Korea," balas Nichole sambil melempar penghapus ke arah Tirta, tapi meleset.
"Dua hari tapi rasanya udah kayak setahun," jawab Tirta santai, menaruh HP-nya di meja dengan ekspresi puas. "Gue pikir gue gak bakal punya kesempatan kedua, tapi ternyata Raisa masih inget sedikit hal tentang gue. Cuma itu aja udah cukup."
Nichole mendengus, tapi senyumnya tipis. "Lu tuh bucin level akut, tau gak."
"Ya biarin," ucap Tirta santai. "Dulu kita cuma salah waktu, bukan salah orang. Jadi sekarang gue mau coba lagi di waktu yang tepat."
"Gila sih, Ta. Dulu lo gamon aja udah nyebelin, sekarang malah balik lagi ke sumbernya," goda Nichole sambil nyengir. "Emang Raisa doang yang bisa bikin lo selembek ini."
Tirta cuma nyengir, menatap keluar jendela kelas. Angin siang berhembus pelan, dan entah kenapa, pikirannya langsung terbang ke senyum Raisa—senyum yang dulu pernah hilang, tapi sekarang akhirnya balik lagi.
***
Langit siang itu cerah banget, sama cerahnya kayak senyum Raisa dari tadi. Earphone nempel di telinga, langkahnya ringan banget waktu dia jalan ke arah kantin. Di tangannya, ponsel masih nyala — chat terakhirnya sama Tirta belum sempat ditutup.
"Nanti sore aku jemput, ya."
Kalimat itu aja udah cukup bikin Raisa senyum-senyum sendiri.
Tapi senyum itu mendadak hilang waktu—
"Bruk!"
Tubuhnya sedikit oleng, hampir aja jatuh kalau bukan karena seseorang sigap menahan bahunya.
"Eh, sorry gue gak sengaja," ujar Raisa buru-buru, menunduk.
Begitu matanya mendongak, dunia seolah berhenti sepersekian detik.
Reyhan.
Dan di sebelahnya, Olivia — sekretaris OSIS yang belakangan ini selalu bareng sama dia.
Reyhan keliatan kaku. "Gak apa-apa," jawabnya pelan, suaranya datar tapi matanya sempat menatap Raisa agak lama.
Raisa berusaha tersenyum sopan, meski jantungnya mendadak gak karuan. "Oke, gue duluan ya."
Dia melangkah cepat, pura-pura sibuk membuka ponselnya lagi, padahal cuma biar gak kelihatan canggung.
Dari jauh, Olivia menatap punggung Raisa dengan pandangan sulit ditebak, sementara Reyhan masih sempat menoleh sekali — seolah ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka.
[Scene: Kantin Sekolah – Siang Hari]
"Ra! Di sini!" seru Naomi sambil melambai dari sudut kantin.
Raisa tersenyum, melangkah ke arah mereka dengan nampan berisi jus mangga dan roti isi di tangan.
Begitu duduk, suasana langsung terasa agak berbeda. Biasanya Milea paling rame — tapi kali ini cuma main-mainin sendoknya, ngaduk es coklat yang udah mencair separuh.
"Woi, kenapa sih lo akhir-akhir ini mellow banget? Kayak abis disiram badai," katanya sambil mengernyit.
Milea tersenyum miris. "Gue... putus sama Nichole."
Naomi langsung melotot. "HAH?! Seriusan?! Kok lo nggak cerita?"
Raisa yang duduk di samping Milea hanya terdiam. Ia mencoba tetap tenang, padahal jantungnya mulai berdegup canggung.
"Yaudah sih, emang udah waktunya aja mungkin," kata Milea pelan. "Lagipula... gue juga nggak nyalahin dia. Gue cuma... capek aja ngerasa semua berubah."
Naomi menatapnya dengan rasa iba. "Tapi kan lo sama dia udah lumayan lama, Lea."
"Ya makanya..." jawab Milea, berusaha tersenyum meski suaranya pelan banget. "Mungkin emang harus berhenti sebelum makin nyakitin."
Raisa menatap ke arah meja, jari-jarinya memainkan sedotan. Ia pengen ngomong sesuatu tapi takut salah.
"Terus," lanjut Naomi, "lo kenapa kayak galau banget? Biasanya juga lo kalo soal cowo nggak begini."
Milea menghela napas. "Gue juga nggak ngerti. Tirta juga tiba-tiba kayak... ngejauh gitu. Chat gue nggak pernah dibales. Padahal dulu dia selalu ada tiap gue lagi down."
Deg!
Raisa langsung membeku. Suara Tirta seolah menggema di kepalanya — "Gue mau lo jadi pacar gue, Sa."
Naomi langsung nyeletuk, "Tirta? Emang lo masih sering chatan sama dia?"
"Ya... iya. Maksud gue, dia kan dulu deket banget sama gue. Tapi sekarang, kayaknya dia sengaja ngehindar," kata Milea sambil menatap meja kosong di depannya. "Lucu aja sih. Dulu dia yang paling ngerti gue, sekarang malah kayak orang asing."
Raisa hanya bisa menelan ludah. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyesakkan dada. Tapi ia tetap mencoba tersenyum tipis. "Mungkin dia lagi sibuk kali, Le. Lo tahu sendiri kan dia orangnya cuek gitu."
Milea mengangguk, tapi senyumnya hambar. "Iya, mungkin."
Naomi menatap keduanya bergantian. "Tapi jujur ya, gue tuh ngerasa vibe lo akhir-akhir ini aneh, Sa."
Raisa tersentak kecil. "Aneh? Apanya yang aneh?"
"Entah, lo kayak... lebih bahagia aja gitu," goda Naomi sambil nyengir. "Ada yang disembunyiin, nih?"
Raisa langsung salah tingkah. Milea hanya ikut tersenyum tipis tanpa tahu kalau tebakan Naomi itu sebenarnya benar.
"Apaan sih, Nam. Gue bahagia karena lo berdua masih di sini aja udah cukup kok," jawab Raisa cepat, berusaha menutupi gugupnya.
Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu — senyum Milea barusan bukan cuma karena kehilangan Nichole. Ada luka lain yang mulai muncul, yang mungkin nanti akan lebih sulit dijelaskan saat kebenaran terungkap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati
RomantikAku tak tau ini benar-benar cinta atau hanya sekedar suka. Apa mungkin ini hanya sekedar ujian? Ujian dari tuhan agar aku tak harus terus menutupi semua perasaan ini. Aku takut ini hanya sekedar perasaan yang singgah sementara, lalu pergi begitu saj...
