DH 30 - Ruang Aman Bernama Kamu

22 2 0
                                        

Ketika Tirta membuka pintu kamarnya, ia kaget melihat ada Raisa di kamarnya. Lalu ia terdiam sejenak dan baru sadar bahwa Raisa memang sedang menginap di apartemennya. Bagaimana bisa ia melupakan Raisa yang dari kemarin berada di kamarnya.

"Sa, sorry gue lupa kalo lo masih disini." Ucapnya dengan nada sedikit panik.

"Ah gapapa kok, gue ngerti. Lo lagi ada masalah ya? Gue nggak sengaja denger tadi diluar kayak ada ribut-ribut gitu..." Ujar Raisa pelan.

Tirta hanya terdiam sejenak saat Raisa berbicara seperti itu, lalu Raisa menambahkan. "Ta, kalo lo lagi nggak baik-baik aja gapapa kok. Lo nggak usah pura-pura kuat." Sambil mendekat ke Tirta.

"Thanks ya, Sa. Biasanya gue yang nenangin lo, sekarang malah kebalik," Kata Tirta tersenyum tipis.

Raisa menatap Tirta dengan serius, sambil memegangi wajahnya. "Tirta, liat gue. Lo nggak perlu merasa seperti itu. Lo bisa jadi diri sendiri depan gue, lo nggak usah merasa terbebani atas semua yang lo alamin. Gue disini kok, kita hadapi bareng-bareng ya." Ucapnya dengan senyum tulus.

Tirta hanya bisa tersenyum malu mendengarnya, bagaimana bisa seorang Raisa yang kerjaannya tiap hari galau, tiba-tiba bisa jadi motivator seperti ini? Tirta langsung merebahkan diri di kasur dengan menekan wajahnya ke kasur karena salting, sambil memeluk kaki Raisa.

Tirta hanya bisa tersenyum malu mendengarnya, bagaimana bisa seorang Raisa yang kerjaannya tiap hari galau, tiba-tiba bisa jadi motivator seperti ini? Tirta langsung merebahkan diri di kasur dengan menekan wajahnya ke kasur karena salting, sambil ...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Raisa hanya terkekeh kecil melihat tingkah Tirta yang seperti anak kecil. Tapi entah kenapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa hangat. Ada sesuatu yang berubah malam ini. Mungkin karena suasana sunyi, mungkin juga karena keduanya sudah sama-sama lelah berpura-pura.

"Ta..." panggil Raisa pelan, menatap Tirta yang masih tenggelam di bantal. "Lo tuh lucu banget kalo lagi begini."

Tirta langsung menoleh, menatapnya heran. "Lucu apaan sih?"
"Lucu aja, biasanya lo cool banget, sok tenang, tapi sekarang kayak cowok yang baru aja ketahuan salting," jawab Raisa sambil menahan tawa.

Tirta ikut tertawa pelan, lalu duduk di tepi ranjang. "Ya mau gimana, lo tiba-tiba ngomong kayak gitu tadi. Gue jadi kagok sendiri."

Ia berhenti sebentar, menatap Raisa serius. "Sa, gue nggak tau ini waktu yang tepat atau bukan. Tapi gue cuman mau..." ucapnya menggantung, suaranya menurun perlahan.


Raisa menatap balik, bingung tapi penasaran. "Mau apa, Ta?"

Tirta menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Gue pengen kita bisa kayak gini terus ke depannya. Nggak cuma sebatas temen biasa."

Deg!

Jantung Raisa seketika bergedup kencang tidak beraturan. Kata-kata itu terasa menggema di kepala Raisa. Ia menatap Tirta tanpa suara, seolah ingin memastikan kalau yang barusan didengarnya bukan cuma khayalan.

"Lo... maksudnya?"

Tirta menatapnya lekat-lekat. Tatapan yang tenang, tapi penuh arti. "Gue mau lo jadi pacar gue, Sa. Tapi lo nggak harus jawab sekarang. Lo boleh mikir dulu. Gue cuma... nggak mau nyesel karena nggak pernah ngomong perasaan gue ke lo."

Suasana kamar hening sejenak.

Raisa tersenyum kecil, pipinya memanas. "Kata siapa gue perlu mikir?" katanya pelan tapi mantap.
Tirta menatapnya, terkejut. "Jadi... gue diterima nih?"

Raisa mengangguk malu.

Tirta tertawa kecil, lega, lalu tanpa sadar menarik Raisa ke pelukannya. "Gue masih nggak nyangka, Sa. Kok lo mau sih sama gue?"

Raisa menjawab pelan dengan malu-malu. "Ya... Ya gimana ya.. Lagian lo jago banget bikin anak orang nyaman. Selalu bikin gue tenang. Rasanya aneh aja kalau nggak ada lo."

Tirta terkekeh pelan, menatap Raisa yang kini wajahnya memerah. "Nyaman ya? Hati-hati, nanti lo malah ketagihan," godanya ringan, tapi matanya menatap tulus.

Raisa mencubit lengannya pelan, pura-pura kesal. "So pede banget sih," katanya sambil menunduk, menahan senyum.

Tirta tersenyum, pelukannya mengerat. "Gue juga, Sa. Lo selalu bisa bikin gue ngerasa manusia lagi, bukan cuma orang yang harus kuat terus."

Suasana kamar hening sejenak—bukan karena canggung, tapi karena keduanya sedang menikmati ketenangan yang jarang mereka rasakan. Pelukan itu berlangsung lama—hangat, sederhana, tapi jujur.

Tirta menarik napas panjang, lalu berbisik pelan, "Gue nggak janji hubungan kita bakal selalu mulus, Sa. Tapi gue janji, setiap lo ngerasa dunia lo berantakan, gue bakal tetap disini."

Raisa menatap Tirta, matanya berkilat lembut. "Dan gue juga bakal di sini, tiap kali lo ngerasa capek jadi kuat terus."

Tirta tersenyum kecil, lalu menepuk punggung Raisa pelan. "Deal, berarti mulai sekarang kita saling jaga, ya?"

Raisa mengangguk pelan, masih dalam pelukan Tirta. "Iya, saling jaga," jawabnya pelan tapi mantap.

Beberapa menit kemudian, Raisa perlahan melepaskan diri dan merebahkan kepalanya di bahu Tirta. "Gue masih nggak nyangka aja... akhirnya kita kayak gini," gumamnya lirih.

Tirta menatapnya dengan senyum kecil. "Ya, gue juga. Mungkin semua kejadian yang ribet kemarin emang harus terjadi, biar kita sampai di titik ini."

Raisa mengangguk kecil, lalu berucap pelan, "Ta... makasih ya. Udah sabar sama semua drama gue."
"Dan lo juga, makasih udah dateng di waktu gue butuh seseorang," balas Tirta lembut.

Raisa akhirnya tertidur pelan di bahu Tirta, napasnya stabil. Tirta menatap wajahnya sebentar, senyum kecil muncul di bibirnya. Ia membenarkan selimut di tubuh Raisa, lalu berbisik pelan, "Selamat malam, Sa. Mulai sekarang, kita hadapi semuanya bareng, ya."

Tirta menatap langit-langit kamar, hatinya perlahan tenang. Untuk pertama kalinya setelah hari yang panjang, ia merasa lega—karena dari semua kekacauan yang terjadi, akhirnya ada satu hal yang terasa benar.

Dari HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang