"Sometimes silence says everything you're too afraid to ask."
***
Reyhan menatap layar ponselnya yang gelap cukup lama. Jemarinya ragu menekan nama "Raisa" di daftar kontak, tapi pikirannya terus menolak untuk diam. Sejak mereka pulang dari camping kemarin, ia tidak bisa berhenti memikirkan tatapan Raisa yang datar saat ia mengajaknya bicara.
Ia menarik napas panjang, lalu akhirnya menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar — satu kali, dua kali, tiga kali.
"Haloo?" suara Raisa di seberang sana terdengar lembut, sedikit serak seperti baru bangun.
"Raisa... ini gue, Reyhan."
"Hm, iya. Ada apa?" jawab Raisa pelan.
Reyhan menelan ludah. "Gue cuma mau nanya... lo masih inget yang gue bilang kemarin?"
Raisa terdiam sejenak, memutar otaknya. "Yang... tentang ketemu setelah camping?"
"Iya, itu."
Suasana di antara mereka mendadak sunyi. Hanya suara kipas dan napas yang saling tumpang tindih di antara dua ujung telepon.
"Gue belum tahu, Han..." Raisa akhirnya menjawab lirih. "Masih banyak hal di kepala gue sekarang. Mungkin bukan waktunya dulu."
Reyhan tersenyum kecil, meski hatinya terasa berat. "Oke. Gue ngerti. Gue cuma pengen lo tahu, gue nggak akan maksa, kok. Cuma... kalau suatu hari lo siap, gue bakal ada."
Raisa terdiam beberapa detik. "Makasih, Han."
"Iya."
Telepon terputus. Reyhan menatap layar ponselnya lama, hingga pantulan wajahnya sendiri terlihat di sana — sendirian, tapi tetap menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak yakin akan datang.
Keesokan harinya, Raisa duduk di bangku taman sekolah saat jam istirahat hampir berakhir. Pandangannya berkali-kali menoleh ke arah Reyhan yang sedang bersama Olivia, tapi ia memilih bersikap dingin, menahan diri agar tak terlihat terlalu memperhatikan. Beberapa kali mereka papasan, dan tatapan Reyhan tertahan sesaat, seolah ingin bicara, tapi Raisa tetap berjalan dengan langkah tenang—atau setidaknya mencoba.
Begitu bel pulang berbunyi, Raisa segera mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol panggil Tirta.
Suara sambungan terdengar, di sisi lain Tirta mengangkat teleponnya.
"Halo, Sa. Kenapa?" tanyanya tenang.
"Lo lagi free ngga? Gue pengen ke apartemen lo, mau ngobrol sebentar," jawab Raisa cepat.
Tirta menghela napas ringan. "Mau gue jemput?"
Raisa tersenyum tipis. "Nggak usah, Ta. Gue bisa kesana sendiri."
"Ya udah, hati-hati di jalan ya. Gue tunggu di apartemen," balas Tirta sambil tersenyum samar.
Raisa mengangguk pelan, menutup telepon, lalu bersiap untuk berangkat ke apartemen Tirta.
Raisa menggigit bibirnya pelan, merasa sedikit lega. Walau hatinya masih campur aduk soal Reyhan, setidaknya hari ini ada seseorang yang bisa ia temui untuk berbagi.
Reyhan, yang beberapa langkah di belakangnya, menyadari hal itu. Pandangannya tertahan pada sosok Raisa, hatinya campur aduk antara bingung dan cemas. Ia ingin menghampirinya, tapi Raisa seolah memberi jarak. Ia menghela napas, memutuskan untuk menunggu kesempatan berikutnya.
[Scene: Apartemen Tirta – Sepulang Sekolah]
Raisa berdiri di depan pintu apartemen Tirta, ia menatap pintu itu, menarik napas panjang, lalu menekan bel tersebut secara perlahan.
Tirta membukakan pintu. "Lo sendiri kesini?" tanya nya santai
Raisa mengangguk, meletakkan tas ranselnya di sofa. "Iya... gue pengen ngobrol langsung aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati
Roman d'amourAku tak tau ini benar-benar cinta atau hanya sekedar suka. Apa mungkin ini hanya sekedar ujian? Ujian dari tuhan agar aku tak harus terus menutupi semua perasaan ini. Aku takut ini hanya sekedar perasaan yang singgah sementara, lalu pergi begitu saj...
