DH 32 - Biar Dia Tahu

25 2 0
                                        

[Scene: Gerbang Sekolah Raisa – Sore Hari]

Sinar matahari sore masih hangat waktu Raisa melangkah keluar gerbang. Rambutnya dibiarkan tergerai, tas disampirkan di satu bahu. Ia baru saja pamit ke Milea dan Naomi yang masih nongkrong di kantin.

Begitu menyeberang ke depan sekolah, suara klakson pendek membuatnya menoleh.
Mobil hitam berhenti di pinggir jalan. Jendela bagian pengemudi perlahan turun — menampakkan wajah Tirta yang tersenyum santai.

"Ayo naik," katanya pelan.

Raisa spontan menoleh kanan-kiri, memastikan gak ada teman yang lihat. "Ya ampun, Ta... jangan parkir depan gerbang gitu dong."

Tirta terkekeh. "Emang kenapa? Cowok lo sendiri kok malu?"
Raisa mendecak, tapi pipinya jelas memerah. "Bukan gitu... Ntar aku cerita deh."

"Kenapa? Ada masalah?" tanya Tirta, menatap Raisa serius.
Raisa menggeleng pelan. 

Tirta menghela napas, lalu keluar dari mobil dan berjalan mengitari ke arah pintu penumpang. Ia membukakan pintu untuk Raisa, membuat beberapa siswi yang lewat melirik penasaran.

"Udah, masuk. Nanti keburu hujan," katanya dengan nada lembut.

Raisa akhirnya masuk, masih setengah gugup. Begitu pintu tertutup, mobil melaju perlahan meninggalkan sekolah.

"Gimana hari ini?" tanya Tirta sambil nyengir kecil. "Ada yang bikin capek?"

Raisa menoleh sebentar, lalu menarik napas pelan. "Ta, kamu kok nggak cerita ke aku kalo Milea sama Nichole putus?" Tanyanya keheranan.

Tirta melirik sekilas ke arah Raisa, lalu kembali fokus ke jalan. Bibirnya menekan tipis, seolah menahan sesuatu.
"Dari siapa kamu tahu?" tanyanya tenang, tapi suaranya terdengar sedikit tegang.

Raisa menatap Tirta dengan alis berkerut. "Dari Milea sendiri. Tadi pas di kantin dia cerita."

"Hmm." Tirta hanya menggumam, tangannya mengetuk setir pelan.

"Ta," Raisa memanggilnya lagi, nada suaranya pelan tapi tajam, "kamu tahu mereka udah putus? Tapi kamu diem aja dari kemarin?"

Tirta menarik napas panjang, lalu menghela pelan. "Aku tahu. Tapi aku pikir, itu bukan hal yang harus aku kasih tahu ke kamu."

"Kenapa emang?" Raisa menatapnya, matanya mulai kehilangan senyum. "Ada yang kamu sembunyiin dari aku?"

Mobil berhenti di lampu merah. Tirta menoleh penuh ke arah Raisa kali ini. Tatapannya tenang, tapi dalam.
"Engga ada sayang, emang belum sempet cerita aja kemarin."

"Belum sempet cerita," Raisa mengulang pelan, suaranya terdengar getir. "Atau kamu emang nggak mau aku tahu?"

Tirta menelan ludah, pandangannya balik ke depan. Lampu sudah hijau, mobil kembali melaju pelan di bawah rintik hujan yang makin deras.
"Sa, aku cuma nggak pengen kamu kepikiran. Kemarin aja semuanya udah ribet. Milea, Nichole, Fahri..."

"Fahri?" Tanya Raisa keheranan.

Tirta menarik napas panjang, tangan masih di setir, tapi matanya sesekali melirik Raisa.
"Ya... waktu itu Fahri juga ada di tengah-tengah semua keribetan Milea sama Nichole. Aku pikir, kalo aku cerita ke kamu semua detailnya, kamu bakal... ikut stres juga. Kamu tau kan kemarin aku gimana?"

Raisa menatapnya, lalu suaranya pelan tapi tulus. "Aku ngerti, Ta... tapi... Milea hari ini cerita di sekolah, dia galau banget karena chatnya sama kamu nggak dibales lagi. Dia nggak ngerti kenapa tiba-tiba kamu ngejauh dari dia."

Tirta menoleh sebentar, raut wajahnya sedikit tegang. "...Iya, gue emang nge-cut off dia. Dia putus sama Nichole, gara-gara nyaman sama gue. Sebenernya gue nggak ada maksud apa-apa, tapi gue nggak expect dia bakalan bilang kayak gitu ke Nichole."

Dari HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang