"Some people leave, but the memories stay — soft, unbothered, and eternal."
-Flashback On-
Langit sore berwarna oranye pucat. Di halaman belakang sekolah, dua anak SMP duduk bersisian di atas bangku kayu tua. Raisa memegang gitar kecil berwarna cokelat muda, sementara Tirta memperhatikan jemari Raisa yang berusaha menekan senar dengan benar.
"Salah tuh, jari lo harusnya di senar ketiga, bukan kedua," kata Tirta sambil tertawa kecil.
"Serius lo? Nih, gue udah coba dari tadi juga bunyinya aneh," keluh Raisa, mengerucutkan bibirnya.
Tirta mendekat sedikit, tangannya membantu menempatkan jari Raisa di posisi yang benar. "Nah, gitu. Sekarang coba petik."
Suara chord G mengalun pelan, agak fals, tapi cukup merdu di telinga mereka berdua.
"Wih! Akhirnya bisa juga!" seru Raisa dengan semangat.
Tirta tersenyum, "Tuh kan, gue bilang juga bisa. Lo cuma kurang sabar."
Raisa menatap Tirta lama, lalu tertawa kecil. "Lo tuh sok banget, tapi makasih ya, guru musik dadakan."
"Gue nggak sok, gue emang berbakat," Tirta menjawab dengan gaya percaya diri khas anak SMP yang pura-pura cool, membuat Raisa menepuk lengannya pelan.
Dari momen-momen kecil seperti itu, kedekatan mereka tumbuh tanpa mereka sadari. Mereka sering pulang bareng sepulang sekolah, saling berbagi bekal, dan tertawa untuk hal-hal receh yang bahkan nggak lucu.
Hingga suatu sore, di taman yang sama tempat mereka sering nongkrong, Tirta dengan gugup menyerahkan secarik kertas kecil.
"Apaan nih?" tanya Raisa heran.
"Baca aja dulu," jawab Tirta cepat, menggaruk tengkuknya.
Tulisan di kertas itu sederhana:
"Gue nggak tau ini perasaan apa, tapi gue pengen lo jadi orang yang pertama gue suka... dan mungkin yang terakhir juga."
Raisa membaca pelan, lalu menatap Tirta yang wajahnya memerah setengah mati. Ia tersenyum kecil. "Jadi... ini semacam nembak gue gitu?"
Tirta mengangguk pelan, matanya gugup. "Iya, tapi lo jangan diketawain ya kalau nolak."
Raisa tertawa kecil, lalu menjawab pelan, "Gue nggak nolak kok."
Dan begitulah, hari itu menjadi awal dari kisah kecil mereka — dua anak SMP yang jatuh cinta dengan cara paling polos dan sederhana.
Beberapa Bulan Setelahnya....
Hubungan mereka berjalan tenang, penuh canda dan kebersamaan. Tapi waktu berlalu, dan keadaan berubah. Tirta mulai sibuk dengan les dan kegiatan lain, sementara Raisa harus pindah rumah lebih jauh dari sekolah.
Mereka jarang bertemu, jarang berkomunikasi, hingga akhirnya sama-sama menyadari bahwa hubungan itu mulai renggang.
Suatu sore, mereka bertemu di taman yang sama — tempat pertama mereka belajar gitar bersama. Tirta membawa gitarnya, dan Raisa datang dengan sebotol minuman dingin di tangan.
"Udah lama banget ya kita nggak nongkrong di sini," kata Raisa sambil menatap langit.
"Iya," jawab Tirta singkat, duduk di sampingnya.
Raisa meminjam gitar Tirta dan mulai memetik gitar perlahan, memainkan lagu kesukaan mereka dulu. Tirta tersenyum mendengarnya.
"Lo masih inget lagunya," ucapnya pelan.
"Masih dong, ini lagu yang pertama kali lo ajarin," jawab Raisa.
Mereka tertawa kecil bersama, lalu suasana menjadi hening beberapa detik.
"Tirta..."
"Hmm?"
"Kayaknya kita udah mulai beda arah ya?"
Tirta menatap Raisa lama, lalu menghela napas. "Iya, gue juga ngerasa gitu. Tapi nggak apa-apa, Sa. Bukan karena gue nggak sayang, cuma... kita tumbuh, dan kadang arah tumbuhnya nggak selalu sama."
Raisa tersenyum, menahan perasaan yang sulit dijelaskan. "Gue ngerti kok. Gue juga nggak mau hubungan ini jadi beban buat siapa pun."
Tirta mengangguk pelan. "Tapi lo tetep orang yang bakal gue inget, Raisa. Bukan cuma karena kita pernah bareng, tapi karena lo bagian dari masa gue yang paling tenang."
Raisa menatap Tirta dengan mata berkaca-kaca, lalu tersenyum. "Kita nggak harus lupa, kan?"
"Enggak. Kita cukup ingat, tanpa harus nyesek."
Mereka pun tertawa kecil, seolah memahami bahwa kadang, perpisahan yang baik bukan tentang hilang, tapi tentang merelakan dengan hati yang masih hangat.
Sore itu, Tirta menutup lagu dengan petikan gitar terakhir. Raisa menatapnya lama, lalu berdiri.
"Gue harus balik, Ta."
"Iya. Hati-hati ya, Sa."
Raisa tersenyum kecil, lalu pergi meninggalkan taman itu perlahan. Tirta tetap duduk, memainkan gitar dengan senyum tipis — antara sedih dan bahagia, tapi penuh ketenangan.
Ternyata kisah cinta mereka semanis itu ya? Hubungan berakhir pun mereka masih berusaha dewasa dan gak ada yang tersakiti huhuhu
Stay tune ya untuk kelanjutannya, thanks yang udah mau baca cerita akuu!<3
Jangan lupa vote dan komen yaw
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Hati
RomanceAku tak tau ini benar-benar cinta atau hanya sekedar suka. Apa mungkin ini hanya sekedar ujian? Ujian dari tuhan agar aku tak harus terus menutupi semua perasaan ini. Aku takut ini hanya sekedar perasaan yang singgah sementara, lalu pergi begitu saj...
