DH 8 - Boleh aku peluk kamu?

77 4 0
                                        

-Sometimes, when your heart is broken u need people who understand what you feel-

"Kita ke apartemen gue aja, gimana?" tanya Tirta sambil menahan senyum, tetap fokus mengendarai motornya.

Raisa hanya mengangguk pelan, sedikit lega. Mereka pun melaju, melewati jalanan yang mulai sepi sore itu.

Setelah beberapa menit, mereka tiba di apartemen Tirta, yang juga ditinggali Nichole. Tirta membuka pintu apartemen dan Raisa masuk, masih tampak bingung tapi mulai merasa nyaman.

Nichole baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih setengah basah, ketika matanya membesar melihat Raisa duduk di ruang tamu apartemen. 

"Eh... Raisa? Lagi ngapain di sini?" batin Nichole, matanya menatap Tirta seolah menanyakan situasi.

Tirta menoleh sebentar ke arah Nichole dan menggerakkan matanya, memberi isyarat agar Nichole pergi sebentar. Nichole mengangguk pelan, tersenyum tipis, lalu meninggalkan ruang tamu.

Setelah itu, Raisa menarik napas panjang dan menatap Tirta. Suaranya terdengar lembut namun masih terselip kegelisahan.

"Ta... gue... gue galau banget sama Reyhan," ucap Raisa memulai curhatnya. "Hari ini di sekolah dia dingin banget sama gue, terus pas di lorong gue tabrakan sama dia... dan buku gue sampai berhamburan. Gue nggak ngerti kenapa sikapnya bisa beda banget gitu. Rasanya campur aduk, bingung, kesal, dan sedih semua ada."

Tirta duduk di sampingnya, menatap Raisa dengan penuh perhatian. Ia tetap diam, sesekali mengangguk, membiarkan Raisa melanjutkan curhatnya tanpa interupsi.

"Gue... gue nggak tau harus cerita ke siapa lagi, Ta," lanjut Raisa pelan. "Gue cuma pengen ada yang ngertiin gue, tapi juga nggak mau bikin orang lain repot. Makanya... gue cerita ke lo aja."

Tirta tersenyum tipis, memberi isyarat dengan tenang, "Santai, Raisa. Gue dengerin lo. Cerita aja semua, gue di sini buat lo."

Raisa merasa sedikit lega, dan perlahan mulai membuka semua perasaannya tentang Reyhan, tentang kegalauan yang selama ini ia pendam, sementara Tirta tetap menjadi pendengar yang sabar.

Raisa menarik napas panjang, matanya sedikit memerah karena menahan perasaan yang bercampur aduk. Ia menatap Tirta, ragu-ragu sebentar.

"Ta... gue... gue pengen... peluk lo," ucapnya lirih, suaranya hampir tersedak.

Tapi sebelum Tirta sempat menjawab, ia langsung meraih Raisa dan memeluknya dengan hangat. Tangan Tirta menepuk lembut punggung Raisa, sementara tangannya yang lain dengan lembut mengelus kepala teman kecilnya itu.

Raisa terkejut sejenak, tapi perlahan tubuhnya rileks dan menumpahkan semua beban hatinya di pelukan Tirta.

"Shh... santai aja, Raisa. Gue di sini kok," bisik Tirta sambil menahan senyum, membuat Raisa merasa nyaman dan aman.

Beberapa menit mereka diam, hanya menikmati keheningan dan rasa lega yang hadir. Perlahan, senyum tipis muncul di wajah Raisa. Ia merasa ringan, seolah semua kegalauannya perlahan tersapu oleh pelukan hangat Tirta.

"Thanks, Ta... gue nggak tau harus bilang apa. Rasanya... lega banget," ucap Raisa akhirnya, suaranya lebih tenang.

Tirta menarik napas dan tersenyum, "Ya udah, nggak usah terlalu dipikirin. Gue selalu ada buat lo, Raisa."

Raisa perlahan melepaskan diri dari pelukan Tirta, masih duduk di sampingnya di sofa apartemen. Ia menatap Tirta dengan mata yang sedikit berkilau.

"Gini deh... gue nggak ngerti kenapa gue bisa se-galau ini sama Reyhan. Padahal dia sahabat lo juga, Ta. Tapi kenapa gue jadi ngerasa... ribet banget," keluh Raisa sambil menghela napas panjang.

Tirta mendengarkan dengan sabar, mencondongkan badan sedikit ke arah Raisa. "Heh, gue ngerti kok, Raisa. Kadang perasaan nggak bisa dikontrol, apalagi kalau udah deket sama seseorang yang penting buat lo. Tapi gue yakin lo bakal bisa ngeresapi semuanya tanpa nyakitin diri sendiri," ucapnya lembut.

Raisa tersenyum tipis, "Iya, tapi... gue cuma pengen bisa ngomong sama seseorang, tanpa dihakimi. Dan ternyata lo satu-satunya yang gue percaya buat dengerin semua ini."

Tirta menepuk bahu Raisa lagi, "Ya udah, tugas gue. Santai aja. Kita ngobrol apa aja, lepas aja, nggak usah mikirin siapa yang bener atau salah sekarang."

Raisa mengangguk sambil tersenyum lebih lega. "Hmm... oke, Ta. Gue cerita deh, dari awal sampe sekarang. Semua galau gue, semua kesal gue sama Reyhan, sama Fahri, sama keadaan sekolah..."

Tirta tersenyum sambil menyeruput teh hangat yang ia buat sebelumnya. "Santai, gue dengerin. Mulai aja dari mana aja."

Raisa mulai bercerita panjang lebar, tentang kegalauannya dengan Reyhan, Fahri yang tiba-tiba datang meminta baikan, sampai kesal dengan sikap teman-temannya di sekolah. Tirta sesekali mengangguk, memberi komentar ringan yang bikin Raisa tersenyum, atau menepuk punggungnya dengan lembut agar terasa nyaman.

Beberapa menit kemudian, suasana berubah lebih ringan. Raisa bahkan tertawa kecil saat Tirta menirukan ekspresi Fahri yang selalu nyebelin. "Hahaha, gila... gue nggak nyangka sih lo bisa niru Fahri sampe lucu gini, Ta!" ujar Raisa sambil menutup wajahnya.

Tirta tersenyum, "See? Gue kan ngerti karakter dia. Gue juga tau lo butuh hiburan, jadi gue kasih yang sedikit ketawa lah."

Raisa menatap Tirta, merasa lebih ringan di hati. "Thanks banget, Ta. Rasanya... semua beban gue tadi kayak keangkat semua."

Tirta menepuk kepala Raisa lagi lembut. "Ya, itu yang gue mau. Lo senyum aja, itu udah bikin gue seneng. Semua masalah lain... kita hadapin pelan-pelan, ya?"

Raisa mengangguk, senyum tipis terpasang di wajahnya. Hatinya lebih tenang, merasa lega karena bisa bercerita pada Tirta yang selalu ada tanpa menghakimi.

Mereka duduk di apartemen itu hingga sore berganti malam, bercengkrama, tertawa, dan sesekali diam menikmati keheningan yang nyaman. Raisa tahu, punya Tirta di sisinya membuatnya merasa aman, bisa jadi tempat melepas semua beban hati tanpa rasa takut






Jangan lupa Vomment, bagi yg bingung sama ceritanya tunggu next partnya. Dan jangan lupa refresh ceritanya karna ada beberapa cerita yg di ganti,tq!:)

Dari HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang