Bab 26 | Si Preman Pasar

454 60 14
                                    

Hati-hati gemes baca part ini🤣

BUDAYAKAN VOTE SEBELUM MEMBACA

BUDAYAKAN VOTE SEBELUM MEMBACA

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Humaira Merindu

1 Oktober 2022
.
.
.

Humaira melambaikan tangan pada kedua temannya yang masih berdiri di gerbang pesantren. Kaca mobil sengaja dibuka untuk memudahkan si gadis mengucapkan sampai jumpa pada Iwa dan Ima. Dia sudah dijemput oleh Pak Yahya dan Umi Metty. Sedangkan, jejeran santri yang masih berdiri di gerbang pesantren tengah menunggu keluarga.

"Hati-hati, Ra!" Teriak Ima seraya melambaikan tangan.

Humaira mengangguk sebelum kembali duduk nyaman di kursi penumpang. Kaca mobil perlahan tertutup, menciptakan kesenyapan kosong. Sang gadis lebih memilih memusatkan perhatian pada jalanan yang dilewati. Hal itu tentu mengundang tanya bagi Umi Metty yang memperhatikan dari kaca kemudi.

"Ira? Kenapa diam aja, sayang? Ada masalah?" Pertanyaan dengan tutur kata lembut itu keluar dari bibir sang wanita berkhimar hitam.

Tak langsung menjawab, Ira menggeleng lemah. "Nggak ada apa-apa, Umi."

Umi Metty tersenyum maklum, dia tahu betul ada sesuatu yang membuat senyum si gadis tak nampak sama sekali. Namun, di sisi lain wanita itu sadar bahwa Humaira juga memiliki batasan untuk dicampuri masalahnya.

Keluarga cemara itu bergegas turun dari mobil begitu tiba di Bandara Abdulrachman Saleh, Malang. Mereka menunggu beberapa saat hingga bisa memasuki pesawat. Seperti biasa, tak ada yang lebih nikmat daripada duduk di dekat jendela dan Humaira tak ingin melewatkan hal itu.

Sang gadis masih setia dengan keterdiamannya hingga pesawat lepas landas. Netra itu menatap gumpalan awan putih bercampur hitam. Tentu dia masih ingat betul bagaimana Mahendra melontarkan sorot penuh kekecewaan ketika mendapati surat balasan dari sang gus.

Jemari putih yang tengah menggenggam surat beraroma parfum arab laki-laki itu bergerak gelisah. Kaca bening menghiasi mata yang saat ini memandang gumpalan awan putih. Hatinya tak tenang begitu kalimat Mahendra tempo hari kembali terngiang di telinga.

"Sekalipun gue nggak pernah ninggalin lo, Ra. Tapi, kenapa lo nggak pernah lihat keberadaan gue?"

Kegundahan Humaira begitu terjaga hingga kakinya menginjak bandara Soekarno-Hatta. Bahkan, ketika mobil yang ditumpangi menuju rumah, gadis itu hanya memilih diam seraya melamun menatap jalanan sibuk Jakarta.

Mobil yang ditumpangi Pak Yahya berhenti karena kemacetan ibu kota. Humaira menyapukan pandangan pada masjid besar dekat jalan raya. Jejeran sandal di pelataran tempat peribadahan itu membuat atensi sang gadis tersita. Bukan karena hal lain, melainkan karena sosok pemuda bercelana jeans dengan kemeja flanel tak terkancing baru saja keluar dari sana.

Humaira Merindu Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang