06

754 57 18
                                        

Jeno mendesah. "Kau pasti tak akan menyukaiku lagi."

"Siapa bilang aku suka padamu sekarang?"

Jeno melirik Renjun. "Aku telah melakukan sesuatu yang sangat buruk."

Hati Renjun terasa melompat.

Jeno mengembuskan napas dengan gemetar. "Aku sudah mengambil hampir sebanyak yang aku bisa dari diriku sendiri."

Pikiran Renjun berlari menuruni jalan puing-bencana. "Apa yang telah kau lakukan?"

"Bukan hanya satu hal. Banyak hal. Beberapa lebih buruk daripada yang lain. Ya Tuhan, aku berharap aku mabuk. Itu akan membuatnya lebih mudah." Bahunya merosot.

"Kalau begitu lebih baik kau tidak mabuk."

Jeno tertawa, tapi tidak ada kehangatan di dalamnya. "Atau teler," tambahnya.

Jeno mencengkeram begitu keras, Renjun meringis dan mencoba untuk melepaskan jari-jarinya.

"Jangan melepaskan tangan sialanku," bentak Jeno.

"Sudah kubilang aku tak akan melepaskanmu." Renjun memindahkan tangannya yang lain, mengencangkan genggaman di antara mereka.

"Aku mengacaukan segalanya. Bukan hanya hidupku, tapi hidup orang lain juga." Jeno meneguk seteguk air. "Aku meniduri anak sekolah empat belas tahun di sebuah pesta dan memberikannya kokain, dan aku bahkan tidak bisa ingat namanya dan sekarang dia dalam keadaan koma. Aku bisa saja dikirim ke penjara. Aku harusnya berada di penjara." Matanya tetap menatap ke bawah.

Renjun telah mengatakan pada Jeno bahwa dirinya tidak akan mengejutkan Renjun, tapi sekarang Jeno pasti telah mengejutkannya.

Suaranya menghilang menjadi bisikan yang monoton. "Aku tidak menyadari betapa masih mudanya dia. Dia bilang dia berumur enam belas tahun. Aku memegang kata-katanya. Aku kesal karena kupikir dia telah menyembunyikan celana boxerku. Aku berbohong pada polisi tentang apa yang telah kulakukan. Kupikir aku akan ditangkap."

Renjun tidak mengatakan apa-apa.

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Jeno dengan suara serak. "Katakan padaku. Ayolah. Aku tahu betapa brengseknya aku."

"Kalau begitu aku tak perlu mengatakannya."

Jeno mengerang.

"Apa kau meminta dia melakukan apa saja yang tidak ingin dia lakukan?" Tanya Renjun.

Jeno menggelengkan kepalanya. "Dia turun ke lantai bawah menari setelah aku pergi. Minho memberinya banyak kokain. Polisi menangkapnya."

Renjun tahu dia bisa menunjukkan Jeno tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi setelah dia meninggalkan pesta, bahwa ia tidak tahu persis apa yang Minho lakukan atau berikan pada gadis muda itu, tapi tidak satupun tingkah lakunya bisa dimaafkan.

"Apakah kau tidak akan memberitahuku bahwa itu bukan salahku?" Jeno mengangkat matanya yang gelap menatap Renjun.

"Apakah itu yang temanmu katakan padamu? atau itu yang terus kau katakan pada dirimu sendiri?"

"Aku tak tahu." Jeno mengguncang kepalanya ke dinding.

"Aku tak akan mengatakan itu padamu," kata Renjun. "Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam hidupmu, seperti aku."

Kepala Jeno berputar. "Tapi apa yang Hyunjin lakukan padamu itu bukan salahmu. Ya Tuhan, itu bukan alasan untuk bunuh diri, karena kau ditipu dan dicampakkan oleh pria idiot. Cari pria lain. Ada banyak di luar sana. Tidak semua pria bajingan."

"Tidak semudah itu."

"Ya, memang."

Jantung Renjun serasa diremas dalam dadanya, tangannya mencoba untuk memaksa masuk ke dalam ruang yang terlalu kecil. "Itu sangat mudah bagimu. Kau terkenal, kaya dan seksi. Satu senyuman darimu dan wanita berbaris untuk tidur denganmu."

tramontane [noren]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang