14

733 45 0
                                        

warn! NSFW/mature content!🔞



Pada saat Renjun tiba di Galeri Liu Art , sudah hampir jam tujuh. Sebuah insiden di kereta bawah tanah membuat jalur ditutup dan semua jadi kacau balau. Renjun berharap ia akan mendapat tumpangan pulang ke Dobong-gu dengan Yangyang dan Jaemin, tapi jika mereka tidak berencana untuk tutup jam sepuluh, Renjun akan pulang sendiri karena dia tahu Jeno akan datang.

Tanda tutup masih terpasang, tapi pintu terbuka sedikit dan bel berdenting.

"Kunci setelah kau masuk," seru Yangyang.

Renjun tidak bisa melihat siapa pun. "Bagaimana kau bisa tahu ini aku?"

"Lukisan terbaru Gustav Mazov. Ada sebuah lubang. Lihat." Yangyang menjulurkan kepalanya walaupun ada kanvas merah besar tergantung di tengah galeri dan memasang muka aneh. Renjun pura-pura ngeri.

Jaemin muncul dari kantor, memegang sebotol anggur. Dia menatap Yangyang dan mendesah. "Aku berharap aku bisa mengatakan itu meningkatkan karya seniman itu, tapi aku tidak bisa. Ingin minum, Renjun?"

"Gelas yang sangat besar saja."

"Kau sudah menduga apa kesenangan yang terbentang di depan, kan?" Jaemin memasang muka yang mirip dengan Yangyang.

Renjun mengambil gelas dari tangannya. "Kapan kalian berdua akan keluar lagi?"

"Pergi makan besok," kata Jaemin dengan senyum konyol.

"Nah, kalian bisa pergi ke pub malam ini, jika kita bisa menyelesaikan ini dengan cepat." Renjun tidak menambahkan bahwa dia ingin mereka untuk memilih sebuah pub di Dobong-gu sehingga mereka bisa mengantarnya pulang.

Galeri Liu Art sebagian besar dipenuhi wisatawan Seoul, namun Yangyang menggunakan satu lampiran untuk menampilkan karya yang lebih inovatif. Pameran pertama dibuka beberapa minggu setelah mereka pindah ke apartemen di Dobong-gu. Yangyang mengajak Haechan dan Renjun untuk membantu membuat galeri terlihat ramai dan berpura-pura untuk membeli lukisan.

Jaemin juga berada di sana karena salah satu karyanya tergantung di dinding. Malam itu, ia menguping percakapan antara Renjun dan Liu Yixing kemudian Jaemin menyeret Renjun untuk melihat setiap lukisannya dan meminta pendapatnya. Lima belas menit kemudian, Jaemin menuding Renjun sebagai seorang kritikus seni profesional dan sering merecokinya untuk mengetahui bagaimana Renjun tahu begitu banyak tentang lukisan. Tapi Renjun tidak memberitahunya.

"Nomor satu," kata Yangyang, pena ditangan, clipboard siap. "Pelan-pelan agar aku bisa menuliskan setiap kata."

"Ini disebut Wall." Jaemin membaca dari label.

Renjun melarikan matanya di atas lukisan itu. Sebuah kanvas minyak berukuran sedang, menunjukkan bagian dari dinding bata merah tua dengan langit biru cerah, tak berawan sebagai latar belakang.

Renjun mengambil napas dalam-dalam. "Oke. Potongan gambar ini menawarkan kontradiksi, keseimbangan antara akrab dan abstrak secara klinis. Latar belakangnya salah satu energi statis dengan petunjuk dari disfungsi yang ditangguhkan dalam cara batu bata diselaraskan. Perasaan dislokasi, yang timbul dari ketidaklengkapan gambar, menimbulkan pertanyaan tentang fungsi objek itu sehari-hari."

Yangyang menulis dengan tergesa-gesa.

Jaemin melongo. "Pasti kau seorang seniman."

"Aku sudah bilang padamu aku bahkan tak bisa menggambar lingkaran."

"Berhentilah mengganggunya," kata Yangyang. "Aku tak peduli bagaimana kau bisa melakukannya. Teruskan."

"Apa kau suka lukisan itu?" Tanya Jaemin.

tramontane [noren]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang