15

662 42 1
                                        

warn! NSFW/mature content, oral sex (deep-throating)!🔞



Renjun kira Jeno tidak terjaga, tapi saat Renjun menutup pintu lemari pakaiannya, Jeno membuka mata.

"Apa yang kau lakukan?" gumamnya.

"Aku harus bersiap-siap untuk bekerja."

Mata Jeno terbuka. "Sekarang juga?"

Renjun tersenyum. "Well, jika aku melewatkan sarapan, tidak mengeringkan rambutku dan lari sepanjang perjalanan ke tempat kerja, kau bisa memelukku sedikit lebih lama."

"Kenapa kau harus pergi bekerja?" Jeno mengerang dan bergeser mencoba untuk meraih Renjun.

Renjun melangkah mundur. "Yah, karena aku harus mencari uang, karena mereka mengharapkanku dan aku tidak bisa membiarkan orang lain kecewa, karena aku cukup suka bekerja meskipun salah satu bosku menjengkelkan, karena jika aku melakukan seks lagi denganmu, aku akan lumpuh seumur hidup."

"Tidak, jangan pergi. Kembalilah ke tempat tidur. Aku ingin menjilat seluruh tubuhmu."

"Kedengarannya bagus, tapi mandi di shower jelas lebih cepat dan aku harus pergi bekerja."

Jeno bersandar pada sikunya dan melototi Renjun. "Aku yang mencucimu."

"Jeno! Aku tidak bisa pergi bekerja dengan spermamu di seluruh dadaku."

"Mengapa tidak?"

Renjun mendesah dan memutar matanya.

"Oh baiklah," gerutu Jeno. "Kalau begitu beri aku ciuman."

"Berjanjilah kau akan membiarkanku pergi bekerja setelah itu."

"Tentu saja."

Renjun menatap Jeno, yang tengkurap di tempat tidur, selimut melilit pinggulnya yang ramping, dan jantungnya tersentak. "Jeno, aku tidak bisa hanya menciummu."

"Well, aku bisa hanya menciummu. Janji. Kemarilah."

Renjun bergerak ke tepi tempat tidur, Jeno menatapnya dan mengerang. "Ya Tuhan, apa yang kamu kenakan? Rok hitam pendek, blus putih dan kacamata berbingkai hitam? Kau terlihat seperti anak sekolahan. Ini tidak akan butuh waktu lama."

"Kamu membuatnya terdengar sangat menggoda." Renjun membungkuk dan menjilat bibir Jeno.

"Pasta gigi. Curang." bisik Jeno. Dia menggerakkan tangannya ke atas kaki Renjun, di bawah roknya, sepanjang paha dan menyelipkan jari-jarinya di bawah bahan celana dalam Renjun, menariknya turun ke bawah. "Oh, renda merah muda. Sekarang sudah pasti kau belum boleh pergi bekerja."

"Aku akan kembali dalam lima detik."

Renjun melangkah keluar dari celana dalamnya dan menyelinap ke kamar mandi. Ketika ia kembali, Jeno bersandar di tumpukan bantal, matanya berbinar, tangannya dengan lembut membelai kemaluannya yang tegak.

Renjun sekilas mempertimbangkan ingin telanjang atau tidak, dan memutuskan bahwa dia tidak punya banyak waktu dan berlutut di kaki tempat tidur. Renjun meletakkan satu tangan di sekitar dasar kemaluan Jeno supaya tetap tegak, membungkus bibirnya di sekitar ujungnya dan menyangga tubuhnya dengan tangan yang lain.

"Demi Tuhan!" Jeno tersentak dan hampir melemparkan Renjun dari tempat tidur.

Kalau begitu obat kumur ternyata berhasil. Renjun terkikik dan menelan cairan secara tidak sengaja, meskipun sebagian besar cairan hijau menetes di kemaluan Jeno dan di tempat tidur.

tramontane [noren]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang