Pada Senin pagi, Renjun berjalan ke Crispies melewati pintu yang dibukakan Jaemin untuknya.
Renjun melirik jam. Tepat waktu. Tapi senyum lebar Jungwoo menyebabkan senyum Renjun lenyap seperti es krim di atas trotoar panas. Ada sesuatu yang tidak beres.
"Bagaimana perasaanmu, Renjun?" Tanya seseorang yang mirip Jungwoo.
Jaemin meletakkan telapak tangannya di dahi kakaknya. "Kau tidak demam." Ia menyelipkan tangannya ke hidung Jungwoo dan meremasnya. "Ah, ini hangat. Bukan pertanda baik." Jaemin mengedipkan mata pada Renjun. "Oh tidak, aku salah. Hidung anjing yang seharusnya dingin. Sepertinya kau sehat, Noona."
"Pergilah, Jaemin!" bentak Jungwoo.
Jaemin tertawa. "Harusnya seperti itu. Kupikir kau benar-benar sakit."
Renjun melepas jaketnya dan menggantungkannya di ruang istirahat staf. Sakura berjalan melewati, mulut dan matanya terbuka lebar saat ia menatap Renjun dengan sesuatu yang mendekati kagum. Dua dari para pelayan lainnya meringkuk di pojokan, berbisik-bisik.
Ini akan menjadi hari yang panjang.
Renjun berjalan menuju dapur, berharap Yuta akan menghiburnya, tapi bukannya menggoda seperti yang biasa Renjun nikmati, Yuta terus memotong wortel dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Renjun merasa jengkel, sadar diri dan khawatir, semua pada waktu yang sama. Dia kembali ke ruang makan untuk mencari Jungwoo yang masih bicara dengan Jaemin.
"Kita akan menjadi sangat sibuk hari ini," kata Jungwoo. "Aku harus ikut melayani kemarin karena seseorang tidak datang dan membantu." Jungwoo melototi kearah adiknya.
"Aku sudah bilang aku sedang sibuk. Aku punya pekerjaanku sendiri."
Jungwoo memutar matanya dan berpaling pada Renjun. "Mengalami akhir pekan yang menyenangkan?"
Mulut Renjun langsung terbuka. Dia mengatupkan bibirnya. Jungwoo tak pernah tertarik pada urusan apa pun yang staf lakukan di luar pekerjaan.
"Apa yang kau lakukan bersama Jeno?" Tanya Jungwoo.
Mendengar nama Jeno disebut, suara gemericik memenuhi udara karena setiap orang di sekeliling tertuju pada percakapan itu. Sakura beringsut dan membersihkan debu kursi di belakang mereka.
"Dia mengajakku untuk bertemu dengan orangtuanya." Tangan Renjun langsung membekap mulutnya. Sial, apa dia benar-benar idiot?
"Oh. My. God. Dia pasti serius padamu. Apa dia akan datang hari ini? Please, bisakah dia datang hari ini?" Tangan Jungwoo menari-nari dengan kegembiraan.
"Dia di Tiongkok. Jangan bilang siapa-siapa kalau kami pergi untuk bertemu orang tuanya," Renjun memohon.
Jungwoo mengerutkan kening kemudian wajahnya cerah seolah-olah dia telah melihat Sinterklas turun ke cerobong asapnya membawa hadiah untuknya dan bukan untuk Jaemin.
"Oke, tapi fakta bahwa dia berada di Tiongkok harus menjadi rahasia juga. Jika pelanggan bertanya, katakan pada mereka kalau kau menunggunya kapan saja."
"Tapi—" Renjun berhenti saat melihat cara Jungwoo menatapnya. Suatu perintah, bukan permintaan. "Hanya—" Renjun membuat satu usaha lagi.
"Orang-orang akan berbondong-bondong ke sini jika mereka berpikir ada kemungkinan Lee Jeno akan datang," bentak Jungwoo.
"Tapi surat kabar tidak mengatakan secara tepat di mana aku bekerja. Ada banyak kafe di Dobong-gu."
"Aku yakin tidak akan butuh waktu lama untuk orang-orang untuk mencari tahu." Jungwoo menghindari mata Renjun. "Toh, Jeno sudah berada di sini minggu lalu. Mereka akan berpikir dia langganan disini. Kita akan menarik kerumunan yang berbeda."
KAMU SEDANG MEMBACA
tramontane [noren]
Fanfiction[Remake story] Original story Strangers by Barbara Elsborg Renjun sudah cukup banyak berurusan dengan bad boy sampai suatu saat ketika ia berenang satu arah di laut ia bertubrukan dengan pria yang tidak bisa ia tolak. Lee Jeno seorang mantan bad boy...
![tramontane [noren]](https://img.wattpad.com/cover/321502891-64-k131655.jpg)