Deep Feeling 2

918 21 2
                                        

Musim panas tahun ini di katakan lebih panas dari tahun kemarin. Terbukti dengan kelembapan udara yang meningkat tajam dan hawa panas menusuk kulit.

Kebanyakan orang akan berpikir untuk tetap di dalam ruangan. Menghindar teriknya matahari yang seperti menguliti kulit. Tapi tidak untuk para pemain basket dan para penggemarnya ini. Seperti tidak terpengaruh, mereka berada di bawah teriknya matahari siang.

Pertandingan siang ini antara kelas 2-1 melawan kelas 2-2. Sorak sorai dari siswa kelas tersebut saling bersautsautan, mengemangati perwakilan kelasnya.

Ares memantulkan bola ketanah. Gerakan konstan sembari memberi tanda untuk temantemannya maju sesuai strategi yang mereka rencanakan. Melihat temantemannya sudah berada di tempat seharusnya, Ares mulai berlari maju.

Melewati 2 pemain yang lebih pendek darinya. Temantemannya menghalangi pemain lain yang ingin ke arahnya. Ares memantulkan bola untuk terakhir kalinya dan melompat tiga langkah sebelum melakukan dunk dengan keras ke ring.

Bola masuk ke ring di iringi teriakan dari seluruh penjuru lapangan. Ares mundur untuk serangan balik sambil menyeka dahinya yang penuh keringat. Matanya dengan cepat melihat ke penjuru lapangan. Mencari sosok yang dirindukannya.

Bibirnya tersenyum saat melihat Iris tak jauh dari lapangan. Berdiri di bawah pohon rindang dengan kotak bekal di genggamannya. Rambutnya yang terurai, dimainkan angin yang berhembus.

Angin itu sampai ke lapangan, memberi kesejukan pada para pemain dalam panasnya terik matahari. Namun yang dirasakan Ares, kesejukan yang dihembuskan angin, kalah dengan kesejukan yang di berikan Iris.

..

"Ahhh.. Panas"

Ares merebahkan dirinya dalam pangkuan Iris. Mereka, lebih tepatnya Ares, baru saja selesai makan makanan yang di buat Iris. Kali ini Iris membuat chiken karage, favorit Ares.

"Kamu abis makan. Jangan tiduran, Ares." Berkebalikan dengan omongannya, Iris malah mengelus surai Ares dan menutupi mata Ares agar tidak terkena silau matahari.

"Sebentar aja.." Ares menutup matanya sambil menikmati elusan dan angin sepoy yang menerpa wajahnya.

Di atap sekolah ini, jarang ada siswa yang datang saat musim panas. Mereka kebanyakan akan berada di dalam ruangan. Ares pun maunya begitu. Tapi dia tidak bisa ke ruang sastra yang biasa mereka tempati. Disana pasti ada orang kalau sudah musim panas.

Ares tidak suka di ganggu. Karna dia hanya ingin berduaan dengan Iris. Dia ingin memonopoli Iris sepenuhnya.

Jadinya, mereka mengungsi ke atap gedung sekolah. Walau begitu, ada kanopi yang cukup besar yang bisa melindungi mereka dari paparan sinar matahari langsung.

"Iris.."

"Ya??"

"Jangan tinggalkan aku." Ares mengatakan itu dengan menatap tepat ke mata Iris.

Menurut Ares, Iris seperti malaikat pengganti ibunya yang meninggal setahun yang lalu. Wanita ini menyemangatinya, saat ayahnya menekan keras kalau dia harus jadi dokter dan memberinya arah kalau dia salah.

Iris memang masuk saat dirinya sedang kosong dan itu membuatnya mudah mengendalikan Ares. Walau begitu, Ares mau di kendalikan kalau itu Iris. Bahkan kalau kakak dan ayahnya menentang keras, Ares tetap melakukannya. Hanya demi Iris.

"Ya, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji." Iris menjawab keseriusan Ares dengan senyum di pipinya.

Lagilagi senyuman itu membuat Ares terpesona. Dengan langkah berani, Ares bangun dan mencium bibir Iris. Iris terbelalak kaget, sebelum menutup matanya. Mengikuti bibir Ares bergerak.

Oneshot! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang