Deep Feelings

872 18 4
                                        

Aku melirik sedikit pada layar tv. Disana pembawa acara sedang menyiarkan berita olahraga basket yang hampir berada di putaran akhir, semifinal di kanca dunia. Dengan penuh senyum, pembawa acara dengan nama Leina memberikan profil salah satu atlet yang paling berprestasi.

"Emang gila sih. Ares udah berbakat, ganteng lagi. Gimana gak banyak fans tuh orang" Terre berucap, masih sambil sibuk mengaduk saus pasta di kualinya. "Ris, lu gak takut pacar lu di ambil orang?"

Aku yang ditanya seperti itu sedikit kaget. Sebelum kembali menenangkan diri, "Takut .."

"Ya, pasti sih. Lu beruntung banget pacaran sama dia" Terre mengangguk maklumi. Dia kembali fokus mengaduk saus pastanya.

Aku mengangguk sedikit, mengiyakan perkataan Terre. Aku yang sedari tadi memanggang daging, kembali masuk ke lamunanku.

Dapur hening seketika. Aku bergerak seirama, seperti yang biasa aku lakukan seharihari. Mengolah bahan makanan menjadi sebuah hidangan yang lezat, untuk para tamu hotel yang datang.

Sebuah kegiatan dinamis yang selalu ku lakuan seharihari. Memasak di dapur, berbicara sedikit mungkin dan akan kembali pulang setelah pekerjaanku selesai.

Sangat monoton dan sangat membosankan. Tapi aku nyaman dengan ini dan tidak berpikir untuk merubah sedikitpun kebiasaan ini.

Tapi akan sedikit berubah kalau Ares tibatiba pulang ke rumah. Ares, pacarku. Seorang bintang basket yang sedang naiknaiknya sekarang ini. Seseorang yang tadi di beritakan di tv.

Bertemu di sebuah pemakaman saat kami sekolah menengah kelas 1, yang ternyata kami satu sekolah. Saat dititik terendah itu kami saling menguatkan dan jadi saling bergantung. Hubungan kami mengalir seperti air. Tidak ada dari kami yang benarbenar berbicara tentang status. Kami hanya mengikuti arus.

Tapi karna inilah aku mulai takut. Ares bersinar seperti matahari. Sedangkan aku, sebuah bintang kecil di malam gelap. Dia bisa dengan mudah meninggalkanku. Sebuah bintang yang kehilangan mataharinya, hanyalah sebuah batu biasa dan pada akhirnya kegelapan yang akan menelanku.

Tanpa peringatan apapun, dia mampu meninggalkanku dan membuat luka lama terbuka kembali. Walau begitu, aku senang dia sukses. Karna aku tau itu citacitanya sedari dia sekolah menengah. Tapi, tidak apakan kalau aku hanya khawatir?

Sudah lebih dari cukup aku terluka karna ditinggalkan. Otakku sudah berteriak dengan keras untuk mengakhiri semua ini. Memberi perisai pada hatiku untuk tidak terluka lagi. Mundur sejauh mungkin agar tidak merasakan sakit.

Namun di lain sisi, hatiku menolak perlindungan itu dan memilih untuk tetap berada disisi Ares.

Lalu, apa yang harus ku lakukan?

Apa yang harus ku pilih?

........

Alisnya bertaut, merasa terganggu. Iris membuka paksa matanya. Berat di tubuhnya lebih mengganggu dari pada yang dirasa di matanya.

Kamarnya masih gelap dengan cahaya remangremang dari lampu tidur. Tapi gunung tinggi tertutup selimut yang berada di perutnya mengambil seluruh perhatiannya. Tangannya menepuk dan mengelus gundukan itu saat sadar siapa yang berada di baliknya.

"Kamu bangun? Maafkan aku.."

Ares membuka selimut yang sedari tadi menutupi kepalanya. Mengambil posisi di samping kepala Iris dan membawanya kepelukannya.

"Hah.. Aku suka perasaan ini." Kini keadaan terbalik, Ares membawa Iris keatas tubuhnya.

"Kamu baru sampai?" Dengan suara yang serak khas orang bagun tidur Iris bertanya.

Oneshot! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang