Bintangnya diklik dulu boleh lah biar semangat updatenya ^^
"Umurnya genap 5 tahun. Besok." Beritahu Jeno menghampiri Renjun yang sedang duduk di atas kasur di kamarnya.
Renjun mengalihkan perhatiannya dari ponsel dan melihat ke arah Jeno dengan antusias. Ada banyak pertanyaan yang mengantri untuk dijawab. "Kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau sudah menikah?"
Jeno tersenyum tipis seraya ikut duduk di samping Renjun. "Aku belum menikah."
"Maksudmu?"
"Areum bukan anak kandungku. Aku mengangkatnya menjadi anak saat ia masih bayi, dari sebuah panti asuhan."
Satu lagi fakta tentang Jeno yang berhasil membuat Renjun tercengang. Benar-benar tidak pernah terpikir olehnya jika pria seperti Jeno memiliki seorang anak asuh. Tidak, bahkan ia tidak pernah membayangkan Jeno pergi ke panti asuhan.
"Hatiku tergerak saat pertama kali melihat Areum. Anak cantik yang tertidur dengan tenang. Wajahnya begitu damai dan lembut, anak itu seperti malaikat," kenang Jeno. "Sayang sekali anak secantik itu dibuang oleh orang tuanya."
"Lalu kau mengadopsinya?"
Jeno mengangguk. "Tanpa pikir panjang. Prosesnya agak sulit tapi aku berusaha keras saat itu untuk membawa Areum pulang."
"Tapi kenapa kau malah menyembunyikan Areum? Apa teman-temanmu tahu kau punya anak?"
Jeno tertawa kecil mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Renjun. Ia senang lelaki itu akhirnya tertarik dengan bagian dari hidupnya. "Belum siap saja. Lagipula aku ingin Areum tumbuh dengan tenang di Jepang. Kehidupanku di Korea tidak terlalu bagus."
Kalimat terakhir Jeno membuat Renjun tertegun.
"Kalau Areum sudah cukup besar nanti, aku akan membawanya untuk tinggal bersamaku di Korea. Bagaimana menurutmu?"
Areum mungkin akan baik-baik saja. Tapi tidak tahu kalau denganmu.
"Renjun?"
"Ide yang bagus." Jawab Renjun singkat meski sebenarnya tidak yakin.
"Oh ya, di rumah ini hanya ada 3 kamar. Kamar Areum, bibi Jung dan kamarku. Kalau kau tidak nyaman tidur sekasur dengan orang lain, aku akan tidur di sofa itu."
"Tidak perlu. Aku saja yang tidur di sofa." Tolak Renjun, namun saat ia hendak berjalan ke sofa, Jeno menahan pergelangan tangannya.
"Kau bercanda? Aku tidak akan membiarkanmu tidur di sana." Tegas Jeno.
"Tidak usah berlebihan. Tidur di sofa bukan hal yang buruk."
"Tapi aku tidak mengizinkanmu."
"Lalu kau mau bagaimana?"
"Aku yang tidur di sofa atau kita tidur bersama di kasur ini."
Renjun menelan ludah setelah mengatakannya. Ia memang tidak pernah bermasalah dengan tidur bersama orang lain. Tapi jika orang itu adalah Jeno ...
"Baiklah. Jangan macam-macam atau aku akan membunuhmu," ucap Renjun akhirnya meskipun ia sedikit ragu.
"Kau yakin?"
Renjun mengangguk. "Ayo tidur. Katamu tadi besok kita akan jalan-jalan dengan Areum kan?" Renjun menarik selimutnya.
Jeno hanya tersenyum. Perlahan ia bisa menghilangkan kebencian Renjun padanya. Meski Jeno tidak tahu alasan di balik itu semua.
🦊
Sinar matahari pagi mengintip malu-malu dari balik tirai. Perlahan, kehangatan tersebut menyentuh kulit wajah Renjun dan membuatnya terbangun.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD BUTTERFLY | Noren
Fiksi PenggemarLee Jeno telah menjalani profesi sebagai seorang fotografer sejak 10 tahun terakhir. Ia berniat menyelenggarakan sebuah pameran untuk memperingati 1 dekade karirnya. Dan Huang Renjun, penyanyi sekaligus model terkenal dengan kecantikannya memikat pe...
