11.7k reads thank you so much!!!
Tidak pernah terpikirkan oleh Jeno bahwa saudara kembarnya akan melakukan hal sekeji itu. Jaeho memang seringkali bermasalah semasa hidupnya, tapi sejauh yang Jeno tahu, semua yang diperbuatkan masih terkendali. Belum pernah Jeno mendengar bahwa kakaknya melakukan sesuatu yang di luar batas.
Ya, sampai ia mendengar sendiri pengakuan Jaehyun.
Sekarang semua pertanyaan Jeno tentang Renjun sudah terjawab. Jeno tidak dapat menyembunyikan kemarahannya. Marah karena kesalahan yang bahkan bukan dia penyebabnya.
Namun, Jaeho adalah kembarannya. Seseorang yang terlahir ke dunia bersamanya. Seseorang yang memiliki paras yang sangat mirip dengannya. Meskipun sifat keduanya bertolak belakang, tapi hubungan mereka tidak pernah renggang. Jaeho, yang sifatnya seperti api berkobar selalu melunak untuk mengalah pada adiknya sendiri yang setenang air danau.
Rasanya tidak mungkin Jaeho tega menyakiti orang lain dengan cara yang sangat menjijikkan.
"Arrghh!" Tangan Jeno memukul-mukul setir mobil yang tidak berdosa. Wajahnya memerah menahan amarah. Jika saja Jaeho ada di sampingnya saat ini, maka ia tak segan untuk memukuli kakaknya itu habis-habisan.
Jeno mengendalikan mobilnya seperti orang kesetanan. Pikirannya berkecamuk kacau. Bayangan wajah Jaeho yang tersenyum ramah padanya perlahan berubah menjadi sosok iblis yang mengerikan. Di sisi lain, hatinya tercabik kala tangis pilu Renjun yang memohon pertolongan terngiang di telinganya. Halusinasi yang membuat Jeno ingin membuat dirinya menghilang dari dunia ini.
Pedal rem diinjak keras-keras begitu Jeno sampai di depan rumah Renjun. Sembari mengumpulkan keberanian, Jeno memandangi rumah itu. Dirinya harus meminta maaf. Tidak peduli jika Renjun akan menolak permintaan maafnya, perbuatan saudara kembarnya memang tidak termaafkan.
Bahkan jika setelah ini Renjun tidak mau bertemu dengannya lagi, Jeno sudah siap untuk menerima. Sudah cukup penderitaan Renjun yang harus melihat wajahnya setiap hari, wajah iblis yang telah menorehkan luka yang tidak pernah kering.
Dengan tertatih, Jeno menyeret tubuhnya ke arah pintu utama. Tangannya yang sedikit gemetar menekan bel.
Wajah Renjun yang muncul dari balik pintu lantas membuat tubuh Jeno semakin melemah. Jeno melihat luka memar di tulang pipi kekasihnya, entah apa penyebabnya.
"Jeno?" Tanya Renjun bingung melihat kondisi Jeno yang terlihat berantakan.
Tidak kuat lagi, Jeno menjatuhkan dirinya dan berlutut di hadapan Renjun. Tangis yang sejak tadi tertahan akhirnya pecah. Jeno menumpahkan segala penyesalannya. "Maaf, maafkan aku Renjun..."
"Ada apa Jeno? Kau kenapa?"
Jeno menatap Renjun dengan ratapan nanar. Bagaimana mungkin Renjun masih peduli padanya? Ia merasa tidak pantas menerima kebaikan Renjun setelah apa yang diperbuat kembarannya dulu. "Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?"
Napas Renjun tercekat, tubuhnya langsung menegang kaku. Laki-laki itu mulai menyadari kemana arah pembicaraan Jeno.
"Bagaimana mungkin kau bisa bertahan melihat wajah orang yang pernah menyakitimu? Seharusnya kau membunuhku Renjun!!!" Teriak Jeno frustasi. "Aku... tidak pantas hidup..." Jeno merintih putus asa. Pikirannya sudah buntu, tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat untuk menebus kesalahan Jaeho.
"Akhirnya kau mengingatnya Jeno," ucap Renjun dengan nada dingin. "Kenapa? Kenapa sulit sekali bagimu untuk mengingat dosa itu?"
Jeno menarik kesimpulan dari pertanyaan Renjun. Laki-laki itu tidak tahu bahwa Jaeho adalah saudara kembarnya. Dan yang paling menyakitkan, selama ini Renjun menganggap bahwa Jeno dan Jaeho adalah orang yang sama. Orang yang telah merenggut kebahagiannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLD BUTTERFLY | Noren
FanfictieLee Jeno telah menjalani profesi sebagai seorang fotografer sejak 10 tahun terakhir. Ia berniat menyelenggarakan sebuah pameran untuk memperingati 1 dekade karirnya. Dan Huang Renjun, penyanyi sekaligus model terkenal dengan kecantikannya memikat pe...
