14 - Carolina Volker

18 3 0
                                        

Hari ini benar-benar bikin gua kaget. Siang tadi masalah Nevano, sekarang ada Abin yang duduk santai di ruang tengah di rumah gua. Awalnya gua kira Vincent, tapi pas dilihat lebih dekat lagi ternyata orang lain. Padahal gua mau gebuk dia karena tiba-tiba titip martabak pas gua lagi di jalan pulang.

"Eh, Abin. Sendirian aja?"

Abin yang lagi nonton tv tiba-tiba noleh. Mukanya sumringah tanpa alasan. Buset, santai bener kek di rumah sendiri.

"Gak, sama Reza kok. Lagi di kamar mandi dia, Vincent lagi keluar," kata Abin absensi satu persatu temen gilanya.

Gua dan Abin ngobrol sebentar, itung-itung nemenin Abin lah. Masa iya tamu dibiarin sendirian gini aja? Mana gak dibikinin apa-apa, dasar duo kutil. Gak lama kemudian Reza keluar dari kamar mandi.

"Udah balik aja lo, Lin. Kok gua gak tau ya?" Reza kelihatan bingung karena tiba-tiba ada gua.

"Lo sih mules mulu kerjaannya. Makanya minum obat biar selesai tuh sakit perutnya,"

Reza ketawa, "gua juga heran, setiap hari kok mules mulu."

Lumayan lama sih gua gak ketemu Reza. Dia seumuran gua dan Vincent, paling beda beberapa bulan aja sih. Dari kecil sampai sekarang si Reza ini sering banget mules, sampai mamanya bingung mau kasih obat apa buat Reza.

"Tante dimana, Lin? Kok tadi cuma abang lo doang di rumah."

"Kayaknya Mami tadi lagi ngumpul sama teman sekantornya, habis ini balik mungkin. Dah ya, ini martabak pesenan Vin. Makan aja kalau mau, minum ambil sendiri ya,"

Reza dan Abin bikin gestur 'ok' dan gua langsung ke kamar aja. Gak sanggup gua kalau harus dengerin Reza, Vincent dan Abin kumpul jadi satu. Pasti mereka bakalan ribut main uno atau PS, bisa-bisa meledak kepala gua denger suara heboh mereka.

Setelah beres-beres, gua duduk di tempat belajar. Tangan gua refleks nyalain laptop dan buka internet walaupun cuma buat cari lagu hits akhir-akhir ini.

Tiba-tiba aja ada sesuatu yang bikin gua kepikiran, darimana Sena dapat foto cetak tadi?

"Kayaknya gua pernah lihat foto itu deh, iya gak ya?" Oceh gua sendiri sambil muter-muter pakai kursi gua.

Gua inget banget, meskipun gak lihat secara langsung gua tau foto itu dari Saka. Bedanya foto yang Saka punya, di bagian muka salah satu anak laki-laki ditutupin spidol atau selotip hitam. Sedangkan di foto yang Sena bawa gak ada yang ditutupin, apa mungkin Sena dapat dari orang lain?

Sambil pejamin mata, gua masih muter-muter pakai kursi sambil dengerin musik lumayan kenceng. Di posisi itu gua berusaha buat inget-inget tentang fotonya. Gua yakin kalau itu bukan foto yang Saka punya, meskipun fotonya sama. Jadi sekarang gimana Sena dapat foto itu? Lebih gak masuk akal lagi kalau tiba-tiba Sena datang ke panti asuhan dan minta foto itu ke pihak panti asuhan.

"4 anak laki-laki, 1 perempuan dewasa." Berulang kali gua ucapin itu supaya gak lupa.

2 diantaranya kelihatan mirip, apa mungkin kembar? Apa Nevano punya saudara kembar juga? Tapi kenapa waktu Sena tunjukin foto itu, Nevano gak bilang apa-apa. Aneh, gua ngerasa aneh banget sama satu anak kecil yang mirip Nevano.

Tapi benerkan Sena gak dapat foto itu dari Saka? Nevano juga bilang dia gak punya foto itu, sedangkan Bunda Silvi yang mereka bicarakan waktu bertengkar kemarin udah meninggal. Mungkin Sena dapat foto itu dari anak yang mirip Nevano atau anak lainnya.

"Kenapa gua penasaran soal itu sih?"

Harusnya gua fokus buat gak aneh-aneh kedepannya, karena cuma gua dan Sena yang Nevano kasih tau soal masalah ini. Bisa aja Saka benci Nevano karena masalah adopsi itu kan? Atau Saka punya dendam sendiri sama Nevano waktu mereka di panti asuhan? Sayang banget gua gak boleh ikut campur urusan ini sama Sena.

Lakuna - 00 lineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang