17 - Kean Saka Revan

21 2 0
                                        

Semua turun dengan buru-buru karena dibelakang kami ada anggota Frost udah mulai dekat.

"Lo kemana aja anjir, hampir habis kami semua!" Siera tarik kerah baju Bien dengan kencang.

"Chill my honey bunny. Kalian ikut aja Rafa, dia bakal bawa kalian semua ke tempat aman," kata Bien sambil genggam tangan Siera erat. Emang dasarnya ini cowok genit parah, semua cewek aja dia godain kek gini. Gak tau aja kalau ada bau bau kecemburuan di dekatnya.

"Ini gak ada urusannya sama Black Ocean! Pergi lo, orang gila!" Usir laki-laki dari Frost yang berhasil ngikutin kami berenam.

Gua udah gak punya banyak waktu lagi, apalagi kondisi Kiran yang begini. Pastinya bakal makan waktu banyak kalau gua harus beresin mereka juga.

"Udah, bawa aja. Biar mereka jadi makanan Bien," kata Siera dan kami pun ngikutin arahannya.

"Acrux itu pacar Black Ocean, dan lo berani ganggu bintang terterang gua di teritori gua sendiri? Lihat apa yang bakal gua kasih ke kalian!" Kata Bien dengan menggebu-gebu.

Ya, gua lupa bilang ke kalian kalau Bien ini selain gila soal dagang, dia juga gila karena gak pilih-pilih lawan. Apa lagi Frost dibawah naungan GDO bikin rusuh sebesar ini, pastinya Black Ocean gak bisa diam aja.

"Ka, kita harus lebih cepat lagi. Gua gak yakin bakal bisa sampai di rumah sakit dalam waktu sesingkat ini," Siera jagain Kiran dari belakang.

Gua gak akan biarin apapun terjadi ke Kiran. Untuk pertama kalinya gua berharap buat orang lain, orang yang pengin gua lindungi untuk kedepannya nanti.

Jalan ke parkiran sepi banget gak ada satu orangpun. Dengan bantuan Rafa, kami semua dituntun lewat jalan yang aman dan kami berhasil temuin mobil Sena. Apa gua harus minta tolong dia? Kalau nyari kendaraan lain pasti gak keburu lagi. Tapi gua ogah hutang budi sama dia—

"Lo nungguin apa lagi? Cepat bawa masuk," kata Sena sambil buka pintu belakang mobilnya.

Kalau Kiran sadar dia pasti ngerasa harga dirinya diinjak-injak karena ditolong orang lain, begitu juga dengan gua. Tapi gak ada pilihan lain yang lebih baik dari ini.

"Rara!"

Akhirnya Haru dan Alex sampai juga sambil lari-larian ke arah kami.

"Gua panggil-panggil lo gak noleh sama sekali anjir, telinga lo kenapa sih?" Gerutu Alex kesal karena Siera jadi budeg.

"Kita bahas itu nanti. Sekarang gua minta lo sama Haru buat ikut mobil ini ke rumah sakit—"

"Gak bisa. King ada disini jadi gua harus disini," bantah Haru—Gavin—dengan cepat sebelum Siera selesai ngomong.

"Ini perintah gua langsung, masih mau lo bantah juga? Setuju atau gak, kalian ikut mobil ini dan jaga mereka sampai di rumah sakit. Paham?"

Sejenak ada tatapan gak terima di mata Haru karena omongan gua. Tapi tatapan itu seketika berubah waktu gua pegang bahunya dan bisikin sesuatu di telinganya.

"Tapi kalau gua sama Alex gak ada disini, siapa yang bantuin kalian?" Sebuah pertanyaan dari Haru, mukanya bimbang terima perintah ini atau gak.

"Gua setuju. Kali ini bukan keributan 2 kelompok, tapi ini perang antar 2 kubu. Kita perlu lebih banyak kekuatan dari kubu kita kan?"

Perdebatan diantara Siera dan Alex terasa makin panas. Gua heran, mereka ini atasan sama bawahan tapi bisa-bisanya bertengkar dikeadaan genting begini, gila ya?

"Hoy, kalian lupa kalau gua ada di kubu kalian?" Bien datang setelah beresin urusannya. Ada beberapa bercak darah di baju dan mukanya.

"Gua tau loyalitas kalian berdua itu sama-sama besar, tapi ada nyawa orang yang perlu diselamatkan. Kayaknya mereka teman-teman bos kalian," kata Bien berusaha meyakinkan Alex dan Haru.

Lakuna - 00 lineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang