Jempol Vincent tekan hpnya dengan kekuatan penuh. Gua gak tau dia chatting sama siapa, tapi yang jelas dari mukanya kelihatan lagi emosi.
"Lo kenapa emosi dah?"
"Kalah taruhan balapan kemarin," jawab Vincent enteng.
"Ih, gua bilangin Mami ya lo main kek gitu?!"
"Ya gua bilangin Mami juga kalau lo pelukan sama cowok."
Sialan, kali ini gua kalah telak dari Vincent. Kalau dilihat-lihat diluar hujannya makin deres, kira-kira Sena udah pulang ke hotelnya belum ya?
"Dingin gak? Udah tau pulang pake mobil ada AC, malah main hujan. Mana habis ini ketemu sama orang," kata Vincent yang mana kalimat terakhirnya lebih mirip bisikan karena volumenya kecil banget.
"Ketemu siapa?" Mami bilang kami gak boleh ketemu siapa-siapa dan kalau bisa jangan ada yang tau kalau kami disini. Hampir 1 menit gua nunggu jawaban, tapi gak ada jawaban dari Vincent.
Sampai akhirnya mobil terus jalan tanpa gua tau kemana tujuannya selama 30 menit. Kami berhenti di cafe dengan nuansa rumah lama yang hangat. "Ayo masuk," ajak Vincent setelah kami pesan beberapa menu.
Ah, rupanya Vincent ketemu sama temen tongkrongannya di Jogja. Iya sih, udah lama juga dia di Kediri. Mana balik kesini dia gak pernah mau keluar rumah. Ya udah deh, itung-itung gua jajan gratis ditraktir Vincent.
"Sorry telat," Vincent seret satu kursi buat gua duduk baru dia duduk disebelah gua. Hm, boleh juga. Curiga bakal ada sesuatu, perasaan gua gak enak soalnya.
"Dah lama gak ketemu, sekalinya nongkrong bawa cewek cakep," dengan santainya Vincent cengar cengir aja nanggepin godaan temennya yang pake behel itu. Sialan, ternyata gua dijadiin kambing hitam?! Gak apa, asal jajan gratis.
"Santai aja kalau sama kita..." cowok berbehel itu gantungin kalimatnya, kayaknya bingung nama gua.
"Panggil aja Lin,"
Kelima temen Vincent kelihatan antusias banget dan beberapa kali godain Vincent yang asik nyomotin kentang goreng punya temennya. Wow Vincent, gua baru liat dia nongkrong gak megang hp sama sekali. Biasanya 5 menit tanpa hp langsung tantrum, kali ini dia enjoy banget.
"Hai guys-loh, kok ada cewek? Katanya hari ini yang nongkrong cowok doang?" Datang cewek dengan hoodie hitam, mukanya langsung bete ngelihat gua. Njir, gua ada masalah kah sama dia? Kenapa gak boleh ikut nongkrong abang gua?
"Udahlah biarin, dah lama banget Vincent gak nongkrong sama kita. Oh iya, Lin. Kenalin ini Selen. Dan Selen, kenalin ini Lin pacar Vincent," kata temen Vincent yang namanya Adam.
Gua udah arahin tangan dengan senang hati, tapi si Selen ini malah merengek ke temen-temennya. Entah dibujuk apaan akhirnya dia mau salaman sama gua. "Selen Novalia, sahabat terbaik Vincent," kata Selen dengan muka yang masih bete.
Ini serius Vincent punya sahabat se-cringe gini?
"Gua Lin"
"Gak nanya,"
Belum selesai gua ngomong, Selen langsung tarik tangannya dan asik bercanda sama temen-temen cowoknya. Fiks banget nih cewek sebenarnya suka sama Vincent, tapi Vincent ogah sama dia makanya gua dijadiin kambing hitam! Lihat aja, muka gak bersalah Vincent yang sumringah ngelihat pesenan kami udah datang.
"Ih, gua mau dong duduk sebelah Vincent," pinta Selen.
"Gak liat tempatnya udah penuh? Duduk sebelah Alex tuh kosong," tolak Vincent. Tapi si Selen tetep ngeyel dan malah nyuruh gua buat pindah tempat. Tetep aja Vincent nolak dengan alasan udah pw. INGET YA VINCENT YANG NOLAK, BUKAN GUA. TAPI CEWEK INI MALAH MANDANG GUA GAK SUKA.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lakuna - 00 line
Teen Fiction"Apa benar begitu?" "Iya, masih gak percaya? Kan gua udah bilang, sekali lo masuk gak bisa keluar, Nevano!" . . . Kehidupan Nevano yang monoton dan membosankan tiba tiba saja berubah genre sejak ia mendapatkan teman sebangku untuk pertama kalinya da...
