Sebelum gua masuk ke dalam gedung, sekali lagi gua nengok ke belakang untuk pastiin mobil Sena udah pergi. Mobilnya sempat berhenti beberapa menit dan langsung tancap gas. Huh, gua harus bisa! Jangan bikin semuanya sia-sia!
Gak ada tema khusus buat acara ini, jadi gua pakai baju nyaman yang sopan. Gak lucu kalau tiba-tiba ada guru yang datang ke acara ini kan?
Andai Sena atau Nevano satu SMP sama gua, pasti gua ada temen ngobrol sekarang. Ini bener-bener sepi, semuanya sibuk sama circle nya masing-masing. Apa gua pulang aja? Ah, gak boleh! Gua udah tungguin hari ini selama satu bulan!
"Eh, lo Carolina?"
Gua noleh ke belakang, ternyata ada cewek yang nepuk gua. Aduh, siapa ini—
"Gua Amel, dari kelas C. Lo sendirian aja?" Tanya Amel sambil lihat ke kanan dan ke kiri. Kayaknya dia juga sendirian, makanya fia nanya gua kan?
"Iya nih, lo juga?" Tanpa perlu jawab dengan kata kata, Amel ambil kedua tangan gua dan manggut-manggut bersyukur ada temennya. Walaupun gua lupa sama dia, cuma ingatan dimana Amel dipanggil ke podium saat upacara karena dia berhasil dapat juara panahan waktu kelas 3 dulu.
Tangan gua ditarik dan diapit Amel, kemudian kami berdua jalan menuju area reuni yang ada di area outdoor. "Penampilan lo di English debate kemarin keren gila! Sekolah kalian menang mendali emas kan? Wah, gua kalau ingat euforianya jadi ikutan seneng," Amel kelihatan antusias banget cerita tanpa ada niatan lepasin tangan gua yang masih dia gandeng.
Sebenarnya gua agak malu kalau orang lain ngebahas lomba yang gua ikutin, tapi senang juga kalau kayak gini. "Iya kah? Makasih loh udah nonton, kalau gua tau ada lo, gua samperin kali," kata gua berusaha imbangi pembicaraan ini.
Tapi Amel geleng-geleng, "gak bisa, gak bisa! Anggota tim lo yang debat sama lawan waktu tema agro kompleks, terlalu cakep. Gua bisa meleleh kalau lihat kalian lebih deket lagi,"
Refleks gua ketawa ngelihat muka Amel yang merah kayak tomat karena bicara soal Ricky, muka saltingnya lucu. Memang bener setelah debat selesai banyak orang terutama cewek-cewek antri minta foto sama Ricky. Kesannya jadi meet and great bareng idola.
"DM aja Ig nya, belum ada cewek, gebet aja, Me,l" muka Amel makin merah. Lucu banget, padahal kami udah lama gak ketemu—bahkan gak begitu akrab sebelumnya—tapi malah ngobrol sesantai ini.
Ada dua bodyguard didepan pintu dan bantu cek undangan kami. Memang reuni ini dikasih undangan yang nantinya di scan di bagian barcodenya. Jadi dijamin gak ada orang asing yang bisa masuk acara ini. Mengingat acara ini kan dibuat alumnus dan sumber dana terbesarnya dari Sinta. Bisa dibilang juga ini acaranya Sinta.
Gua dan Amel lanjut ngobrol ceritain kegiatan kami masing-masing. Sekarang Amel sekolah di SMA 1 dan masih tetep lanjut ikut panahan. Bahkan dia wakilin sekolahnya untuk ikut pekan olahraga tingkat provinsi dan dapat perak. Katanya setelah lulus SMA dia mau kuliah jurusan agribisnis dan tetap ikut ke klub panahan terkenal di Kediri supaya skill-nya bisa makin tajam. Sesekali Amel nonton olimpiade-olimpiade yang ada entah secara langsung—temenenin perwakilan sekolahnya—atau online. Bahkan dia tau soal Nevano yang udah gaet banyak mendali emas selama olimpiade.
Duh, entah kenapa rasanya gua keinget Siera kalau lihat Amel ngomong panjang lebar gini. Beberapa kali gua lihat orang-orang yang lewat didepan gua kayak anak Adi Jaya. Gua tau itu cuma pikiran gua yang ngerasa sepi karena disini gak ada yang bener-bener akrab sama gua—sekedar tau namanya aja—dan mereka semua sibuk masing-masing sama circel-nya.
"Nah gini dong, masa reunian gak pernah datang. Kenapa Lin?" Ini dia, orang yang paling gua benci dihidup gua setelah sayuran kering di mie instan favorit gua, Sinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lakuna - 00 line
Teen Fiction"Apa benar begitu?" "Iya, masih gak percaya? Kan gua udah bilang, sekali lo masuk gak bisa keluar, Nevano!" . . . Kehidupan Nevano yang monoton dan membosankan tiba tiba saja berubah genre sejak ia mendapatkan teman sebangku untuk pertama kalinya da...
