~22 Seorang Gus?

6 4 0
                                    

Maaf jika ada kesamaan alur cerita, latar cerita, dan nama tokoh. Kisah ini murni tidak menjiplak

'Gue gak pantas jadi seorang Gus maupun seorang Ustadz jika tangan gue saja selalu ternodai dengan darah'

Selamat membaca

*

*

*

"Heumm, malam ini sangat melelahkan" lirihnya

Seorang lelaki yang menggunakan kaos putih dan celana jeans sedang duduk di pinggir kasur

Mata cokelat nya melirik ke arah dinding jam yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari

Beberapa hari telah berlalu, ia sangat lelah dengan pekerjaan juga pelajaran nya

"Huhh, untung saja hari ini adalah hari minggu. Jadi gue bisa istirahat" gumamnya

"Semoga saja" lanjut nya dengan nada lesu, dirinya tidak yakin bisa beristirahat di hari Minggu

Ia bangkit dari duduknya lalu bersiap diri untuk sholat tahajjud

Beberapa jam kemudian, dirinya sudah terlihat rapi bahkan sudah memasak

"Daddy?"

Seorang anak laki-laki berusia 1 tahun turun dari tangga

Ia menoleh, dirinya lupa kalau ada anak ini di rumah nya "hm?"

Kalau dirinya ingin jujur, ia tidak menyukai anak anak

"Daddy, Izal lapar" rengek anak itu bernama Rizal

Zatir mengusap wajahnya kasar "udah gue bilang jangan manggil gue dengan sebutan Daddy. Gue bukan ayah lo"

"Daddy gak sayang Izal?" tanya Rizal sedih

"Eumm" dirinya bukan tidak menyayangi anak anak tapi ia tidak suka jika seorang anak menganggap nya sebagai orang tua nya

"Udah sekarang lo makan, gue mau bawa lo ke suatu tempat" lanjut nya menatap anak itu dengan tatapan dingin

Ingin rasanya ia membuang anak ini sejauh mungkin

Rizal terlihat ketakutan "izal gak mau ke tempat itu lagi!"

"Ribet amat nih bocah! Gue gak bawa lo ke tempat penampungan anak, cuma ke tempat yang lain"

"Apa?"

"Mending lo makan sekarang atau gue buang lo ke tempat penampungan anak!"

Berasa nyawa Rizal menciut, dia dengan cepat memakan semua makanan yang sudah di sajikan

Bagi Rizal tempat itu adalah penjara baginya, Zatir merasa heran dengan anak ini. Mengapa dia memanggilnya Daddy?

"Rizal?"

Rizal mendongak "iya"

"Lo bisa gak jangan manggil gue Daddy?"

Dia menggeleng "no, Izal sayang Daddy"

Zatir ingin sekali membuangnya "lo bisa manggil bang Riski, bang Arga, atau kak Sam dengan panggilan Daddy. Kenapa harus gue, bocah?"

Rizal tersenyum manis "Daddy tetaplah Daddy ku"

"Ya allah, jika Engkau berkehendak. Boleh kah gue membunuh nya?"

"Izal mau manggil Daddy dengan panggilan Ayah!" teriak Rizal membuat Zatir tersedak

Uhuk! Uhuk!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 03, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ZatirTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang