23

322 46 31
                                        

Surprise! Happy reading💜








Seokjin tidak membalas pelukanku.

Namun tangannya bergerak.

Menepuk-nepuk puncak kepalaku dengan lembut.

Cukup lama aku menikmati pelukannya, menghirup aroma tubuhnya serta kehangatannya yang begitu aku rindukan. Aku tidak bisa menahannya lagi. Rasanya, ketika Tuhan memberiku kesempatan dengan takdir ini, aku tidak ingin menyia-nyiakannya lagi.

"Kau sudah makan?"

Seokjin berbisik begitu parau. Alih-alih menanggapi permintaan maafku, Seokjin menanyakan hal klise yang terasa... menggemaskan. Aku menggeleng dalam dekapannya. Bisa kurasakan kausnya yang mulai basah akibat air mataku. Sejurus kemudian, aku melepas dekapan kuatku di tubuhnya. Lantas menatapnya dengan senyum tertahan dan air mata yang tidak berhenti mengalir.

"Dasar cengeng." gumamnya, tersenyum tipis seraya menghapus sisa air mata di wajahku. "Aku membawa banyak bahan makanan. Semoga alat dapurmu tersedia cukup lengkap agar aku bisa memasak dengan mudah."

"Tidak usah, kau adalah tamuku malam ini. Biarkan aku memasak untukmu."

"Tidak, tidak." Seokjin menjauh lantas melangkah lebih leluasa ke sekitar apartemenku. Kantung belanjaan yang terisi penuh oleh bahan makanan ia simpan begitu saja di atas sofa. Pria itu lantas melepas topi beserta coat dengan santai, seakan ia tengah memasuki rumahnya sendiri. "Wah, nuansanya gelap sekali. Apa wallpaper kedap suara ini baru terpasang? Kau menyewa tukang?"

Diam-diam aku tersenyum seraya memandangi punggungnya. "Aku memasangnya sendiri. Baru saja selesai."

"Ah, sungguh?"

Aku mengangguk seraya melangkah menuju dapur untuk mengambil minuman dingin.

"Sulit dipercaya." gumamnya. Lantas menghampiri kantung belanjaan yang sebelumnya ia simpan dan membongkarnya. "Aku akan membuat bulgogi. Aku juga membeli beberapa sayuran dan bumbu untukmu."

"Itu terlalu banyak."

"Tidak apa. Anggap saja sebagai tambahan stok."

Aku berjalan menghampirinya dengan dua kaleng minuman dingin. Tidak lupa, aku juga membawa satu bungkus permen jeli kesukaannya. Kebetulan aku punya persediaan cemilan itu di dapur. Tanpa sadar, aku tersenyum. Melihat eksistensi Seokjin di depanku masih terasa seperti mimpi. Kehadirannya bahkan begitu hangat dan ringan. Seakan perpisahan kami terakhir kali tidak pernah terjadi. Kami sama-sama menikmati pertemuan ini untuk sementara. Dan aku yakin, kami akan menemukan waktu yang tepat untuk membicarakannya.

"Sudah, Oppa. Biar aku saja." setelah menyimpan cemilan yang kubawa, aku mengambil beberapa bahan yang ia keluarkan lantas menyimpannya di pantri. "Bulgogi buatanku lumayan enak, kok. Memasak itu cukup lama, kita tidak akan punya waktu untuk bicara banyak jika kau—"

Roommate ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang