Di tahun awal masa perkuliahan, Candra pernah mendapati sosok Rea yang mendadak bak patung yang diberi nyawa. Perempuan itu bernapas dengan wajah cantiknya yang datar tanpa ekspresi. Sorot matanya dingin. Bibirnya lebih sering terkatup rapat.
Satu minggu ... Candra dibuat kebingungan karena perubahan itu. Setiap kali ditanya, Rea cuma menggeleng dan mengatakan kalau tidak ada apa-apa, semuanya baik-baik saja.
Masuk minggu ke dua, barulah Candra memperoleh informasi tentang ayah Rea yang ternyata menikah lagi secara diam-diam. Rea yang kebetulan tak sengaja memergoki laki-laki itu bersama selingkuhannya di sebuah pusat perbelanjaan.
Candra tak menemukan kemarahan dalam diri Rea pada waktu itu. Padahal apabila gadis lain yang mengalami peristiwa tersebut, sudah pasti akan meluapkan emosinya, memaki-maki atau bisa jadi menggunakan tangan serta kaki untuk memberikan satu-dua tamparan dan tendangan.
Tapi Rea faktanya tidak bertindak demikian.
Pada ayah dan ibu tirinya ... Rea bersikap biasa saja.
Candra tidak tahu menahu hal apa yang diperbuat Rea selanjutnya. Yang dia dengar satu bulan kemudian hanyalah kabar bahwa telah terjadi perceraian. Bukan menimpa ayah dan ibu kandung Rea, melainkan ayah dan si istri baru yang cuma dinikahi secara siri.
Setelah badai bernama perselingkuhan itu mereda, Rea kembali seperti semula. Tersenyum, tertawa, dan bercerita apa saja. Candra mendapatkan lagi sosok kekasihnya tanpa mengerti apa yang benar-benar terjadi.
"Pilihan kedua ...."
Sekilas Candra menangkap seringaian menakutkan di sudut bibir perempuan yang sudah dikenalnya hampir sepanjang usaianya itu. Dia lekas mendengkus. Menyadari mungkin saja Rea juga dulu melemparkan pilihan yang sulit pada ayahnya sehingga tak ada jalan lain selain perceraian.
Tapi jangan samakan Candra dengan ayah mertuanya. Dia tidak akan semudah itu diintimidasi. Apa pun yang Rea lakukan, dia tak peduli. Candra tetap berpegang teguh pada keputusannya. Menikahi Hulya, hidup bahagia bersama anaknya, dengan atau tanpa menceraikan Rea.
"Tetap bersamaku. Tinggal di sini seolah semuanya baik-baik saja. Biar aku yang mengurus mereka berdua."
Tak dapat ditahan, Candra lalu tertawa, merasa lucu dengan penawaran kedua. Dia yang ingin sekali mempunyai keturunan, sudah barang pasti Candra mau mengurusnya sendiri.
"Aku kasih kamu waktu buat berpikir."
"Nggak perlu!" sambar Candra cepat. Mau sekarang atau seribu tahun lagi, keputusannya tidak akan pernah berubah. "Aku akan tetap menikahi Hulya. Apa pun resikonya!"
Rea menarik lambat sudut-sudut bibirnya. "Jangan tergesa-gesa." Dia kembali maju, kali ini untuk membingkai wajah gusar di hadapannya. "Mau aku kasih tau masing-masing konsekuensi dari dua pilihan itu?"
Candra membuang napasnya cukup kencang sampai-sampai udaranya menyapu permukaan wajah Rea dengan kasar.
"Kalau kamu pilih yang pertama ... seumur hidup kamu akan menyaksikan sendiri dengan mata kepalamu, anakmu direndahkan semua orang. Di sekolah, di lingkungan rumah, di mana pun dia berada, dia akan dipandang sebelah mata." Sekuat tenaga Rea menahan saat Candra bermaksud membuang muka. Suaminya itu harus tetap menatap matanya ketika dia berbicara. "Dan tahu apa yang dia rasakan kalau itu terjadi?"
Rea sudah menangani berbagai macam jenis klien. Mulai dari kalangan orang dewasa, remaja, hingga anak-anak. Tidak jarang dia mendengarkan curahan hati dari anak-anak hasil perselingkuhan. Walau akhirnya terlahir di keluarga yang resmi, label anak haram tetap tak dapat dihilangkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
LANGGENG (Tamat)
RomantikLanggeng ... harapan semua orang terhadap pernikahan mereka, tak terkecuali Rea. Namun, dari banyaknya pertengkaran yang telah menjelma menjadi neraka dalam rumah tangganya, akankah dia dan Candra dapat merealisasikan harapan itu?