Lembar - 11

6.6K 885 60
                                    




"Dira ...!"

Lambaian tangan, Rea perlihatkan pada seorang bocah berseragam merah yang baru saja melewati gerbang sebuah sekolah dasar. Anak perempuan itu, lantas berlari ke arahnya.

"Tante yang jemput Dira?" tanya Dira selepas mencium punggung tangan Rea.

Rea mengangguk kecil. "Iya, Papa masih ada kerjaan." Dia kemudian merangkul bahu putri kandung Ayu itu lanjut mulai melangkah ke mobilnya. "Hari ini jadwalnya Dira ketemu Ayah Wira, kan?"

Mulai dari kemarin pagi, Rea telah melancarkan rencananya, yaitu mendekati Rian. Awalnya, dia mengirimkan pesan permintaan maaf lantaran sikap tak sopan yang Candra lakukan di pesta resepsi pernikahan anak dokter Herman.

Saling berbalas pesan pun terjadi. Selain masalah seirus, hal-hal tak penting pun turut dibahas hingga sampai ke kesibukan Rian yang menjadikan sang doker tak dapat mengantarkan Dira untuk menemui Wira. Akhirnya, Rea menawarkan diri. Sekalian dia bisa berkumpul dengan Rinjani serta si balita lucu yang tiap hari dirindukannya.

"Iya." Dira bersorak ketika kaki kecilnya terangkat agar dapat menaiki mobil. "Ketemu sama Adik Dewa juga, yey!"

Rea juga menyusul naik. Mereka berdua duduk di jok belakang. Kendaraan sepenuhnya dikendalikan oleh Tono. "Hari ini ketemuannya di mall, ya ... biar Dira bisa sekalian main."

Biasanya, mall memang menjadi tempat pilihan terbaik untuk melepas kerinduan antara Dira dan ayahnya. Selain bisa bermain sepuasnya, Wira juga bisa membelikan apa pun yang diinginkan anak itu. Tapi beberapa bulan belakangan, mereka terpaksa harus bertemu di rumah Wira lantaran kondisi kesehatan Rinjani yang kurang baik.

Pasca kelahiran Dewa, sahabatnya itu tampaknya terlalu stress memikirkan ASI-nya yang tak mau keluar sehingga mempengaruhi kesehatannya. Rinjani jadi sering sakit-sakitan.

Yah, begitulah roda kehidupan berputar. Setelah berhasil melahirkan anak yang ditunggu-tunggu, datang masalah baru. Karena sejatinya, manusia di dunia ini, hidup berdampingan dengan ujiannya masing-masing.

Besar atau kecil ... tinggal dihadapi. Semua pasti ada jalan keluarnya.

"Asiikkk ...." Dira bertepuk tangan. Sudah ada dalam bayangannya, permainan apa saja yang akan dia coba. "Nanti Dira boleh ajak Dewa main trampolin, Tante?"

Rea mengusap kepala bocah yang sebentar lagi memasuki masa remaja itu. "Belum boleh dong, Sayang ... Dewa kan masih kecil. Belum bisa berdiri."

"Iya sih ...," sahut Dira riang. "Dewa bisanya cuman ketawa sama makan. Hahaha ...."

"Dira mau bobok dulu nggak sebentar?" Perjalanan ke mall memakan waktu yang lumayan lama. Ada baiknya kelonggaran itu dimanfaatkan untuk istirahat agar nanti Dira tidak kecapekan.

Dira setuju. Rea lekas membaringkan kepala anak itu ke pangkuannya. Sementara tangan Rea membelai rambut, mata Dira memejam.

"Tante ...," panggil Dira tanpa membuka kelopak mata.

"Iya ...?"

Rea menunggu dengan tatapan yang menindai wajah bocah itu. Dira lebih mirip Rian dibanding mirip ayah kandungnya. Namun hingga beberapa detik berlalu, tak ada suara yang terdengar. "Kenapa, Sayang?" tanyanya memastikan. Barangkali ada sesuatu yang membuat Dira tak nyaman.

Ragu-ragu, Dira lantas bertanya setelah menampakkan bola matanya. "Apa itu anak haram, Tante?" Binar di kelereng hitamnya tak secerah tadi.

Jelas saja Rea tersentak. Dari mana anak kecil bisa memperoleh kata-kata yang berkonotasi negative seperti itu? "Kenapa tanya begitu?" Dia meraba pipi Dira yang cemberut. "Dira dengar dari siapa?"

LANGGENG (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang