Chapter 34

4K 350 119
                                        

Satu minggu berlalu setelah hari dimana Noah membawa Wilona ke makam Ibu kandungnya, wanita itu tak lagi mau berbicara padanya.

Dua hari setelahnya Wilona memang kesulitan mengeluarkan suaranya karena terlalu banyak berteriak dan menjerit. Noah yakin Wilona sudah sepenuhnya pulih, wanita itu hanya sengaja tidak ingin berbicara padanya.

Alasan Wilona untuk bertahan hidup dan lepas dari jeratan Noah hanyalah Louis dan Mommynya. Selama dikurung di lantai tiga Wilona selalu berdoa agar dia bisa keluar dari sana dan bertemu Kakak dan Ibunya.

Sekarang apa?

Mereka berdua yang Wilona pikir adalah keluarganya ternyata tidak pernah benar-benar memiliki hubungan dengannya. Tiana Allison—entah bagaimana Noah bisa membawakan hasil tes DNAnya.

Cocok, Wilona adalah anak dari putri pertama keluarga Allison. Wanita itu sudah lama meninggal dunia setelah dikucilkan oleh keluarganya sendiri.

Kepala Wilona nyaris sakit saat memikirkan dirinya sendirian di dunia ini. Begitu banyak beban pikiran di kepala mungilnya hingga Wilona terkejut merasakan sebuah tangan bergerak melingkari perutnya.

"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?"

Ah, kecuali manusia sinting, iblis gila, psikopat bernama Noah Xander. Pria itu masih di sini, membiarkanya hidup sebagai boneka yang bisa diperlakukan sesuka hati.

"Sayangku?"

Tidak ada tanggapan.

Wilona masih tak mau membuka suaranya untuk menanggapi segala ucapan Noah. Dia biarkan pria itu mondar-mandir di sekitarnya melakukan hal yang dia mau tanpa Wilona mau menatapnya.

Noah menumpukan dagunya ke bahu Wilona, ikut menatap pemandangan yang di dominasi oleh hijau melalui jendela kaca di depannya.

"Obatnya sudah diminum?"

Noah seperti sedang berbicara dengan patung. Tidak apa-apa, Wilona sudah pernah mendiamkannya sebelum ini.

"Mau makan sesuatu? Kamu pengen apa? Kalau aku tiba-tiba pengen makan kamu," candanya tak tau tempat.

Noah menyampirkan rambut panjang Wilona ke satu sisi. Membiarkan leher putih nan mulus itu terekspos di depan matanya.

Wilona memejamkan kedua matanya saat merasakan kecupan ringan mendarat di lehernya. Tidak hanya sekali namun beberapa kali. Pria itu sengaja menaburkan banyak ciuman di leher dan pundaknya.

Drrtt Drttt!

Sebuah panggilan masuk menghentikan kegiatan Noah. Wilona menghela napas lega saat Noah menjauhkan diri darinya. Dia diam-diam mengamati gerak-gerik pria itu dari ekor matanya.

Wilona tidak berniat menguping pembicaraan Noah. Pria itu juga tidak mengaktifkan speaker modenya. Baginya semua tingkah laku Noah memang mencurigakan- dan menjengkelkan.

Noah menutup sambungan teleponnya, memasukan benda itu ke dalam saku celanannya sebelum kembali memeluk tubuh Wilona, menghirup dalam-dalam aroma favoritenya. Bahkan sejak dulu aroma Wilona selalu menjadi candunya.

"Kamu nggak pengen tahu barusan aku berbicara dengan siapa?"

Noah sengaja mengoda Wilona, memprovokasi wanita itu agar mau berbicara padanya.

"Kate..."

Satu nama yang membuat tubuh Wilona menegang sempurna. Noah merasakannya, dia diam-diam tersenyum dan menunggu reaksi Wilona selanjutnya.

"Kate memintaku untuk datang ke rumah, dia tahu aku nggak ada di kantor."

"Haruskah aku pergi ke sana?" tanya Noah.

Obsession Series 1; Love and RevengeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang