Alira membasuh wajahnya di wastafel berkali-kali. Sesaat kemudian ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Alira terkekeh kecil, memikirkan masa depannya yang sudah ia tata rapih.
"Gimana ya, kalau gue lulus Kedokteran nanti, apa iya gue bakalan bisa menyelesaikan study gue atau malah tepar di tengah jalan? Secara gue magernya nauzubillah."
Kelulusan mereka sudah di depan mata, dan yah, entah apa yang terlintas di benak Alira, jiwanya yang mageran dan malas malah berencana untuk mengambil jurusan Kedokteran saat lulus nanti. Ia sudah membahas ini dengan orang tuanya dan juga Rayyan, yah mereka mendukung keputusan gadis itu.
"Liat nanti aja deh," gumamnya dan segera menyelesaikan urusannya.
Gadis itu mencepol rambutnya asal, dan beranjak keluar kamar. Ini hari Minggu, ia berencana untuk membantu Rayyan bersih-bersih rumah. Yeah, sudah mau sebulan usia pernikahan mereka, dan Alira merasa banyak tingkah laku Rayyan yang sangat lucu di matanya.
"Morning Ayan," sapa Alira pada cowok yang tengah berperang di dapur. Sejenak Alira terpesona melihat Rayyan.
Cowok itu tengah serius memotong sayuran untuk di masak. Benar-benar suami idaman, andai saja Alira sudah mencintainya. Mungkin Alira akan menjadi perempuan yang beruntung.
"Selamat pagi Lira," sapa Rayyan juga. Cowok itu tersenyum saat menatap Alira. Yeah, semakin hari, istrinya itu semakin membuatnya berdebar.
"Sorry gue baru bangun, padahal gue udah janji bakalan bantu lo," ujar Alira meringis. Padahal, subuh tadi selesai sholat subuh, ia sudah janji akan membantu Rayyan membersihkan rumah dan mereka akan masak bersama, namun ia malah tidur lagi dan berakhir bangun nanti sudah pukul 9.
"Lo juga kenapa gak bangunin gue sih? Kan gue jadi gak enak, serasa selama mau sebulan ini gue jadi beban lo mulu," ujar Alira, berdiri di samping Rayyan.
Cowok itu mengangkat sebelah alisnya, sebelum berkata, "kepala kamu udah gak sakit lagi hm?"
Subuh tadi, Alira mengeluh sakit kepala selesai sholat. Rayyan membantu memijat pelipisnya dengan posisi Alira yang masih memakai mukena dan berbaring di atas sajadah dengan paha Rayyan sebagai bantalannya. Mungkin karena keenakan di pijat Rayyan, membuat Alira tertidur kembali.
Rayyan tak tega membangunnya, apalagi Alira tadi sampai meringis menahan sakit kepalanya, dan alhasil, Rayyan membiarkan sang istri untuk istirahat.
Alira spontan menyentuh kepalanya, kemudian menggeleng. Ia sudah benar-benar enakan sekarang.
"Beneran?" Alira tersentak kala punggung jari telunjuk Rayyan menyentuh pelipisnya.
Gadis itu mendongak, menatap manik teduh Rayyan yang juga ikut menatapnya. Sesaat tatapan mereka bertemu, menimbulkan getaran pada perasaan masing-masing. Rayyan benar-benar menyukai situasi seperti ini, namun Alira, malah bingung. Sampai saat ini, ia belum bisa memastikan perasaannya.
"Gue baik-baik aja," balas Alira dan langsung memutus kontak mata mereka.
"Kayaknya lo udah beres-beres rumah juga ya? Kenapa gak nyuruh gue aja sih? Kalau Mami tau, gue bisa di omelin lagi," keluh Alira. Ia sudah malas mendengar Omelan Maminya.
Rayyan terdiam sejenak, memikirkan bagaimana caranya agar Alira tidak marah.
"Emh, begini saja, kita sekarang masak bareng, dan selesai memasak, kamu bagian membersihkan Kamar, bagaimana?" saran Rayyan. Memang ia sudah menyapu tadi selesai joging, dan untuk kamar mereka saja yang belum ia sentuh.
"Oke, seenggaknya ada yang gue lakuin," ujar Alira setuju.
Rayyan menyuruh Alira untuk bagian memasak nasi dan Rayyan melanjutkan untuk memotong sayuran dan juga daging.
"Lira, nanti sore saya mau pergi ke Panti, apa kamu mau ikut?" tanya Rayyan tanpa menatap Alira, ia sibuk membuat sambal untuk pelengkap masakan mereka.
"Panti? Mau, gue mau ikut," ujar Alira antusias. Akhirnya ia bisa bertemu dengan anak-anak panti lagi.
"Anak-anak pasti senang liat kamu nanti," ujar Rayyan. Di sela membuat sambal, Rayyan hendak membalik Ayam yang sedang ia goreng agar matang merata, namun Alira menahannya.
"Ayan, biar gue aja, kita udah sepakat buat masak bareng ya," ujar Alira.
"Nanti kamu kena minyak," tolak Rayyan.
"Udah aman, biar gue aja, sekali-kali gue ngerasain gimana rasanya masak Ayam," kekeuh Alira.
Rayyan akhirnya membiarkan, walaupun sebenarnya ia benar-benar khawatir Alira terciprat minyak.
Gadis itu mulai membalik Ayam yang sedang di goreng, namun sayang, cipratan minyak panas membuat Alira terpekik.
"YAKH! ANJIR, SAKIT BANGET AAAA!" Gadis itu meringis saat punggung tangannya terciprat minyak.
"Ya Allah Sayang," kaget Rayyan, bahkan tanpa sadar mengucapkan kata Sayang dengan terang-terangan.
Rayyan dengan sigap menjauhkan Alira dari depan kompor dan membawanya untuk duduk di kursi.
"Sakit," lirih Alira, bibirnya mengerucut dan mata berkaca-kaca. Selama ini, ia belum pernah menggoreng apapun, dan tadi adalah pertama kali seorang Alira hendak membalik daging yang sedang di goreng.
Rayyan mengambil air dan membasuh tangan Alira, wajahnya benar-benar panik dan khawatir.
"Saya ambil salep dulu." Cowok itu beranjak mengambil salep, dan tak lama kemudian datang dan langsung berjongkok di depan Alira.
Ia mulai mengolesi salep di tangan putih mulus itu yang sekarang sudah memerah dan sesekali meniupnya.
"Masih perih?" tanya Rayyan khawatir.
"Udah mendingan," jawab Alira.
Rayyan menghela napas lega, ia memegang tangan Alira dan menguap pinggiran kulit yang terkena minyak tadi dengan ibu jarinya.
"Untuk tangan yang cantik, maaf ya saya gak bisa jaga kamu dengan baik, jadinya merah kayak gini," ujar Rayyan pelan, namun Alira masih bisa mendengarnya.
"Ayan, apa-apaan sih ngomong gitu, lagian cuman luka kecil doang," ujar Alira. Rayyan terkesan sangat menjaganya, bahkan Minggu lalu, Alira terpeleset saat sedang mengepel lantai, Rayyan panik bukan main dan gilanya malah menyalahkan lantai. Dan saat itu juga, ia sudah melarang Alira untuk mengepel lantai.
Bagaimana Alira mau berubah, kalau Rayyan memperlakukannya seperti itu?
"Saya gak mau liat kamu terluka, walaupun itu hanya luka kecil, Lira," ujar Rayyan. Ia menatap manik Alira dengan teduh.
Rayyan itu baik, benar-benar baik. Dan Rayyan adalah pria pertama yang membuat Alira menjadi tidak percaya diri, dan membuat Alira selalu berfikir jika ia benar-benar tidak pantas dengan pria sebaik ini.
"Gue baik-baik aja, Rayyan," ujar Alira, ia menangkup wajah Rayyan yang masih berjongkok di depannya.
"Jangan berlebihan, yang kena minyak gue, dan yang rasain itu juga gue, jadi gue bisa bilang, kalau gue baik-baik aja, ini hanya luka kecil," kata Alira.
Rayyan terdiam dan hanya menatap wajah Alira. Ia ikut memegang tangan Alira yang sedang menangkup wajahnya.
"Selama ada saya, tolong jangan terluka walaupun itu hanya luka kecil, Alira. Bukannya saya berlebihan, tapi beginilah sifat saya. Saya benar-benar khawatir." Bagi Rayyan, Alira itu adalah Ratunya yang harus ia jaga, bahkan jika bisa, ia akan memastikan Alira tidak akan terluka walau sekecil pun.
"Iya Rayyan," balas Alira mengerti. Mereka saling berpandangan, Alira selalu terbuai dengan iris mata Rayyan yang seakan selalu membangkitkan sisi liarnya.
Gadis itu menundukkan kepalanya dan mendekati wajah Rayyan, sedikit lagi ia bisa menyosor pria itu namun harus terhalang oleh bau gosong.
"AYAM GORENGNYA!" Rayyan langsung berdiri dan mematikan kompor. Di dapatinya Ayan yang ia goreng sudah berwarna kehitaman. "Yah, gosong."
Sedangkan Alira malah mengumpat kesal karena gagal menyosor Rayyan. Eh?
🫂
KAMU SEDANG MEMBACA
Heyy! Rayyan (On Going)
Teen FictionStory ke-6 [Follow sebelum baca!!] Ketika cowok alim dan labil akan cinta, bertemu dengan Quuen Bullying di sekolah barunya. Ini kisah Rayyan El Fatih, pemuda yang sangat taat pada agama dan juga ketua dari geng SKY WARDEN. Ia adalah murid baru di S...
