9

1.4K 199 41
                                        

Selama 23 tahun dia hidup, Seraphina sudah mengalami berbagai drama dan peristiwa, tapi dia tidak pernah bangun pagi dalam keragu-raguan bahwa yng dikerjakan hari ini adalah keputusan paling salah yang pernah dipilihnya. Berangkat kerja satu minggu lebih cepat dari rencana untuk jadi asisten pribadi dari kepala editor Heur Magazine, padahal dia tidak punya pengalaman apa pun di dunia kerja.

Pekerjaan yang dia dapat berpredikat sebagai titipan keluarga, nepotisme. Bukan salah Sera jika berpikir hal itu adalah kecurangan, siapa yang mau berteman dengan staf hasil titipan suaminya dari keponakan kesayangan Sang Kepala editor.

Sialnya lagi, Sera tidak pandai bergaul di lingkungan sosial yang luas. Dia lupa bagaimana cara bersosialisasi kepada orang-orang baru, karena terlalu lama hidup dalam kehaluan hakiki pada sosok idola tengik yang memanfaatkan kebodohannya. Entah bagaimana caranya, Seraphina melupakan otak yang diberikan Tuhan selama bertahun-tahun hanya demi seorang pria busuk.

"Sera, cepat sedikit. Aku ada meeting," kata James pada istrinya yang masih berdiri depan kaca setinggi badan di dalam walk in closet, dia mengetuk pintu kamar Sera tidak sabaran.

"Aduh, tunggu sebentar!" Sera masih ragu dengan setelan Emilia Wickstead semi formal hitam sepanjang lutut yang dihadiahkan Shinta, hasil rekomendasi James. Rambutnya diikat setengah di tengah, memakai high heels Rupert Sanderson lima senti dan sudah rapi berdandan.

"Berangkat sekarang atau kutinggal?!" Raut wajah datar James muncul di ambang pintu, Sera tidak serta merta menjauh dari kaca sampai James bertolak pinggang di depannya.

"Kenapa lagi?" tanya James dengan kesabaran setipis bulu kucing.

"Sepertinya ada yang kurang." Sera meminta James menilai penampilannya sekali lagi, tapi pria itu hanya memutar bola mata ke langit-langit.

"Tante Elena akan memecat staf yang datang terlambat, kesempatan cuma kuberikan satu kali." James membalikkan badan, berjalan cepat keluar dari kamar. Dia tidak berhenti, meskipun Sera menahan lengannya sambil merengek.

"Jim, aku tidak usah kerja deh."

"Ulangi?!"

Pandangan James yang kelewat lurus, seolah-olah pria itu akan mencekiknya sampai kehabisan napas, membuat Sera menyesali kata-katanya. Sera tersenyum kaku, bergegas masuk ke lift. Dia menyadari kebaikan James sudah hilang, James kembali ke sosok awal yang hobi memarahinya.

Sera meloloskan napas yang terdengar terlalu panjang, begitu mereka berada di dalam Range Rover dengan wangi James yang tertinggal ditiap sudut mobil. Sera tidak ingat memakai sabuk pengaman, sampai James membantu menarik safety belt itu sambil berdecak kesal.

"Aku ada meeting, jadi berhenti bergerak seperti Kungkang." James menyalakan mesin mobil dan melaju cepat, sementara Sera memandangi James dengan perasaan bersalah.

Sejak pagi Sera sudah uring-uringan, dari memilah baju terlalu lama sampai tak sempat sarapan. Tidak sempat menyiapkan sarapan untuk suaminya di hari kedua menikah, meski dia hanya istri semu, tetapi melihat James membuat roti panggang madu sendiri, Sera jadi tidak enak hati. Dia malah merepotkan James untuk membantu memilih sepatu, termasuk pakaiannya hari ini.

Sera baru menyadari, betapa menyebalkannya dia pagi ini.

"Jim!"

"Hhmm...," gumam James sebagai jawaban, tanpa menolah.

"Maaf merepotkanmu."

"Dari awal kau memang sudah merepotkanku."

Kepercayaan diri yang tengah dibangun Sera pupus nyaris tanpa sisa. Nada bicara James terlalu kaku nyaris datar, mendadak Sera merasa sedih sampai ingin menangis. Dia membisu sepanjang sisa perjalanan, membuang pandang ke sisi jendela yang bersih sampai mobil berhenti di depan gedung setinggi 30 lantai.

DARK MOONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang