Sera duduk termenung seorang diri di beranda depan. Dia sudah sibuk sejak siang belajar masak dengan Ibu mertua, lalu cerita banyak hal bersama adik iparnya. Sera lelah dan kepingin pulang, tapi suaminya yang lembur di akhir pekan belum tampak batang hidungnya.
Tidak ingin terlalu mencolok dan terlihat dia sudah bosan di rumah mertuanya, Sera masuk lagi ke rumah, berniat tidur di kamar James selagi menunggu. Namun Sera justru bersitatap dengan Gunawan yang baru datang dari kebun belakang bersama Shinta, ayah mertuanya menemani Shinta berkebun.
"James belum pulang juga?" tanya Shinta.
"Belum," jawab Sera cepat. "Ma, aku mau istirahat dulu ya."
"Biasanya James pulang larut malam kalau sudah kerja, sering lupa waktu," sahut Guna.
"Menginap saja di sini, Sayang." Shinta ikut menimpali, sambil menata hydrangea biru ke vas bunga.
"James bilang, tidak sampai sore meeting sudah selesai."
"Baiklah, istirahat saja."
Sera mengangguk kecil, sebelum meninggalkan mertuanya menuju kamar James. Dari beranda atas, dia melihat Gunawan dan Shinta sibuk berbincang tentang bunga. Serasi dan harmonis. Sera kenal Gunawan dan Shinta sejak kecil, dia menghormati keduanya sebanyak menghormati orangtuanya sendiri.
Terlebih pada Gunawan, sosok Paman yang sering menggantikan posisi ayahnya, saat dia masih di middle school. Sera ingat, Guna menggantikan sang ayah datang menghadap kepala sekolah untuk menghukum anak-anak yang melakukan perundungan, meskipun dia berharap ayahnya yang datang sebagai pahlawan.
"Kenapa Om Guna yang datang?"
Sera duduk di bangku trotoar depan sekolah di bawah pohon Tabebuya yang berguguran. Hari itu cerah dan cantik, tapi Seraphina menahan airmata sebab sang ayah hanya sibuk bekerja dan mengabaikannya.
"Ayahmu sedang sibuk, jadi Om yang menggantikan."
"Bukannya Om Guna juga sibuk? Om punya perusahaan besar di Kota, iya 'kan?" airmatanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. "Ayah tidak pernah menyayangiku, dia tidak peduli padaku."
"Sera, ayahmu melakukan ini demi kebaikanmu."
"Om Guna tidak usah membela ayahku, aku membencinya!"
Teriakkan keras bertahun-tahun lalu itu terasa berdengung di telinga, beradu bersama tuduhan teman-temannya, bahwa, dia tidak pernah punya ayah.
Angelo Syailendra lahir dalam keluarga kelas menengah atas yang cukup kaya, bergelar sarjana teknik dari universitas terkenal dan termahal. Pria yang dikucilkan keluarga setelah menikahi Ibunya, wanita sederhana dari pasangan petani gandum.
Sera tahu ayahnya melepas semua fasilitas dan bekerja sebagai pekerja seni di Ibu Kota, itulah yang dia tahu di usia yang masih belasan, menginjak dewasa barulah Sera tahu kalau ayahnya seorang aktor terkenal. Ayahnya jarang pulang berhari-hari, sampai berbulan-bulan. Sera tahu ayahnya bekerja keras untuk menghidupinya dan sang ibu, tapi bukan itu yang Sera harapkan.
Sera mendesah panjang seraya melipir ke ruang baca mini di kamar James, ada banyak deretan buku menajubkan yang disusun di rak-rak kayu. Sera mengambil salah satu buku, baru dibaca beberapa lembar Sera sudah keturan di sofa baca sambil memeluk bukunya.
===
James memasuki rumahnya pukul enam sore, membalas sapaan petugas keamanan rumah dan pelayan selagi menelusuri selasar. Dia mencari keberadaan orang rumah karena tidak tampak satu pun, termasuk istrinya. Sampai seorang pelayan memberitahu istrinya istirahat di kamar, Ibunya sedang menyiapkan makan malam di dapur bersama Niara dan pelayan.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARK MOON
RomansaDark Moon, kisah pengacara hukum bisnis yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri dan patah hati, didatangi oleh teman lamanya untuk perkara yang tengah melanda perusahaan minyak milik negara, BruteMax Oil. Pengacara James Adhiwangsa, disewa ole...
