Tidak ada percakapan selama perjalanan James mengantar Sera pulang, James fokus menyetir sambil menerima telepon dari asistennya. Di sebelahnya Seraphina sibuk memandangi pohon Tabebuya yang mulai bersemi, merah muda, mengantarkan kenangan jalan-jalan dia bersama Dante.
Dengan semua keburukan yang telah Dante lakukan, bisa-bisanya Sera berpikir harusnya dia meminta maaf lebih serius dan tidak membuat Dante murka. Betapa bodohnya Sera masih berpikir mereka bisa berbaikan, minum teh menikmati hujan dari balkon apartemen Dante.
Dia melirik ponsel, tidak berani membuka pesan Dante yang banyak, bisa ditebak isi pesan itu hanya makian dan omelan kasar yang membuatnya takut. Seperti kaum primitive, Sera tidak tahu kemana perginya semua keberanian bila sedang berhadapan dengan Dante.
Layar ponsel yang tengah Sera pandangi mendadak menyala, dia baru sadar ponselnya sedang tidak mode silent. Setelah membaca nama Dante, mendadak wajah Sera menjadi seputih kapas.
"Siapa?" tanya James, tanpa pernah Sera duga ternyata mereka sudah sampai di depan rumah.
"Dante menelepon?" tebak James dengan akurat, melihat Sera pucat pasi dan agak gemetaran.
"Berikan ponselnya." James menengadahkan tangan tapi Sera diam saja. Rahangnya mengeras, monolidnya turun, menatap dingin dan gelap pada Sera yang bergeming.
"Sera, kau dengar aku?" Suara James semakin rendah, nyaris seperti bisikan gelap yang suram.
Sera menggeleng kaku, masih memegangi ponselnya erat-erat. Dia berdengap saat ponselnya ditarik paksa oleh James, tombol speaker dihidupkan sehingga dia bisa mendengar percakapan sengit kedua pria itu.
"Kau dimana?!" bentak Dante tanpa kata pembuka. "Sengaja mengabaikan teleponku. Jawab!"
"Jangan membentaknya, Anjing!" balas James tak kalah keras.
"Oh, kau bersama James? Dasar jalang!"
"ANJING!!!"
"Sera, dengarkan aku," kata Dante tiba-tiba. "Aku mencintaimu. Di mana posisimu, aku jemput. James hanya memanfaatkanmu demi untuk membalasku dan Luna."
Sera bergeming, jemarinya saling genggam dalam luapan perasaan yang kalang kabut.
"Seraphina, jawab aku! Aku tahu kau ada di sana, kau mendengarku?!"
"Ti-tidak—" jawab Sera samar, air matanya jatuh saat Dante kembali memaki.
"Brengsek!"
"Berhenti memakinya, Keparat!" sela James. "Aku tidak peduli kau mantan temanku, tapi yang pasti karirmu hancur kalau berani membentaknya lagi. Paham?!"
Panggilan selesai. James mengembalikan ponsel pada Sera, melihat gadis itu pucat pasi, terisak tertahan sampai tubuhnya terguncang. James menatap Sera geram, tapi kemudian menurunkn tensi wajahnya agar sedikit melunak.
"Sera, dengar. Jangan pernah membiarkan Dante memukulmu lagi, apapun alasannya." James berkata pelan, tapi nadanya tegas tanpa celah dibantah.
"Berpikirlah, pria semacam Dante tidak baik untukmu."
Sera mengangguk kaku.
"Pikirkan dirimu juga Ibumu, beliau pasti sedih jika tahu perlakukan Dante padamu."
"Tolong jangan beritahu Ibu. Ibu sudah banyak pikiran, aku tidak mau menambah bebannya."
James bergeming, melihat luapan ketakutan di manik mata Sera. Kemudian James pura-pura mengangkat tangan dan reaksi Sera seperti yang dia perkirakan, gadis itu buru-buru mundur dan memasang kedua tangan di depan wajah sebagai pelindung.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARK MOON
RomanceDark Moon, kisah pengacara hukum bisnis yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri dan patah hati, didatangi oleh teman lamanya untuk perkara yang tengah melanda perusahaan minyak milik negara, BruteMax Oil. Pengacara James Adhiwangsa, disewa ole...
