Sera memilih jalan kaki ke taman di ujung perumahan alih-alih mengendarai mobil, mendapati seorang pria tinggi yang menutupi seluruh tubuh dengan hodie, jaket, topi dan masker hitam.
"Aku hanya ingin memastikan kau masih hidup," katanya, menarik Sera ke bangunan peneduh yang kosong. Mirip Jamur raksasa, dijaga oleh pengawal pribadi sang aktor yang berlagak seperti pengunjung taman pada umumnya.
"Pikirmu kau siapa? Jangan berlagak seperti orang penting," gerutu Sera. "Memangnya aku akan bunuh diri gara-gara kau?"
Dante terkikik geli, terdengar sangat menjengkelkan.
"Aku tahu kau baru menangisiku, Sera. Kau pasti menangis karena aku bersama Mariane dan kau pasti sudah melihat beritaku jadian dengan Luna. Aku benar, 'kan?" Dante menyeringai, berusaha menyentuh pipi Sera tapi gadis itu menepisnya.
"Jangan sentuh aku!" sergah Sera. "Kau akan berurusan dengan—"
"James Adhiwangsa, pemilik Firma hukum Adhiwangsa. Benar dia?"
"Iya, kenapa? Kau takut?"
Dante tertawa mencemooh. "Bisa-bisanya pria yang kau maksud adalah dia, benar-benar dia."
"Sayang, dengar. Pengacara yang kau sebut sebagai calon suamimu adalah temanku waktu SMA, teman baik yang merebut Luna dariku. Oh, kau terkejut karena aku tahu semua atau karena James itu temanku?"
Biji mata Sera membesar, dia tidak sempat menutupi keterkejutan. Seketika dia yakin, kali ini dia akan kalah lagi dari Dante yang sekarang sudah tertawa penuh kemenangan.
"Oke, lupakan tentang James, sekarang kita bahas Luna." Dante menyibak rambutnya dengan jari, melepas masker dan menurunkan tudung hodie, memamerkan wajah tampan terpahat nyaris tanpa celah.
"Hubunganku dengan Luna hanya intrik selama promosi film, kau tidak perlu khawatir, hal busuk seperti itu lumrah di dunia showbiz. Kita baik-baik saja dan akan terus begitu."
"Bagaimana dengan Mariane?"
"Kenapa dia?"
"Kau tidur dengannya dan masih bertanya, kenapa?" Jemari Sera mengerat kuat, tapi secepat itu juga jadi longgar saat Dante meraihnya dalam genggaman lembut
"Fans service, hanya itu, tidak lebih." Dante mendekat pelan-pelan, sampai Sera tidak sadar dia telah memenjarakan di antara lengan, tangan kanannya merambat halus melingkari pinggang.
"Aku hanya menyukaimu, Seraphina."
Bisikan lembut yang teramat dalam itu membuat Sera terpaku, seketika lupa pada niatnya ingin lepas dari Dante begitu bibir pria itu menyapu telinganya. Sera tidak menolak, saat Dante memberinya ciuman ringan. Awalnya—sebelum ciuman itu berubah berat dan nyaris tanpa jeda, setelah Sera mengalungkan lengan di bahu Dante.
Ditengah-tengah ciuman yang basah dan panjang itu, Sera mengambil jeda saat ponsel yang dia genggam berdering. Dia mendengar Dante memaki, tampak jengkel setengah mati. Sera hafal Dante tidak suka dijeda, tetapi kali ini dia merasa ada yang ganjil dari dirinya.
"Aku belum selesai," kata Dante serak, menarik Sera mendekat lagi tapi Sera keburu menjauh.
"Ibu," gumam Sera lebih kepada dirinya sendiri bukan Dante.
"Kenapa lagi ibumu?" tanya Dante, jelas tidak suka.
"Aku harus pulang—Dante lepas, aku harus pulang sekarang." Sera meronta kuat dari Dante yang menahan lengan, terhenyak saat Dante mendorongnya sampai terbentur tembok di belakang dan memaksa menciumnya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARK MOON
RomanceDark Moon, kisah pengacara hukum bisnis yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri dan patah hati, didatangi oleh teman lamanya untuk perkara yang tengah melanda perusahaan minyak milik negara, BruteMax Oil. Pengacara James Adhiwangsa, disewa ole...
