"Jim, kau yakin tidak ingin mengenal Sera lebih dekat?"
"Mom, are you okay?" jawab James, menahan suaranya agar tidak jengkel. "Aku sedang tidak ingin memikirkan hubungan apa pun, tolong pahami kondisiku."
"Maksud Mama, kenalan sebagai teman. Kasihan Sera sendirian, kau tidak kasihan padanya?"
"Bukan cuma dia yang kehilangan ayahnya di dunia ini, Mama ingin aku merasa kasihan pada semua gadis tanpa ayah, begitu?" kata James. "Dia bukan anak kecil, usianya cukup dewasa untuk menerima fakta semua manusia akan meninggal suatu hari nanti."
"Iya, Mama tahu. Oh, bagaimana kalau kau mengajak Sera makan malam di rumah?" Shinta mengungkapkan keinginannya dengan gembira, usaha kesekian meski dia tahu pasti gagal.
Sudah lima kali Shinta mengatur agar James dan Sera bertemu. Rencananya berhasil sekali, itu pun bisa dibilang gagal, karena James langsung pergi setelah mendapat telepon yang berkaitan dengan pekerjaan.
"Tidak bisa."
James menghela napas, menyadari sikap ibunya dari hari ke hari semakin membuatnya sakit kepala. Sambil bersandar di meja kerja, dia mendengarkan lagi rencana Ibunya yang tak masuk akal.
"Sejujurnya Mama ingin menjodohkan kalian berdua." Ibunya memberitahu rencana itu tiba-tiba. "Dulu kalian akrab sekali, seharusnya sejak dulu saja kalian dijodohkan."
Walau kecil kemungkinan, Ibunya tetap berusaha membuat hubungannya dengan Sera menjadi dekat. Padahal dia sedang ingin memperbaiki karir dan berdamai dengan kisah cintanya, tetapi Ibunya bersikukuh mengenalkan Sera sebagai jalan keluar terbaik.
"Mom, aku sedang ingin fokus bekerja, kurasa Sera juga tengah meniti karirnya," sahut James dengan sabar. "Lagipula Sera terlalu muda, tidak cocok dengan pria tua sepertiku."
"Tidak masalah, kalian cuma beda tujuh tahun."
Jawaban Ibunya tidak bisa dia bantah, tapi James jadi kepingin memukul orang seperti saat masih di sekolah. Dia tahu ibu mengkhawatirkannya, tapi Seraphina bukan tipe gadis yang dia suka.
"Jim, kau masih di sana?" Suara Ibunya mengembalikan James pada kenyatan, menghela napas panjang dan berat sebelum kembali mendengarkan Ibunya.
"Mama tahu melupakan Luna tidak mudah, Mama juga tidak memaksamu menyukai Sera," kata Shinta sambil mendesah di telepon, bukan kali pertama mengungkapkan rencana itu.
"Kenyatannya sekarang Mama sedang memaksaku menyukainya dan menjalin hubungan yang sedang tidak kuinginkan. Kalau diteruskan secara paksa Sera akan tersakiti, hal-hal seperti ini tidak semudah membalikkan tangan."
"Jim, aku Ibumu, bukan lawanmu di pengadilan. Haruskah kita berdebat sepanjang ini? Mama cuma minta kalian berteman, bukan menjalin hubungan sebagai calon suami Sera."
"Oke, fine!" jawab James, dengan nada paling lembut yang dia bisa. "Ada lagi yang ingin Mama bicarakan? Aku sedang banyak pekerjaan, nanti kita sambung lagi. OK?"
"Baiklah." Shinta menarik napas pendek-pendek di seberang. "Mama cuma khawatir kau sedih berlarut-larut, menjalin pertemanan baru Mama rasa bukan keputusan yang buruk."
"Aku baik-baik saja." James kembali menegaskan hal itu, entah untuk keberapa kali sejak putus dari Luna.
"Satu lagi, kau benar-benar tidak bisa membantu masalah hukum keluarga Sera? Wanita itu telah mengambil semua hak Mishil dan Sera, mirip kasus-kasus yang dulu kau tangani."
"Aku tidak bisa, tidak tertarik. Terlalu banyak sisi negative jika mengambil kasus itu, mencoreng nama baik almarhum ayahnya karena perselingkuhan terdengar terlalu buruk. Pekerjaanku lagi hectic, ada kasus yang akan naik sidang minggu depan."
KAMU SEDANG MEMBACA
DARK MOON
RomansaDark Moon, kisah pengacara hukum bisnis yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri dan patah hati, didatangi oleh teman lamanya untuk perkara yang tengah melanda perusahaan minyak milik negara, BruteMax Oil. Pengacara James Adhiwangsa, disewa ole...
