3

2.2K 251 22
                                        

Sekali waktu James masih meratapi rasa kehilangan dari hubungan enam tahun bersama Luna, menjadi manusia tidak berguna dengan rebahan di sofa panjang di ruangan. Kehilangan sosok yang dicintai secara mengejutkan berhasil menghantam pertahanannya, buruknya lagi setiap hari dia harus melihat berita Luna dan Dante di layar kaca.

Dia seperti tidak punya daya sekedar menghela diri menjadi duduk, mengabaikan dering ponsel di meja. James lupa kapan dia terakhir makan, enggan melakukan aktivitas normal, hanya sibuk memikirkan sebab akibat dari hubungan yang telah kandas itu.

Dia mencoba mengurutkan kejadian, hal-hal yang dianggap ganjil atau perilaku tidak biasa Luna sebelum mereka putus. Keduanya hanya bertengkar satu kali, itu pun terhitung sebagai debat kecil. Luna protes James terlalu sibuk, sejak mengubah divisi hukum yang dia tangani. Dari kasus perceraian menjadi mengurusi criminal, yang menguras seluruh waktunya sampai nyaris habis.

"Aku sengaja mengambil cuti dari syuting dan menolak tawaran reality show, tapi kau justru lebih memilih berada di ruang forensik bersama mayat-mayat itu."

Saat itu James tengah menangangi kasus pekerja yang dituduh membunuh anak majikan, kasus berat pertama yang dia ambil setelah menukar divisi hukumnya.

"Luna, sudah terlalu lama aku mengambil kasus yang tidak kusukai. Aku juga ingin sepertimu, bekerja di bidang yang kusuka."

"Semakin hari kau semakin sibuk, sementara kau memintaku mengurangi jadwal kerjaku."

"Kalau kita menikah nanti kau harus hiatus, tinggal di rumah dan tidak bekerja di luar."

"Hah?! Mana bisa begitu. Jim, kita sepakat tidak mencampuri pekerjaan masing-masing."

"Tidak ada negosiasi."

Anggaplah James egois, tapi sejatinya dia hanya khawatir kemampuannya terlupakan sebab lama diendapkan. Dia hanya ingin punya istri yang fokus pada pernikahan dan rumah tangga mereka, mengurus anak-anak selama dia bekerja di luar.

Pertengkaran malam itu mereka selesaikan dengan damai, ditutup obrolan manis tentang rencana masa depan. Luna mengalah, memilih memahami impian James.

Kalau dipikir-pikir, Luna memang selalu kalah jika debat dengan James, selalu mengiyakan demi memutus pertengkaran. Luna memahami kesibukan James di antara jadwal pekerjaan sebagai aktris. Luna sering menyimpan pendapat karena James terlalu dominan, mengatur segala hal.

Tanpa sadar James mulai menyalahkan diri, berandai-andai tidak mengubah pekerjaan, punya waktu lebih banyak untuk Luna. Mungkin, hubungan mereka saat ini masih ada.

"Maafkan aku—" gumamnya, memutar badan, memandang langit-langit. Kemudian senyum kemenangan Dante muncul dari dalam pikiran dan mengejeknya.

James menutup mata dan telinga dengan lengannya yang melingkar di kepala, sekali lagi dia tidak ingin mendengar bisikan kenyataan yang terurai sengau di sekitarnya. Fakta Dante dan Luna berpisah, karena Luna kelewat akrab dengannya semenjak Dante menjalani masa traine untuk debut sebagai boy band.

☘☘☘

Tujuh menit kemudian—atau begitulah rasanya—usapan lembut di lengan, membuat James yang nyaris tenggelam dialam bawah sadar seketika melompat di kursinya.

"Oh, astaga!" suara terkejut dari seseorang terdengar kemudian. "Ayo makan dulu, sebelum klien kita sampai."

James mengusap wajah sambil menatap perempuan yang duduk di seberang meja, menyiapkan kotak-kotak ayam goreng lengkap dengan nasi dan tumisan sayur. James yang nyawanya masih setengah tercecer memandangi wanita itu, bingung dan penasaran, tetapi perempuan itu hanya menggeleng lelah sambil menuang sambal ke piring kecil.

DARK MOONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang