Dark Moon, kisah pengacara hukum bisnis yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri dan patah hati, didatangi oleh teman lamanya untuk perkara yang tengah melanda perusahaan minyak milik negara, BruteMax Oil.
Pengacara James Adhiwangsa, disewa ole...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌖🌑🌔
Akhir pekan membentang dihadapan. James bangun lebih siang dari biasanya, pukul enam pagi. James terbiasa bangun pagi setiap hari, dihari kerja dia bangun lebih pagi. James menghabiskan waktu pagi untuk; olahraga, mandi, bikin sarapan dan menikmatinya sambil baca buku, kadang-kadang dia juga menyempatkan diri nonton berita sampai mendekati jam kerjanya.
Meskipun dia sudah menikah, James tetap menjalani hidupnya sendiri, rapi, teratur, terencana. Dia menghabiskan hari bersama tumpukan data klien yang harus dia baca lalu dipelajari, demi bisa memberikan bantuan hukum secara maksimal untuk klien-kliennya.
James itu gila kerja, terkadang sampai memangkas libur akhir pekan. Tidak suka diatur apa lagi diperintah, tidak suka hal-hal kekanakan yang membuat sakit kepala. Dulu Luna kerap protes karena sikap James terlampau independent, memaksa pacar mandiri disegala bidang. Padahal, sesekali Luna juga ingin dapat perhatian manis dari pacar seperti gadis lain pada umumnya.
Bisa dibilang, Luna gadis paling mandiri yang pernah ada di hidup James. Luna nyaris tak pernah mengeluh atau menuntut kehadirannya karena kesibukannya melebihi selebritis. James jarang mendengarkan pendapat Luna, sang kekasih selalu kalah bila berdebat dengan James.
Sekarang James dipertemukan dengan Seraphina, yang sikap dan prilaku beda jauh dari Luna. Lihatlah bagaimana Sera masih tidur, padahal sekarang sudah setengah sebelas siang. James bersyukur janji temu diundur ke jam makan siang. Dengan kesadaran penuh James mengetuk pintu kamar Sera, dua kali, tidak disangka-sangka pintu langsung terbuka dan ternyata Sera sudah wangi sabun.
"Mau kemana?" tanya Sera, merujuk pakaian James yang terlalu rapi untuk hari libur. Suaminya itu mengenakan celana panjang formal dan atasan kemeja tartan yang terkancing rapi. Padahal menurut Sera, James akan terlihat lebih muda kalau kemejanya tidak dikancing penuh.
"Aku perlu bertemu klien."
"Hari libur, kau tetap harus kerja sepagi ini?"
"Ini sudah hampir jam 12 siang, Nona Sera." James berdecak, kentara sekali dia sedang kesal.
"Astaga, ternyata aku selamban itu. Maaf, aku tidak lihat jam."
"Sebelum aku pergi, kita perlu bicara sebentar." James menarik tangan Sera cepat sampai gadis itu tak bisa mengelak, mendudukkan Sera di kursi makan, ada sepiring nasi goreng agak dingin di meja persegi itu.
"Panaskan sendiri kalau sudah dingin," tambah James sebelum duduk di seberang meja.
"Kenapa kau marah-marah sih?"
"Siapa yang marah?" sahut James. "Aku cuma bilang sekarang sudah siang, nasi goreng sudah dingin. Kau bisa panaskan sendiri."
"Iya, iya, jangan sewot-sewot. Aku suka makanan dingin." Sera menyendok nasi goreng dengan keras sampai permukaan sendok beradu dengan gigi, tapi kemudian matanya membesar karena ternyata nasi goreng buatan James sangat enak.