4

1.5K 239 37
                                        


Pukul lima pagi, James bangun dengan sisa beban dari masalahnya kemarin. Dia mencoba abai sejenak lalu olahraga dan mandi pagi dibawah shower air dingin. James terbiasa bangun sepagi itu setiap hari kecuali di akhir pekan, untuk; olahraga sebelum mandi, bikin sarapan, menikmati sambil baca buku, juga menyempatkan menonton berita pagi sampai mendekati jam kerjanya.

Tetapi hari ini dia tidak sempat baca buku, otaknya sibuk merangkai kalimat permintaan maaf untuk perlakuan kurang ajar dia pada Seraphina. James keluar dari kamar mandi menuju lemari pakaian yang besar dan luas. Dia mencoba mengirim pesan pada Sera, meskipun dia yakin gadis itu tidak akan membalasnya.

Sera, aku minta maaf sekali lagi, nanti aku jemput. Kita berangkat ke kantor jam tujuh.

Sesuai perkiraan pesan itu tidak mendapat balasan. Dia menelepon Sera, pakai speaker, ponsel dia letakkan di meja tempat menyimpan deretan dasi dan jam tangan. James menarik satu setel pakaian kerja dari dalam lemari, masih menunggu Sera mengangkat telepon tapi sesuai dugaan panggilannya ditolak. Semenit kemudian muncul pesan dari gadis itu, pesan yang membuatnya menghela napas panjang.

Hari ini aku tidak jadi ikut, sedang tidak enak badan—Seraphina.

James belum sempat membalas, pesan kedua Sera muncul. Lupakan saja, jangan dibahas lagi.

James memilih tidak memaksakan diri dan mengikuti keinginan Sera. Dia tidak lagi membahas masalah semalam, hanya membalas pesan itu dengan singkat; Oke.

Notifikasi ponselnya terdengar lagi, sepersekian detik dia pikir itu Sera. Dia membaca pesan dari Kai Kamal, teman yang sedang dia beri tugas menangani foto-foto Dante dan Sera dijagat maya. James langsung turun ke lobi apartmen tanpa sarapan, Kai duduk menunggu di sofa tunggu.

"Kita perlu tempat yang lebih private." James berkata cepat, selagi meminta temannya ikut ke parkiran mobil di basement.

"Tadinya aku mau langsung ke kantormu tapi ini masih terlalu pagi. Kupikir karena kau bosnya, kau pasti datang siang."

"Firma Adhiwangsa tidak akan lolos jadi salah satu firma hukum terbaik, kalau aku datang siang. Sudah sarapan?" tambah James, setelah mereka duduk di dalam mobil.

"Tidak biasa sarapan, tapi secangkir kopi panas ide bagus. Berita yang kutemukan ini menarik."

"Kuharap beritanya benar-benar bagus."

Mereka tiba di kantor dua belas menit kemudian, James membeli sarapan di kafe kantor, naik ke ruang kerjanya. Kirana belum sampai, dia duduk bersama Kai sambil minum kopi panas.

"Aku menemukan ini sewaktu mengurus foto-foto tunanganmu. Nah, kau pasti menyukainya." Kai mengeluarkan amplop berisi foto-foto yang membuat James mengernyit.

"Seingatku, kau kuberi tugas membersihkan foto-foto Dante. Kenapa ada foto ayahku di sini?"

"Di hari Dante dan Sera ada di Bali, ayahmu bertemu Angelo Syailendra pada acara pengusaha, termasuk Marlo Oentoro dan August Sagara. Di saat bersamaan dengan Angelo dan Dante yang sedang syuting film juga di sana," Kai mulai menjelaskan.

James memperhatikan foto itu. Ayahnya, Angelo, dan Marlo Oentoro, berteman sejak sekolah, termasuk almarhum ayahnya August. Sepintas foto itu terlihat biasa dan tidak penting, James melirik Kai sedang menikmati kopi sambil menunggu tanggapannya.

"Mereka teman-teman ayahku, sering bertemu sekedar menjaga hubungan pertemanan."

"Masalahnya ini bukan acara reuni teman lama, tapi acara formal dengan para pengusaha. Apa pentingnya seorang aktor bergabung pada acara temu pengusaha yang membahas saham?" Kai menunjuk foto di meja. "Angelo tidak tercatat memiliki usaha apa pun yang bisa dikolerasikan dengan perusahaan mana pun."

DARK MOONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang