5

1.7K 233 85
                                        


Sera berdiri di depan pintu butik untuk memastikan mobil Shinta benar-benar sudah pergi, dia menunggu selama tujuh menit, memastikan Shinta tidak kembali lagi. Setelahnya barulah Sera keluar menuju apotek terdekat yang dia temukan dikolom pencarian Google. Jantung berdebar selama dia mencari alat tes, berharap urusan James belum selesai sampai dia kembali ke butik.

Sera harus memastikan sekali lagi perihal kehamilannya sebelum pernikahan. Jika benar-benar positif, secara mendadak dia berpikir untuk mengelabui James, memanfaatkan James menjadi ayah dari bayinya untuk sementara waktu.

Dia hanya butuh status, terlalu beresiko meluruskan perihal kehamilannya pada James. Lebih mustahil lagi kalau dia membeberkan siapa ayah dari bayinya, Dante tidak sudi menanggung tanggung jawab itu dan meminta dia menggugurkannya.

Sera takut membusuk di neraka jika membunuh bayinya, dosanya terlalu banyak karena Dante dan kebodohannya. Sera memilih tidak tahu diri mengelabui James tentang usia kandungan, berharap James belum menemukan alasan pembatalan sampai mereka benar-benar menikah.

Tidak semua pria mengerti cara menghitung umur bayi di kandungan, kalau Sera tidak salah menghitung kandungannya pasti tidak lebih dari 2 minggu. Artinya, kandunganya tetap bisa terhitung satu bulan, James tidak akan mencurigai selisih penghitungan sebab minggu depan mereka sudah menikah.

Sera berpikir betapa jahatnya dia, James sudah susah payah membantu Ibumu memenangkan rumah warisan ayahnya. Sepertinya membohongi orang lain sudah jadi keahliannya sekarang.

Sera menghela napas kelewat panjang saat membayar di kasir, karyawan apotek melirik dan meniliti wajahnya seksama sampai Sera merasa risih. Kemudian dengan sangat terlambat, dia baru berpikir gadis itu mungkin tahu perihal skandalnya dengan Dante atau pernah melihat pengumuman hubungannya bersama James.

Sera segera mengambil langkah seribu keluar dari apotek, tergesa-gesa kembali ke butik yang berjarak 200 meter.

Secara mendadak dia merasa keadaan trotoar jalan begitu sunyi dan kosong, padahal sekarang masih jam dua siang. Dia menoleh ke belakang dari atas bahu setelah merasa ada seseorang di belakangnya, namun seperti yang diperkirakan—tidak ada siapa-siapa, tetapi kecemasan sudah terlanjur menyergapnya.

Sera mempercepat langkah, butik Laila Hwang terasa jadi sangat jauh sekarang, mengabaikan nyeri dari belakang kakinya yang lecet dan menyesal pakai high heels. Di tengah cemas yang mengigit begitu hebat, hanya ada satu nama yang terlintas dalam benak. Dia merogoh ponsel dalam tas, geragapan, menggulir daftar kontak, mencari nama Dante yang entah kenapa jadi sulit ditemukan.

Tinggal sedikit lagi sampai butik, Sera berhasil menemukan nama dan menekan tombol panggil. Suara di seberang terdengar berbeda, membuatnya mengernyit tapi juga lega.

"Halo—" Itu suara James.

Sera memastikan sekali lagi, bagaimana bisa dia malah menelepon James.

"Aku masih di butik, apa kau bisa menyusul kesini? Ibumu minta kau fitting juga," kata Sera.

"Bisa, ini aku lagi jalan ke butik. Tunggu di sana sampai aku datang."

"Iya, aku di—"

Satu pukulan keras menghantam punggungnya, Sera tidak sempat merintih apa lagi berteriak. Seseorang memakai hodie dan jaket serta masker menarik tubuhnya, membekap mulutnya kuat-kuat lalu membawanya ke bangunan yang tengah direnovasi, berada beberapa blok ke belakang dari deretan gedung depan di area Aveenour Street, tidak terjangkau oleh orang-orang yang melintas di trotoar

Satu dorongan kuat mendarat di kepala sampai Sera tersungkur, keningnya membentur tanah kasar, berkunang-kunang, ponsel dan tasnya jatuh di dekat kakinya. Dia dipaksa berdiri tegak, ditekan pada dinding kuat-kuat.

DARK MOONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang