Dark Moon, kisah pengacara hukum bisnis yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri dan patah hati, didatangi oleh teman lamanya untuk perkara yang tengah melanda perusahaan minyak milik negara, BruteMax Oil.
Pengacara James Adhiwangsa, disewa ole...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌖🌑🌔
"Ibu bilang, kau seorang pengacara." Sera berkata pelan dan hati-hati, memperhatikan tamu asing yang datang hari ini ke rumahnya untuk berbela sungkawa.
"Hhmm... iya." James menyesap teh dinginnya lagi, saat Sera merendahkan suaranya.
"Berapa bayaranmu untuk satu kasus?"
"Tergantung, bayaranku bisa dinegosiasikan," jawab James, meletakkan cangkir di meja kaca tanpa bunyi, mencomot biscuit cokelat di piring. "Kenapa, mau menuntut mantan pacarmu?"
James sudah siap tertawa. Namun dia buru-buru menahan, karena ekspresi Sera terlampau serius saat menggeleng.
Anak ini tidak bisa diajak bercanda—pikir James, mencomot biscuit lagi.
"Aku ingin mengambil warisan ayahku dari wanita itu, dia telah merampas seluruh harta ayahku termasuk rumah ini."
"Bisa jelaskan lebih detail?" James mulai tertarik, dia sampai berhenti mengunyah biscuit.
"Ayahku punya simpanan wanita lain, dia mengklaim seluruh harta ayahku atas namanya."
"A-apa?" James tidak sempat menyembunyikan keterkejutan, lalu dia tersedak biscuit yang tidak lolos melewati tenggorokannya.
James terbatuk-batuk, meraih gelasnya dan minum lagi. Batuk-batuk lagi untuk tujuh detik, barulah dia merasa lega. Dia melirik Sera yang sama sekali tidak bereaksi saat dia tersedak, nyaris tidak peduli padahal manusia bisa mati karena perkara tersedak.
"Aku janji membayarmu setelah semua hak dikembalikan." Sera melihat ibunya menangis di belakang sana, mengingat kekacauan yng perempuan culas itu lakukan di acara pemakaman ayahnya.
"Bisakah kau membantuku?" tukas Sera.
James melihat Sera menatapnya penuh harap dia bersedia menangani kasus perselingkuhan selebriti yang dulu sering ditanganinya. Namun, harapan yang sempat singgah di wajah Sera pudar lebih cepat dari detik jam, begitu James menjawab.
"Tidak, aku tidak bisa membantumu."
"Kenapa, kau takut tidak dibayar?"
"Aku sudah tidak menangangi kasus selebriti sejenis ini lagi, silakan cari pengacara lain."
Sera menatap James bersama helaan napas terlampau panjang dan lelah. Dia berdiri dengan harga diri penuh, menatap James dalam kecewa sekali lagi sebelum berlalu ke kamar. Kali ini Sera tidak muncul lagi, sampai Sinta undur diri pulang bersama James.
☘☘☘
Lama sesudah itu, setelah memastikan James dan Sinta tidak kembali, Sera menghadap ibunya di ruang tengah. Ibunya masih mengusap pipi yang basah, melihat kepadanya penuh harap.