4

1.8K 256 57
                                        


Pada dasarnya Seraphina tidak tahu ajakan Ibunya James adalah suatu keberkahan atau malah kesialan. Sejak awal Shinta menunjukkan tanda-tanda bersikeras ingin dia dan James berjodoh, tetapi masalah dia dan James tidak saling kenal dan pertemuan-pertemuan mereka yang tidak terencana itu tidak pernah berhawa positif.

"Sera, sejujurnya Tante ingin sekali menjodohkanmu dengan James." Shinta tiba-tiba berkata. "James sudah tiga puluh tahun, tapi setiap punya hubungan selalu saja gagal. Setidaknya dulu kalian saling kenal, hanya butuh sedikit waktu untuk mengingat dan kembali dekat."

James tidak mungkin setuju. Sera berkata pada diri sendiri, dia pun merasa tidak cocok dengan James.

Sera tidak berkata apa-apa, cuma menghabiskan minuman soda yang tersisa setengah, makan sepotong makaron lemon yang agak asam. Komentar apa pun tentang James jelas-jelas akan semakin memupuk rasa percaya diri Shinta, Sera tahu Shinta dan ibunya ingin membuat dia bersimpati pada James.

"Sera, kau mau mempertimbangkan rencana baik ini, 'kan?" tanya Shinta. "Luna sudah punya pacar baru. Tante sedih sekali, kau pasti bisa membantu James melewati masa-masa buruk ini."

"Luna—? Luna Moreau?" tanya Sera ragu-ragu, dia ingin membuktikan asumsinya. Meskipun menginginkan asumsinya benar, tapi Sera tetap terkejut saat Shinta membenarkan dugaannya.

"Iya, artis itu. Mantan pacar James, tapi aku tidak menyukainya."

Sera tertegun, tidak menyangka Luna Moreau benar-benar mantan pacar James. Luna sekarang berpacaran dengan Dante yang notaben adalah teman James, sialnya lagi, Luna mantan pacar Dante di SMA. Kenyataan sedikit menusuk jati diri Sera yang merasa tak sepadan dengan Luna, artis cantik yang menjadi penggambaran tipe ideal semua laki-laki.

"Sera setuju 'kan?" tanya Shinta pada Sera, tapi Mishil buru-buru menengahi saat Sera terlihat bingung dan terpojok.

"Shinta, ada baiknya rencana ini dibicarakan dulu dengan James."

"Penentuan kita dominankan pada pihak perempuan, karena sering kali pendapat pria lebih diutamakan padahal yang menentang pihak wanitanya."

"Iya, aku tahu, tapi tetap saja anak-anak jaman sekarang tidak bisa terlalu dipaksa. James harus ikut dalam memutuskannya, mereka yang akan menjalani."

"Mishil tenanglah, yang penting Sera setuju dulu. James sih, urusan gampang. Sera, gimana?" tanya Shinta sekali pada Sera.

"Tante Shinta, aku, hhmm—" Sera menatap Ibunya, keputusannya hari akan mempengaruhi masa depan mereka.

Sambil menggenggam jemari yang mendingin, Sera menjawab dengan yakin. "Iya, aku setuju."

"Aku tidak!" sela James.

Semua orang buru-buru berpaling pada sumber suara, obrolan berjeda oleh kepulangan James. Pria itu menatap Sera kelewat lurus, tidak tersenyum, terlalu gamblang mengambarkan ketidak sukaan atas kehadirannya. Namun James otomatis tersenyum saat Niara muncul dari belakang, adik perempuan James yang menyadari kepulangannya semenit kemudian.

"Oh, ada Sera. Halo, Bibi Mishil." Niara mendekat ke beranda sambil menarik James bersama. "Ibu, kenapa tidak bilang kalau Sera dan Bibi Mishil datang?" Niara duduk di samping ibunya, sementara James sedikit dipaksa duduk di sebelah Sera.

"Kenapa ke sini?" tanya James pada Sera, terdengar agak dingin.

"James, apa yang kau bicarakan." Shinta menyela. "Ibu yang mengundang Sera dan Mishil ke sini, lagipula Sera memang boleh ke rumah kita kapan pun."

DARK MOONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang