Sejujurnya James tidak punya kepedulian pada Sera, dia juga tidak ingin bersungguh-sungguh punya hubungan dengan gadis itu. Namun, melihat tingkah Sera tidak konsisten, seenaknya membatalkan pertunangan, berhasil mengusik ketenangan sampai kekesalannya menumpuk, mendadak dia jengkel akan sikap Sera yang seenaknya.
Sera yang datang tiba-tiba dan memulai semua masalah pertunangan, sampai Ibunya percaya mereka punya hubungan. Ibunya telah menyiapkan acara resmi yang akan dilaksanakan saat ayahnya kembali dari Amerika. Egonya terasa tersakiti karena James berpikir, dialah yang akan membatalkan pertunangan bukan Sera.
Memangnya cuma gadis itu yang bisa main-main, dia juga bisa. Keadaan semakin runyam saat James melihat mobil Dante berhenti di area kantornya, dia tak menyangka Dante benar-benar mantan kekasih yang Sera ceritakan tempo hari.
"Jadi, Dante Virendra benar mantan pacarmu?"
"Iya, seperti yang sudah kukatakan padamu tapi kami berdua memutuskan berbaikan. Jadi kita bisa mengakhiri acara pertunangan yang tidak kau inginkan itu."
"Dasar bodoh! Kau tidak punya TV di rumah?" James memperhatikan Sera gelisah diseberang meja. Dia melipat kedua lengan besarnya depan dada, menatap lurus Sera yang tetap bungkam.
"Dante sudah jadian dengan Luna, dan kau memilih balikan dengan keparat itu?" James melihat Sera mengumpulkan kedua tangan di atas pangkuan. Wajah Sera lembab oleh keringat, rambut yang digerai agak kusut, beberapa helai anak rambut jatuh di kening Sera yang putih bersih.
"Kalau bodoh jangan dipelihara. Kau bilang Dante dan Luna sudah menghianati kita berdua, lalu dimana otakmu itu sekarang, hah? Tertinggal di bagasi taksi?"
Sera masih diam saja.
"Ah, kau sudah tidak butuh uangku? Atau Dante telah membayar biaya rumah ayahmu jadi kau sudah tidak membutuhkan pengacara?" James mencebik menatap Sera yang tetap bungkam.
"Mau diam sampai kapan? Aku tidak punya banyak waktu untuk bicara dengan tembok."
Sera otomatis mengangkat pandang. Dia balas menatap James, berusaha keras agar pria itu tidak mengintimidasinya semakin banyak.
"Ibu tidak benar-benar menginginkan rumah kami," katanya. "Ibu ingin pergi dari rumah itu dan aku telah menemukan rumah sewaan yang murah dan layak. Jadi kupikir, aku sudah tidak perlu memanfaatkanmu lagi."
"Oh, jadi kau mau memakai alasan ini untuk membatalkan pertunangan dan kembali ke mantan pacarmu yang berengsek itu?"
"Dia tidak seburuk itu," ucap Sera, nadanya menantang tapi James hanya tersenyum miring.
"Aku tidak peduli masalahmu dengan Dante. Bukan aku yang membutuhkanmu, tapi kau yang membutuhkanku untuk menyelesaikan kasus ayahmu."
Seketika kepala Sera berubah pening, gamang antara kembali pada Dante atau meneruskan kasus warisan ayahnya. Tetapi kemudian kepanikan lain lebih mendominasi, dia ingat waktu James tiba-tiba membawanya pergi padahal Dante ada di sana. Bagaimana kalau Dante marah dan meninggalkannya sungguh-sungguh, berpikir dia punya hubungan serius dengan James.
"Jim, Ibumu akan meresmikan pertunangan setelah ayahmu kembali, aku cemas hubungan kita akan semakin sulit dibatalkan karena orangtuamu sudah meresmikannya. Memangnya kau bisa membantah keputusan Ibumu, bagaimana kalau mereka memaksa kita menikah sungguhan?"
"Oke!" potong James, seraya menegakkan punggung. "Kupastikan sekali lagi. Kau benar-benar ingin ini berakhir dan membatalkan surat tuntutan pada Raina?"
James memperhatikan Sera lebih seksama. Gadis itu mengenakan dress bunga-bunga yang tidak trendi di bawah lutut dan rambut dikuncir kuda, wajah Sera bersih tapi pucat, memangku kotak bekal biru muda. Ponsel Sera bergetar, wajah gadis itu kian pasi begitu membaca pesan.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARK MOON
RomansaDark Moon, kisah pengacara hukum bisnis yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri dan patah hati, didatangi oleh teman lamanya untuk perkara yang tengah melanda perusahaan minyak milik negara, BruteMax Oil. Pengacara James Adhiwangsa, disewa ole...
