"Sera, bangun!"
Guncangan di bahu yang tergesa-gesa membuat Sera menarik diri dari alam bawah sadar. Dia mengintip disela mata yang terlalu berat dibuka, serasa dilumuri pasir, tapi bahunya lagi-lagi diguncang tidak sabaran.
"Bangun, Sera! Bagaimana mungkin kau masih tidur, sementara calon suamimu sudah datang."
"Ibu, ini masih pagi. Tolonglah, aku ingin tidur sebentar lagi." Sera menarik selimut, tapi Mishil malah menarik lengannya.
"Ibu, ini masih pagi. Tolonglah, aku ingin tidur sebentar lagi." Sera menarik selimut, tapi Mishil malah menarik lengannya.
"Lihat, kau pengangguran tapi jam segini masih sulit dibangunkan. James yang sibuk sudah rapi dan menunggumu di depan, kondisi macam apa ini?" Mishil berkacak pinggang. "Kau tidak malu dengan calon suamimu, hah?! Astaga putriku masih kacau begini, cepat mandi!"
Bukannya menggubris ibunya, Sera malah cuma duduk dalam kebingungan.
"James?" tanyanya lebih kepada diri sendiri bukan ibunya, melirik jam di nakas baru menunjuk pukul 7 kurang 15 menit.
"Iya, James, dia datang menjemputmu yang ternyata masih tidur."
"Kenapa dia pagi-pagi ke sini?" tanya Sera penuh curiga, yakin sang ibu memakai nama James agar dia cepat bangun dan tidak tidur lagi.
"Sudahlah jangan banyak tanya, ayo, Sera. Jangan bikin malu-hei mau ke mana?" Mishil tidak sempat menahan Sera yang tiba-tiba bergegas keluar kamar dengan rambut berantakan.
"Ibu, mana mungkin James ke sini pagi—pa-gi...." Suara Sera meredup, menatap seorang pria dalam pakaian formal, rambut ditata rapi, duduk di kursi depan seraya tersenyum kepadanya.
"Hai! Baru bangun?" sapa James, lembut dan halus.
Sera memaku, aliran darahnya naik dan mendarat di kepala. Sadar piyamanya miring, rambut megar dan wajahnya pasti berminyak. Si buruk rupa bertemu pangeran tampan di pagi hari-suara fiksi bergema di kepalanya.
Oh tidak!—pekik Sera dalam hati, buang muka secepat cahaya dan masuk lagi ke kamar.
"Ibu, kenapa tidak bilang kalau ada James!" Sera meraih handuk, cemberut melihat ibunya cuma memutar bola mata ke langit-langit. "Dia pasti akan mengejekku setelah ini," tukasnya sebelum hilang di balik pintu kamar mandi.
Sera membutuhkan waktu 15 menit untuk mandi, mengeringkan rambut segera sambil berdiri bingung depan lemari pakaian. Suara mesin hair dryer memenuhi kamar, di antara nada pesan ponsel yang tergeletak di nakas. Pesan dari James.
Tujuh menit, hari ini temani aku kerja.
Bagaimana caranya dandan dalam tujuh menit, gerutu Sera, melukis alis saja butuh dua menit. Sera mendengus kesal, mengabaikan pesan itu dan siap-siap selama yang dia butuhkan.
Di luar Mishil menuang teh hangat untuk James meski James sempat menolak, sungkan sebab putrinya membuat James menunggu lama. Dia duduk di seberang meja, menatap penasaran, mengingat kedatangan James memang terlalu pagi. Pria itu muncul di muka pintu pukul 6.30, untung saja Mishil sudah mandi dan rapi saat menyambut kedatangan James yang tak tertuga.
"Memangnya kalian mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Mishil.
"Sera belum dapat pekerjaan, kupikir mengajaknya ke kantor supaya tidak bosan di rumah. Dia bisa mengerjakan hal-hal kecil di sana untuk membangun kepercayaan diri, jadi saat Sera dapat kerja nanti sudah tidak terlalu canggung dengan suasana kantor."
KAMU SEDANG MEMBACA
DARK MOON
RomansaDark Moon, kisah pengacara hukum bisnis yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri dan patah hati, didatangi oleh teman lamanya untuk perkara yang tengah melanda perusahaan minyak milik negara, BruteMax Oil. Pengacara James Adhiwangsa, disewa ole...
